Merencanakan Pembelajaran yang efektif (part 1)

Pada suatu hari, saat guru memasuki ruangan kelas, didapatinya hampir semua muridnya belum siap mengikuti pelajaran. Sebagian masih asyik mengerjakan soal yang belum terselesaikan dari jam pelajaran sebelumnya. Sementara ada sekelompok anak justru masih asyik berbincang-bicang. Bahkan beberapa anak laki-laki sedang bersendau gurau dengan saling lempar kertas menambah gaduh suasana kelas. Saat guru masuk dan duduk di kursi guru, ternyata tidak banyak mengubah suasana.

Sambil menahan kejengkelan, ia berusaha diam sebentar. Karena tidak juga mendapat perhatian, kemudian ia pun berkata dengan nada tinggi, ”OK, saya siap menunggu sampai kalian semua puas. Bahkan sesungguhnya bagi saya tidak menjadi masalah besar kalau hari ini tidak ada pelajaran sekali pun. Seandainya tanpa pelajaran pun saya sudah menguasai materi yang seharusnya kita bahas bersama. Bukan saya yang membutuhkan pelajaran ini. Jadi terserah kalian mau pelajaran atau tidak. Saya menunggu jawaban kalian. Mau pelajaran tidak?”

“Pelajaran pak.” Tentu saja jawaban itulah yang akan terdengar dari para murid. Memang benar, kemudian kelas menjadi sepi, bahkan bisa dibilang sunyi. Hanya suara guru yang terdengar hingga bel pelajaran berakhir. Berhasilkah proses pembelajaran ini? Saya berani jawab pasti tidak. Seberapa banyak hasil belajar siswa? Saya yakin tidak terlalu banyak.

Di kelas sebelah ternyata terjadi peristiwa yang sama. Saat guru masuk kelas, anak-anak masih ribut dan tidak mempedulikan guru. Setelah diam sejenak, sang ibu guru pun segera  mulai mengajar tanpa mau mempedulikan kesiapan anak-anak untuk mendengarkan pengajarannya. “Nanti kalau nilaimu jelek baru tahu rasa kalian.” Itulah suara yang bergema di dalam kepalanya. Maka ia terus mengajar sekali pun ia tahu persis tak ada siswa  yang memperhatikannya.

Tanpa disadari roman mukanya tidak mampu menyembunyikan ketegangan, sehingga kurang sedap dipandang. Karena sambil menahan marah maka kalimatnya pun tidak tertata dengan baik, tidak runtut dan sulit dipahami. Suaranya pun  tidak jelas. Anak-anak semakin cuek dan ngobrol sendiri meski dengan suara yang lebih pelan. Berhasilkan proses belajar mengajar semacam ini? Saya yakin tidak. Banyakkah hasil belajar yang didapat para siswa? Saya yakin dan percaya tidak akan banyak.

Dari dua kejadian di atas apa yang bisa kita pelajari? Keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar sangat tegantung pada kesiapan para siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Sebagai guru bagaimana kita mempersiapkan kegiatan pembelajaran kita?

Laksana makan es krim. Saat menjilat pertama kali kita akan merasakan kesejukan dinginnya es. Tentu saja sulit bagi kita melawan godaan untuk tidak meneruskan jilatan berikutnya. Ada rangsangan yang  menggelitik panca indera kita. Ada tantangan yang menggoda. Ada sensasi kenikmatan yang mendorong kita untuk melanjutkan jilatan kita.  Inilah bagian membuka kegiatan belajar mengajar. Jilatan selanjutnya kita akan mencecap manisnya gula. Inilah bagian inti kegiatan belajar mengajar. Dan pada bagian akhir kita akan merasakan kesegaran menjalar dalam seluruh tubuh kita. Timbul kerinduan untuk mengambil es cream berikutnya. Inilah bagian penutup. Mengingat arti pentingnya tiap bagian, maka setiap bagian perlu direncanakan dengan baik.

Melalui beberapa tulisan, saya mencoba akan berbagi pemahaman. Sekali pun banyak mengutip dari Injil tentu tidak dimaksudkan  sebagai sebuah kebenaran final. Sebaliknya harapannya hanya sebagai inspirasi yang dapat memicu Anda semua untuk mau berbagi pengalaman dan pengetahuan. Mari berkembang bersama dengan belajar bersama. Salam.

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar