Tidak ada Nabi yang dihargai di tempat asalnya

1 Kor. 2:1-5                                                                                                          Senin, 1 September 2014

Luk.4:16-30

------------------------

Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: "Bukankah Ia ini anak Yusuf? Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum! Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu." Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

Renungan

Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, pengalaman saya menunjukkan bahwa tidak semua perbuatan baik kita akan ditanggapi dengan baik pula. Masih lumayan jika hanya ditanggapi biasa-biasa saja, ekstrimnya sangat mungkin justru penolakan atau bahkan aroma permusuhan yang akan kita terima.  Pertanyaannya adalah, pada saat seperti itu, apa yang akan kita lakukan? Kebanyakan dari kita merasa kecewa, tersinggung, marah, putus asa, benci atau bahkan sampai dendam yang tertanam dalam hati kita. Bisa jadi kemudian kita akan menyusun rencana dan  mencari kesempatan untuk membalas penolakan mereka. Minimal kita akan menghentikan perbuatan baik kita, menjadi masa bodoh atau bahkan kemudian mengabaikan kewajiban kita. Jika ini semua yang kita lakukan, maka sesungguhnya sia-sia sudah perbuatan baik  yang telah kita lakukan.

Yesus sendiri mengajarkan kepada kita untuk tetap setia dan tetap berbuat baik, meski penolakan dan pengkhinatan yang kita terima. Kebaikan yang kita perjuangkan, bukanlah demi mencari kesan, tanggapan, balasan atau kebaikan yang sama. Hal-hal baik yang yang kita lakukan semuanya demi Dia yang telah mengutus kita. Penegasan Yesus akan kehadiran Roh Kudus yang menaungi-Nya dalam tindakan dan pengajaran-Nya mau membawa para pendengarnya untuk lebih mencermati kuasa Ilahi yang bekerja dalam dan melalui diri-Nya. Namun demikian, kebanyakan pendengar Yesus tidak mampu menyadari ini semua dan lebih cenderung mengambil sikap menolak. Karena itu, kebaikan sejati tak akan mempedulikan bagaimana respon orang lain, melainkan lebih pada apakah yang kita lakukan sudah berkenan kepada Allah. Dengan dasar ini, kita tak akan menjadi sakit hati, kecewa patah arang untuk terus melakukan kebaikan bagi semua orang. Maka menjadi penting untuk memurnikan motivasi dengan cara melibatkan Allah dalam setiap tindakan kita.

Marilah kita meneladan Bapa Fransiskus Assisi dan Ibu Magdalena Daemen yang tetap teguh dan setia meskipun banyak hambatan yang harus dihadapinya. Bukan hanya dari orang lain, tetapi juga dari keluarganya sendiri. Bapa Fransiskus harus melepaskan hak waris keluarga demi tetap setia menjalankan tugas perutusannya. Ia harus bertentangan dengan ayahnya sendiri. Pada akhirnya waktu juga yang akan memberikan jawabannya. Satu hal yang perlu digarisbawahi, Nabi sejati diutus kepada orang asing. Itulah yang diwartakan oleh Injil hari ini. Elia diutus pada janda di Safrat, Elisa kepada Naaman, orang Siria dan Yesus kepada orang-orang bukan sekampung-Nya. Kita semua dipanggil menjadi nabi, pertama-tama bagi orang-orang yang kita anggap asing. Orang-orang asing bukan hanya mereka yang tinggal jauh dari kita. Mereka bisa ada di sekitar kita: orang-orang miskin, para tawanan dan orang sakit. Apakah aku sudah menjadi nabi bagi mereka? Jika belum, maukah kita terus mengupayakannya?

Marilah Berdoa:

Allah Bapa di surga, St. Paulus telah melaksanakan tugas pewartaan iman dengan kuasa-MU yang menjadi kekuatannya. Teguhkanlah imanku di saat aku lemah karena diperdaya oleh kenikmatan dunia. Ajarilah aku untuk percaya bahwa Engkau mampu memberikan apa yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Amin.

Sumbangan dari TK Marsudirini Bekasi

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar