Renungan 8-14 September 2014

Senin, 8 September 2014

Mi. 5:2-5a

Mat. 1:1-16;18-23

Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas dari rahab, Boas memperanakkan Obed dari rut, Obed meperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud, raja Daud memperanakkan salomo dari istri Uria, Salomo meperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa, Asa meperanakkan Yosafat, Yosafat meperanakkanYoram, Yoram memperanakkan Uzia, Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia, Hizkia memperanakkan Manashe, Manashe memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor, Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita.

 

Renungan

Bunda Maria dilahirkan dari keluarga sederhana. Ayahnya bernama Yoakim dan ibunya bernama Anna. Dalam tradisi Kristiani keluarga Yoakim dan Anna digambarkan sebagai  keluarga yang sangat saleh. Oleh kedua orang tuanya Maria sejak kecil sudah diserahkan kepada pemuka agama dan dipersembahkan kepada Allah. Citra Maria yang demikian bisa diterima mengingat peranan khususnya  sebagai “Bunda Mesias” yang disandangnya. Bagi “Sang Mesias” Tuhan telah menyiapkan “Wadah” atau tempat khusus sebagai sarana kehadiran-Nya. Sebagai pribadi yang suci, murni, jujur serta rendah hati Maria diperkenankan mengandung Immanuel dari Roh Kudus. “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu.” Itulah jawaban Bunda Maria saat menerima tawaran untuk menjadi Bunda Sang Penebus Dunia. Bunda Maria telah menyerahkan seluruh hidupnya bagi Sang Mesias. Maka dari itu Maria sungguh menjadi contoh, menjadi teladan bagi kita dalam hal kesucian serta penyerahan dirinya secara total kepada Tuhan.

Sekarang ini citra kemurnian atau kesucian harus kita perjuangkan. Kita memang tak bisa menyamai Bunda Maria, namun kita bisa meniru semangatnya, kesuciannya, kerendahan hatinya, penyerahan dirinya kepada penyelenggaraan Tuhan.  Marilah kita selalu terus berusaha menjaga kemurnian hati kita dan rela dilahirkan kembali menjadi pribadi yang suci, serta selalu hidup di dalam tangan-Nya.

 

Marilah kita berdoa :

Ya Tuhan, tuntunlah kami agar kami bersikap dan berlaku jujur dan rendah hati seperti yang diteladankan Santa Perawan Maria. Amin.

Sumbangan dari SD Marsudirini Bekasi

 

1Kor. 6: 1-11                                                                                                                                     Selasa, 9 September 2014

Luk 6:12-19

----------------

Sekali peristiwa Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Keesokan harinya, ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya dan memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebut-Nya rasul. Mereka itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Andreas, saudara Simon. Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi penghianat. Lalu Yesus turun bersama mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah besar murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem, dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang kerasukan roh-roh jahat mendapat kesembuhan. Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia, sebab daripada-Nya keluar suatu kuasa, dan semua orang itu disembuhkan-Nya.

Renungan

Manusia selalu dihadapkan pada banyak pilihan. Mulai dari hal-hal kecil sampai hal besar yang sangat penting dan menentukan dalam hidupnya. Dalam hal kecil memilih dapat kita lakukan dengan mudah.  Sebaliknya kita akan kesulitan memilih bila dihadapkan pada pilihan yang penting dan menentukan. Perlu permenungan dan pemikiran mendalam, bahkan kalau perlu meminta pertimbangan kepada orang lain. Sebab bila kita tidak hati-hati, maka pilihan itu bisa salah.

Dalam Injil hari ini dikisahkan bagaimana Yesus memilih para Rasul-Nya. Ketika mau memulai karya-Nya, Yesus memilih beberapa orang yang akan menjadi murid-Nya. Mereka akan bersama dengan Dia dalam  mewartakan kabar gembira kepada orang banyak. Yesus tidak asal memilih. Dia memilih siapa yang layak menjadi murid-Nya. Sebelum menjatuhkan pilihan itu Yesus terlebih dahulu menyepi dan berdoa bahkan sampai semalaman untuk mencari kehendak Bapa, sehingga pilihan Yesus adalah pilihan Bapa. Apa yang diputuskan oleh Yesus berkenan di hati Bapa-Nya. Yesus memilih dua belas Rasul bukan berasal dari tokoh-tokoh penting di masyarakat, melainkan orang-orang miskin dan sederhana. Para nelayan salah satunya. Orang-orang sederhana ini biasanya hidupnya memang sungguh menggantungkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi. Mereka telah memiliki semangat bekerja keras, rela berkorban, kepedulian, kesediaan untuk menjalani hidup prihatin dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang dipilih Yesus merupakan orang-orang yang sudah teruji sehingga sudah siap untuk melaksanakan kehendak Tuhan.

Tuhan juga mengajak dan memanggil kita semua untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan-Nya, antara lain menyembuhkan orang-orang sakit.  Baik sakit fisik, sakit jiwa ataupun sakit hati. Tentu saja termasuk penyakit dalam diri anak-anak yang masih  memprihatinkan sampai saat ini yaitu kemalasan, kurang peduli dan kurang sopan terhadap orang lain. Maka marilah kita sembuhkan penyakit-penyakit tersebut. Mari kita tanggapi panggilan Tuhan dengan menjadi lebih peduli, lebih sopan dan lebih rajin.

Melalui Injil hari ini,Yesus juga memberikan teladan kepada kita untuk berdoa. Dalam hidup dan karya-Nya, Yesus melaluinya di dalam doa. Kita juga hendaknya belajar menjadi pendoa. Dengan doa kita akan mampu melakukan segalanya. Bahkan apa yang tidak mungkin dikerjakan, dengan doa akan mampu kita kerjakan. Untuk itu, di tengah kesibukan hidup sehari-hari, kita hendaknya selalu mengupayakan untuk bisa menarik diri dan DIAM SEJENAK, untuk berdoa dan mencari kehendak Tuhan.

Marilah kita berdoa :

Ya Yesus, bimbinglah kami agar kami semangat dalam berusaha dan mampu menjadi alat-mu dalam karya keselamatan-Mu di dunia zaman ini. Amin .

 

Sumbangan dari SD Marsudirini Bekasi

 

 

1 Kor. 7:25-31                                                                                                                                   Rabu. 10 september 2014

Luk. 6: 20-26

-----------------

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

Renungan

Siapa yang tidak mau kaya? Siapa yang tidak mau punya uang banyak? Nyatanya banyak hal bisa kita lakukan bila kita punya uang. Sebaliknya banyak hal sering tidak bisa kita lakukan karena tidak ada uang. Jika demikian, mengapa Yesus hari ini bersabda berbahagialah kamu hai yang miskin? Mengapa yang miskin, lapar, menangis, dibenci, dikucilkan dan ditolak justru yang berbahagia? Bahkan dipertegas lagi dengan ungkapan celakalah kamu yang kaya, yang kenyang, yang tertawa, dan yang dipuji. Tidakkah ini aneh? Rasanya memang aneh apa yang disabdakan Yesus hari ini.

Suster, ibu, bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, Sabda Yesus yang kita dengar hari ini terasa aneh karena kita berada pada tatanan sosial yang berbeda. Hari ini kita berada pada tatanan sosial yang menganggap bahwa harta kekayaan sebagai ukuran. Tatanan sosial yang menuntut adanya biaya dan fasilitas untuk dapat melakukan sesuatu. Lalu apa yang Yesus inginkan dengan sabda ini?

Nampaknya Yesus sedang memperjuangkan suatu pembalikan nilai dalam kehidupan sosial manusia. Bagi kita sekarang ini, sabda bahagia ini menjadi catatan kritis. Tentu saja Yesus tidak bermaksud untuk melecehkan orang kaya. Yesus juga tidak mengatakan bahwa orang miskin lebih baik dari orang kaya. Akan tetapi, Yesus membuat suatu pembalikan nilai, bahwa kerajaan Allah berarti suatu masyarakat baru: Allah memberkati kaum miskin, tetapi bukan kemiskinan. Saatnya bagi si kaya untuk lebih peduli kepada mereka yang kurang beruntung. Harta yang kita punya merupakan bukti kemurahan Tuhan kepada kita. Disamping untuk fasilitas hidup tentu  juga menjadi sarana untuk berbuat kebaikan. Semakin banyak harta kita semakin mudah bagi kita untuk berbuat kebaikan. Sementara bagi yang miskin, diminta tidak banyak mengeluh. Selalu percaya dan tetap setia dalam keterbatasan. Tuhan memiliki rencana indah atas hidup kita.

Ibu Magdalena Daemen mengajarkan, “Hendaknya kita bergembira bila kita mendapatkan kesempatan untuk menjalankan kemiskinan suci dalam hal pakaian, makanan dan minuman, pada karya kita, pendek kata dalam segala sesuatu. Marilah kita sambut dengan kasih sayang semua kekurangan, matiraga dan pengorbanan. Janganlah kita bersikap seperti orang kaya di dunia yang menganggap kemiskinan sebagai beban yang tidak tertanggungkan. Hendaklah jangan segan-segan kita berusaha agar menjadi orang miskin yang gembira dan yang tidak menuntut apa-apa karena kepada mereka itu menurut Injill dijanjikan kerajaan surga.”

1 Kor. 8:1b-7;11-13                                                                                                                          Kamis. 11 september 2014

Luk. 6: 27-38

----------------

"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." "Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Renungan

Hari ini Yesus mengajarkan hukum yang luar biasa. Hukum cinta kasih. Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Hendaklah kejahatan dibalas dengan kebaikan, kutuk dibalas dengan berkat. Apa ini gampang? Jelas tidak. Kiranya benar menjadi orang katolik itu tidak mudah. Menjadi orang katolik dituntu menjadi orang yang luar biasa sebagaimana Yesus jauh lebih luar biasa.

Berbelas kasih juga berarti rekonsiliasi penuh dan kesediaan untuk menerima dan mengampuni. Sadarkah Anda bahwa sesulit-sulitnya orang minta maaf, masih lebih sulit untuk memaafkan. Sebab orang hanya bisa memaafkan jika ia sudah berdamai bukan saja dengan dirinya sendiri, tetapi juga dengan orang yang menyakitinya. Dengan demikian, belas kasih tidak terbatas pada rasa kasihan terhadap penderitaan orang lain. Belas kasih merupakan tindakan kasih. Tindakan yang membebaskan korban dari situasi dosa yang menindas dan memulihkan martabatnya sebagai putra-putri Allah. Kita diundang untuk mampu berbelas kasih.

Bapa Fransikus Assisi tidak pernah dendam kepada orang-orang yang menentang dan memusuhinya. Tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan melainkan dengan pengampunan. Justru karena sikapnya ini banyak orang yang bertobat dan mengikuti cara hidupnya. Bagaimanakah dengan diri kita saat ini? Beranikah kita menjadi manusia luar biasa dengan misi yang luar biasa pula? Ini adalah sebuah pilihan, dan setiap pilihan memang selalu mengandung konsekuensi. 

 

1 Kor.9: 16-19,22b-27                                                                                                                     Jumat. 12 september 2014

Luk. 6: 39-42

----------------

Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Renungan

Suster ibu bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, perumpamaan yang Yesus berikan hari ini sungguh cespleng, sangat mudah kita pahami. Dengan mudah kita dapat menangkap maksudnya. "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang?”  Tidak mungkin anak nakal akan memberi contoh yang baik kepada teman-temannya. Sangat tidak mungkin anak malas akan mengajak temannya rajin belajar. Hampir tidak mungkin anak yang serakah mau berbagi dengan teman-temannya. Mana mungkin seorang koruptur mengajak pencuri untuk insaf dan kembali ke jalan yang benar. Hampir tidak mungkin seorang perampok membawa penjarah untuk kembali menyadari kesalahannya. Tidak mungkin seorang pembunuh mengajak insaf seorang penganiaya untuk menjadi penyayang. Itulah sebabnya orang tua kita selalu memesan kita untuk berhati-hati dalam memilih teman. Teman yang baik akan membawa kita pada kebaikan. Sedangkan teman yang jahat akan membawa pengaruh jahat dalam diri kita.

Suster ibu bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, kiranya dalam rangka inilah maka dalam bacaan injil hari ini Yesus menegur para ahli Taurat dan Kaum Farisi untuk lebih dahulu membersihkan dirinya sendiri sebelum mengajak orang lain bertobat. ”Hai orang munafik, keluarkan dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” bagaimana mungkin mereka mengajrkan umat untuk bertobat kalau mereka sendiri belum bertobat. Persoalannya, bagaimana mungkin mereka bertobat kalau mereka sendiri tidak mampu melihat kesalahan diri sendiri? Yang nampak selalu kesalahan orang lain. Diri sendiri yang selalu  benar. Mereka selalu negatif thinking untuk orang lain. Bagi orang yang berpikiran negatif, maka melihat orang lain juga secara negatif. Dimatanya orang lain selalu salah dan penuh dengan cacat cela. Apa pun yang dilakukan tidak ada yang benar. Diam saja salah apalagi melakukan sesuatu, pasti jatuhnya juga akan dipersalahkan.

Bagaimanakah dengan diri kita saat ini? Adakah aku masih dikuasai iri hati dan kemunafikan? Ataukah aku berani bersaksi menjadi anak-anak Allah dengan saling mencintai satu terhadap yang lain? Dalam pelajaran rohani yang diberikan kepada para Suster, Ibu Magdalena Daemen mengatakan, ”....Cinta sejati ikut merasakan kebahagiaan dan kemalangan orang lain. Seseorang yang dijiwai oleh kasih sayang ini bergembira atas kebaikan yang dilakukan sesamanya dan berdoa bagi kesejahteraan baik duniawi maupun rohani mereka.”

 

1 Kor. 10:14-22a                                                                                                                               Sabtu. 13 september 2014

Luk. 6: 43-49

----------------

"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan --, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya."

Renungan

"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya.”  Kita jadi tahu itu pohon mangga, pohon jambu, pohon nangka, pohon apel atau pun pohon lainnya setelah melihat buahnya. Anak adalah buah kasih sayang orang tua. Maka sebenarnya dapat dikatakan, anak-anak merupakan cerminan orang tuanya. Apa yang tergambar dalam diri anak merupakan hasil didikan keluarga. Begitulah, cara bertingkah anak menggambarkan cara bertingkah orang tuanya. Bagi anak-anak ini menjadi nasehat yang baik. Apa yang kita lakukan bukan hanya akan menjadi penilaian terhadap diri kita sendiri, tetapi juga berdampak terhadap penilaian orang terhadap orang tua kita, bahkan sekolah kita.

Lebih jauh lagi, ada satu hal lagi yang pantas dan perlu selalu kita ingat, sebagai orang katolik kita adalah anak-anak Yesus. Maka pertanyaannya sekarang adalah, ”Sudahkah perbuatan kita sungguh meneladan yang Yesus lakukan? Sudahkah kita mampu menggambarkan diri sebagai anak-anak Allah?” pertanyaannya bisa kita permudah begini? Sudahkah aku menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitarku? Pengaruh baik atau pengaruh buruk yang aku bawa?

Untuk menjadi anak-anak Tuhan sekarang ini tidak mudah. Bukannya dipuji, salah-salah kita akan dimusuhi. Saat Anda mengingatkan teman yang berperangai buruk, adakah dia dengan senang hati menerima masukan dari Anda? Sangat mungkin lho justru ita yang akan terpengaruh dengan lingkungan kita yang buruk. Untuk itulah kita mesti memiliki dasar yang kuat.  Seperti perumpamaan pondasi dalam membangun rumah. Kalau dasar pondasi bangunan rumah kita kokoh, maka tidak akan mudah dirobohkan meski diterpa angin kencang. Demikian juga dengan bangunan diri kita. Kita tidak akan mudah terpengaruh dengan lingkunagn kita kalau kita kuat. Maka sudah  semestinya kalau kita mendasarkan diri pada keyakinan akan kasih Yesus yang selalu menyertai hidup kita.

Ibu Magdalena Daemen mengingatkan bahwa setiap orang memiliki salib sendiri-sendiri. Setiap orang tidak sama. Cara memanggulnya pun bisa berbeda. Sudah seharusnya kita memangul salib kita dengan cinta kasih karena kita selalu ingat perjalanan salib Yesus yang ingin kita ikuti. Sesungguhnya salib kita bukanlah beban yang berat, apabila disambut dengan penyerahan total kepada kehendak Allah. Hanya dengan demikian kita dapat memanggul Sali kita dengan sabar dan pasrah.Kita akan selalu ingat bahwa Tuhan tidak akan memberikan beban melampui kemampuan kita untuk mengatasinya.

 

 

 

Bil. 21:4-9                                                                                                                                      Minggu. 14 september 2014

Yoh. 3:15-17

----------------

Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Renungan

Karena ketaatan dalam melaksanakan tugas perutusan-Nya, Yesus telah merendahkan diri sampai serendah-rendahnya. Sebagai Putra Allah, Yesus telah rela merendahkan diri menjelma menjadi manusia yang sama dengan semua manusia kecuali dalam  hal dosa. Demi ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa untuk menyelamatkan umat manusia, Yesus rela menjadi silih dosa manusia dengan menderita bahkan sampai wafat di kayu salib. Salib yang di mata dunia sebagai tanda penghinaan, karena biasanya hanya diperuntukkan bagi  penjahat kelas berat yang membahayakan masyarakat, telah diubahnya menjadi lambang kemuliaan dengan bangkit-Nya dari wafat pada hari ke tiga. Salib lambang penghinaan telah diubah menjadi lambang kemuliaan berkat ketaatan-Nya pada kehendak Bapa-Nya di Sorga.

Sekarang tugas pewartaan karya penyelematan Allah telah diestafetkan kepada kita. Kita pun dituntut untuk taat dan setia. Ibu Magdalena Daemen dalam pelajaran rohani mengajarkan, “Marilah kita dengan gembira menundukkan kepala kita di bawah beban Tuhan yang manis itu. Marilah kita dengan seksama menunaikan semua kewajiban yang dipercayakan kepada kita sebagai orang Kristen. Hendaklah kita taat dengan rela dan gembira tanpa kemalasan.”

Di padang gurun, orang Israel memberontak kepada Tuhan dan Musa. Sebagai kutukannya mereka dipagut ular-ular tedung dan banyak yang mati. Mereka memohon ampun kepada Tuhan. Maka Musa membuat ular tedung dari tembaga dan menggantungkannya pada tiang. Setiap orang yang terpagut ular tedung, asalkan memandang ular tembaga itu, pasti selamat.

Demikian pula Kristus yang ditinggikan di kayu salib. Kita semua yang terancam maut karena dosa-dosa dan pemberontakan kepada-Nya, tetap hidup dan selamat asalkan kita mau memandang Dia yang tersalib, melihat dengan penuh percaya, dan mengikuti Dia. Terkadang kita merasa terancam bahaya, menemui jalan buntu dalam mengatasi persoalan hidup. Merasa tidak berdaya atas dosa-dosa tertentu yang membelengu kita sehingga kita nyaris putus asa. Tetapi, ingatlah akan Dia yang ditinggikan di kayu salib. Siapa yang memandang-Nya dengan penuh iman akan diselamatkan dan setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Marilah kita datang kepada Dia yang tersalibkan.

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar