“Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam”

1Kor. 3:18-23                                                                                                                                                                            Kamis 4 September 2014 

Luk. 5:1-11

-----------------

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

 

Renungan

“Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam” Demikianlah perintah Yesus kepada Simon setelah seharian Simon mencari ikan tetapi tak seekor ikan pun yang ia dapatkan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, “tempat yang dalam”  menggambarkan suatu tempat, situasi atau kondisi yang penuh dengan tantangan, ancaman, resiko dan ketidakpastian, tetapi juga menyimpan sebuah peluang keberhasilan yang besar. Banyak di antara kita yang hanya mau berhenti di tempat yang tidak terlalu dalam, karena sedikit resiko, sehingga merasa nyaman, sudah puas dengan apa yang sudah dikuasainya. Sebagai seorang pelajar kadang kita enggan bertolak ke tempat yang lebih dalam. Misalnya  enggan memberanikan diri dalam berpendapat, kita malas mencari sumber pembelajaran, kita mudah mengeluh dengan tugas-tugas yang diberikan guru. Selagi rasa takut dan malas itu masih menyelimuti diri kita, selama itu pulalah kita tidak akan menemukan peluang untuk sebuah keberhasilan yang lebih besar.

Kesetiaan dan keberanian Simon dalam menanggapi perintah Yesus untuk bertolak ke ”tempat yang lebih dalam” telah membawa sebuah keberhasilan dan perubahan  besar dalam hidupnya. Kiranya melalui bacaan injil hari ini kita diajak untuk meyakini bahwa ukuran logika dan kebiasaan manusia tidak bisa dipakai untuk mengukur kemungkinan-kemungkinan yang datang dari Allah. Petrus dan teman-temannya mencari ikan dengan kebiasaan dan logika yang mereka miliki. Namun, Yesus menunjukkan kepada mereka ada kuasa yang mengatasi kebiasaan dan logika mereka.

Suster, bapak,  ibu dan anak-anak yang terkasih, menyadari berkat yang melimpah, Simon sadar perahunya akan tenggelam jika ia memuat seluruh tangkapannya ke dalam perahunya sendiri. Maka Simon memanggil kawan-kawannya. Kesediaan Simon untuk berbagi hasil tangkapan ini mengajarkan kepada kita untuk tidak menyimpan bagi diri sendiri ketika Tuhan melimpahi kita dengan berkat-Nya yang melimpah. Sebab apa bila demikian, maka jala kita akan koyak dan perahu kita akan tenggelam. Jala dan perahu menggambarkan daya tampung yang kita miliki atas berkat Tuhan. Kalau di rumah kita memiliki banyak makanan, hendaknya kita mau berbagi, karena perut kita juga memiliki daya tampung yang terbatas. Bila kita diberi kemampuan dan kepandaian yang lebih, hendaknya kita pun juga mau berbagi dengan  membantu teman-teman  yang masih mengalami kesulitan. Sebab ketika kita mau berbagi berkat Tuhan kepada orang lain, kita tidak akan pernah kekurangan suka cita. Sebaliknya, hati kita akan semakin berlimpah dengan  penuh syukur, sebab orang lain ikut merasakan berkat yang kita terima dari Tuhan.

 

Marilah kita berdoa :

Ya Yesus, kami bersyukur atas berkat-Mu yang melimpah kepada kami. Berilah semangat pada kami agar dengan rendah hati mau berbagi dan kami semakin setia dan berani menghadapi segala bentuk tantangan dalam kehidupan. Amin.

 

Sumbangan dari TK dan SD  Marsudirini Bekasi

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar