Membuka Pelajaran (part 2)

Laksana makan es krim. Saat menjilat pertama kali kita akan merasakan kesejukan dinginnya es. Tentu saja sulit bagi kita melawan godaan untuk tidak meneruskan jilatan berikutnya. Ada rangsangan yang  menggelitik panca indera kita. Ada tantangan yang menggoda. Ada sensasi kenikmatan yang mendorong kita untuk melanjutkan jilatan kita.  Inilah bagian membuka kegiatan belajar mengajar.

Membuka pelajaran menjadi peristiwa yang sangat penting dan menentukan dalam proses pembelajaran. Intinya adalah bagaimana kita berupaya mendorong dan memotivasi siswa untuk belajar dengan semangat. Bagaimana Yesus memulai pengajaran-Nya?

Semua pengarang injil, baik Matius, Markus, Lukas maupun Yohanes menceritakan gambaran yang sama mengenai situasi pengajaran Yesus. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti kemana pun Yesus pergi. Mereka datang dari berbagai daerah sebagaimana disebutkan dalam Mat. 4:25: maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yudea.

Dari sisi jumlah pun luar biasa. Tidak cukup ratusan, melainkan ribuan. Kita ingat dalam peristiwa penggandaan lima roti dan dua ikan, Yesus telah memberi makan lebih dari lima ribu orang. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Mat.14:21. Itu artinya yang hadir lebih dari lima ribu orang.

Yesus selalu dikerumuni orang banyak saat mengajar. Baik ketika mengajar dalam Bait Allah, di atas bukit atau pun di tepi danau. Maka dapat dimengerti kalau kemudian Markus menggambarkan betapa penuhnya ruangan saat Yesus mengajar. Di Kapernaum misalnya. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak (Mrk. 2:2). Di kisahkan orang harus membuka atap dan menurunkan si lumpuh bersama pembaringannya untuk dapat sampai di hadapan Yesus.

Sungguh dengan mudah kita dapat membayangkan kegaduhan yang ada di sekitar Yesus. Bagaimana mungkin Yesus dapat melaksanakan pengajaran-Nya dalam situasi yang hiruk pikuk seperti itu? Belum lagi manakala kita membayangkan saat Yesus mengajar dari atas perahu sementara para pendengarnya berdiri di tepi danau (Luk. 5:3). Atau saat mengajar di atas bukit. Tentu saja para pendengar-Nya akan tersebar sampai di tempat yang agak jauh. Padahal saat itu jelas belum ada pengeras suara. Maka sungguh mengherankan ketika kita membaca kesan para pendengar-Nya. Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya.(Mat.7:28) Atau dalam Mat.13:54, Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?”

Kesan pendengar yang semacam ini hanya mungkin terjadi kalau pengajaran Yesus bisa ditangkap dengan baik oleh para pendengar-Nya. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? Tidakkah ini luar biasa? Apa resepnya?  Hemat saya, paling tidak ada  2 hal pokok yang bisa kita perlajari, yaitu:

  1. Kondisioning : Mencuri perhatian pendengar, metode tambatan lokasi
  2. Orientasi, Apersepsi dan Motivasi : Hook, Menggali pengetahuan awal siswa, Menyajikan ilustrasi, Mengajukan pertanyaan, dan Mengajukan kasus

Pada tulisan berikutnya akan kita uraikan satu persatu.

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar