Hal Berpuasa

1Kor. 4:1-5                                                                                                                                                                                             Jumat, 05-09-2014

Luk. 5 : 33 – 39

--------------------

Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa." Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."

Renungan

Ada banyak motif orang berpuasa, misalnya agar badannya langsing, agar dapat mengendalikan hawa nafsu, agar sikap peka terbentuk dalam dirinya, atau bisa juga sebagai upaya untuk mendapatkan sesuatu yang diidam-idamkannya. Orang Yahudi berpuasa untuk mengungkapkan rasa duka cita, rasa sedih, rasa sesal atas dosa-dosa mereka, dengan suatu harapan dapat memulihkan kembali citra buruk hidup mereka. Memulihkan citra buruk hidup dapat diartikan sebagai upaya memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhannya. Dalam konteks inilah, Yesus  melalui bacaan Injil hari ini mau menyampaikan makna puasa yang sesungguhnya. Yesus membiarkan murid-murid-Nya tak berpuasa selagi Ia masih berada di tengah-tengah mereka. Selagi pengantin itu berada di tengah-tengah para sahabat-Nya, mereka boleh makan-minum dan bersuka cita. Kebersamaan dengan Yesus, sudah sepatutnya disyukuri dan dirayakan dengan ungkapan sukacita. Inilah juga ungkapan cinta Allah yang luar biasa, manusia diperkenankan untuk berbahagia dan bersukacita ketika mengalami kehadiran dan kebersamaan dengan Allah. Sebaliknya jika para sahabat-Nya berpuasa selagi Yesus ada bersama mereka, maka puasa mereka jadi kehilangan makna. Tidak ada yang perlu diperbaiki sebab mereka masih menjalin relasi yang baik dengan Tuhan.

Yesus memberikan sebuah penjelasan secara sederhana bahwa seorang murid ada masanya untuk berpuasa tetapi ada juga masanya untuk berpesta. Artinya ada kalanya seorang murid itu harus berduka, seperti berpuasa, karena berbagai tantangan yang harus dihadapinya. Namun ada masanya juga untuk bergembira bersama Tuhan karena mengalami kasih dan kebaikan-Nya. Dua sisi kehidupan ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dan saling melengkapi. Ketika menghadapi berbagai kesulitan kita akan tetap dikuatkan, karena adanya sebuah harapan akan datangnya kegembiraan dan kebahagiaan dari Tuhan. Semoga kita akhirnya boleh menyucikan  hati dan hidup kita demi mencapai kehidupan yang lebih baik dan berkenan di hadapan Allah. Dalam artian ini maka puasa menjadi lebih bermakna. Yesus mengajar kita untuk tetap memupuk semangat tobat lewat puasa. Hanya dengan cara inilah kita ikut ambil bagian dalam sengsara dan wafat Tuhan sendiri.

Doa :

Tuhan Yesus, berilah aku rahmat-Mu agar bisa bangkit kembali untuk memupuk semangat berpuasa di dalam diriku. Dan setiap kali aku berpuasa, anugerahilah aku rahmat pertobatan dan kedekatan dengan Engkau. Amin.

 

 

Sumbangan dari TK dan SD Marsudirini Bekasi

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar