Pesan Tanpa Kata (part 4)

Michael Grinder, direktur Educational Neuro-Linguistics, mengatakan bahwa, “Jika guru secara konsisten menggunakan tindakan nonverbal tertentu dengan sebuah konsep atau ide, maka tindakan nonverbal akan terasosiasi dengan konsep itu.” (Grinder,1991, h.165, Quantum teaching, 133)

Marilah kita cermati tiga ayat berikut:

  1. Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka,… Mat.5:1-2
  2. Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Mat.13:1-3
  3. Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Mat.24:3    

Dari tiga kutipan di atas nampak ada langkah-langkah yang tetap. Ada urutan prosesi ritual yang sama dalam memulai pengajaran. Dimulai dengan berpindah ke tempat yang strategis, entah itu di atas bukit ataupun di atas perahu.  Kemudian duduk dengan tenang. Perpindahan Yesus ke tempat yang lebih tinggi ini nampaknya mampu menarik perhatian para pendengar-Nya. Dengan perpindahan ini Yesus mencoba mencuri perhatian para pendengar-Nya. Ia ingin semua perhatian tertuju kepada-Nya. Kemudian duduk dan baru mulai mengajar. Ritual ini selalu tetap sehingga dikenali para murid-Nya. Sewaktu Yesus duduk di tempat yang tinggi itu artinya Yesus akan mulai mengajar. Maka datanglah mereka mendekat. 

Nampak di sini bahwa sudah ada kesepahaman antara Yesus dan para pendengar-Nya. Yesus menunjukkan bahwa saat Ia berdiri dan berjalan ke tempat yang lebih “tinggi” berarti Yesus telah menyampaikan pesan bahwa Ia akan mulai mengajar. Ketika kemudian Yesus duduk, pesan yang disampaikan adalah “Ayo perhatikan pengajaran akan segera dimulai.” Pesan tanpa kata-kata ini ternyata lebih ampuh dari pada dengan cara kekerasan verbal sebagaimana ilustrasi di awal bab ini.  

Dalam Quantum Teaching kita mengenal istilah tambatan. Penambatan dari neuro-linguistik dapat didefinisikan sebagai tanggapan terasosiasi terhadap rangsangan yang diberikan. Ada beberapa jenis tambatan seperti tambatan pribadi, tambatan lokasi, dan tambatan lisan. (quantum teching hal133-137). Apa yang Yesus lakukan di atas lebih tepat dikatakan menggunakan  tambatan lokasi. Yesus naik ke tempat yang lebih tinggi supaya Ia dapat melihat dan terutama dapat dilihat oleh semua pendengar-Nya. Hanya dengan demikian Ia dapat menjadi pusat perhatian. Yesus berusaha mencuri perhatian para pendengar-Nya.

Ritual berikutnya adalah Yesus kemudian duduk dengan tenang. Setelah semua mata tertuju kepada-Nya, barulah Yesus mulai mengajar. Dengan perhatian yang penuh, setiap kata dapat didengar dengan jelas dan tertangkap maknanya dengan benar. Manakala guru telah berhasil mencuri perhatian siswa-siswinya, barulah Ia mulai mengajar. Sebagaimana Yesuspun  menganggap perlu untuk memusatkan perhatian murid-murid-Nya agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Hanya dengan demikian proses pembelajaran tidak berlalu sia-sia.

Dewasa ini anak-anak kita memiliki kecenderungan sulit untuk fokus pada pelajaran yang sedang diikuti atau dijalaninya. Dengan demikian menjadi tantangan tersendiri bagi guru untuk mempersiapkan siswanya dalam mengikuti pelajaran. Sesungguhnya kita sering tidak sabar untuk menanti dan mengupayakan kesiapan para siswa untuk mengikuti pelajaran. Tidak jarang kitapun menutup mata atas ketidaksiapan mereka. Kalau nanti nilainya jelek baru tahu rasa itulah suara yang bergema dalam hati kita. Bukankah dengan demikian tanpa kita sadari kita sebagai guru telah mengharapkan hasil negatif dari para murid kita?

Belajar dari Yesus Sang Guru sejati kita pun dapat mengatur ruang kelas kita menjadi tempat-tempat yang bermakna. Meja guru menjadi tempat bagi kita untuk mengerjakan tugas-tugas administrasi. Di sanalah kita mencatat absensi, mengambil penilaian dan sebagainya.  Bagian depan kelas merupakan tempat informasi. Di sanalah tempat guru memberikan penjelasan, menyampaikan informasi ataupun menyampaikan instruksi. Ruangan kelas, disela-sela kursi meja anak-anak adalah tempat interaksi. Di sanalah kita dapat menjalin relasi secara lebih personal dengan tiap anak. Menjadi kesempatan bagi guru untuk melakukan pendampingan pribadi bagi anak-anak yang mengalami kesulitan. Menjadi kesempatan bagi guru untuk “menegur” anak yang kurang perhatian tanpa harus dengan kata-kata yang seringkali justru membuat malu atau menimbulkan penolakan atau bahkan kebencian dalam diri anak.

Kita pun dapat memilih sudut kanan bagian depan kelas  sebagai tempat penegasan. Di sanalah tempat guru menyampaikan poin-poin penting, entah itu konsep atau pun rumus-rumus. Sedangkan sudut kiri depan dapat kita gunakan untuk menanamkan nilai-nilai lewat cerita-cerita ringan yang menyegarkan.

Demikianlah kita dapat menggunakan seluruh ruangan kelas dengan penuh makna. Tentu saja ini perlu dikomunikasikan pada awal tahun ajaran sehingga siswa mengerti. Saat kita berdiri di depan kelas, itulah saatnya mereka harus mendengarkan informasi yang akan disampaikan guru, saat kita berkeliling itulah saatnya bagi mereka bertanya secara pribadi, saat kita berada di sudut kanan itulah saatnya mereka mencatat poin penting dan saat kita berada di sudut kiri depan itulah saat mereka bersantai dan mencecap nasehat-nasehat  Anda. Tentu saja menjadi penting bagi kita untuk tetap konsisten dengan penggunaan ruang ini. Anda berminat untuk mencoba?

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar