Apa Urusan-Mu Dengan Kami Hai Anak Allah? (2 Juli 2014)

Am. 5: 14=15;21-24
Mat. 8:28-34

Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Dan mereka itu pun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?" Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Untuk direnungkan

Gadara adalah daerah di sebelah timur danau Galilea. Daerahnya berbatu karang, berkapur dan banyak terdapat gua-gua. Gua-gua itu dipakai sebagai pekuburan, sehingga nampak angker terutama waktu malam. Sebab menurut keyakinan orang, kuburan adalah tempat tinggalnya roh jahat.

Dalam injil hari ini dikisahkan, dua orang yang kerasukan roh jahat datang dari kuburan itu menemui Yesus dan berteriak: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Orang yang kerasukan roh jahat itu mengenal baik kalau Yesus adalah Mesias, Anak Allah. Sementara itu ada keyakinan umum, kalau Mesias datang pada hari penghakiman. Ia akan datang untuk membinasakan semua roh jahat. Karena itu orang yang kerasukan itu mempertanyakan kalau-kalau Yesus mau menyiksa mereka sebelum waktunya, sebab hari penghakiman belum dinyatakan. Maka untuk menyembuhkan mereka Yesus perlu mengeluarkan roh jahat itu dari mereka.

Yesus membiarkan roh jahat itu merasuki kawanan babi ketika mereka mengatakan: “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” Mereka pun melihat bahwa roh jahat itu telah berpindah ke babi-babi yang terjun ke dalam danau dan mati. Penglihatan itu telah meyakinkan mereka sehingga sembuh. Namun para penjaga kawanan babi pergi menceriterakan kepada orang-orang kota dan mereka mendesak Yesus meninggalkan daerah itu. Orang-orang kota itu tidak peduli terhadap kesembuhan dua orang yang kerasukan setan itu, tetapi hanya peduli dan menyayangkan babi-babi mereka yang telah binasa.

Suster, ibu bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,  tidak jarang kita tak mau menolong kawan karena merugikan saja, pada hal kita saksi-saksi Kristus. Bapa kita St. Fransiskus mengingatkan: “Berbahagialah hamba, yang mengumpulkan harta di surga, apa yang baik yang dianugerahkan Tuhan kepadanya dan yang tidak ingin dipamerkannya kepada orang-orang sebagai kedok bagi suatu imbalan, sebab Yang Mahatinggi sendiri akan menyatakan karya-karya-Nya kepada siapapun juga Ia berkenan” (Petuah XXVIII,1-2).

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar