Renungan 15-21 September 2014

 Senin, 15 September 2014

1 Kor. 12:31-3:13 atau Ibr.5:7-9                                                            

Yoh. 19:25-27 atau Luk. 2:33-35                                                                                             Pw. Santa Perawan Maria berduka cita

----------------------------------------

Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Renungan

Dalam kehidupan sehari-hari, pada umumnya ibulah yang paling dekat dengan anaknya. Seorang ibu bisa lebih sabar mendengarkan keluh kesah ataupun celoteh kegembiraan anaknya. Dalam saat-saat susah, ibu selalu mau memperhatikan dan siap menolong. Hati seorang ibu penuh dengan kedamaian dan cinta. Hati seorang ibu seluas samodra. Ia akan memaafkan setiap kesalahan yang dilakukan anaknya. Bahkan bukan cerita baru kalau kita mendengar cerita seorang ibu yang rela menanggung resiko apapun demi anaknya.

Suster, ibu, bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, hari ini dalam liturgi Gereja Katolik, kita merayakan pewartaan Santa Perawan Maria Berduka Cita. Bacaan Injil hari ini menceritakan kesetiaan Bunda Maria untuk mendampingi perjalanan salib Sang Putra. Sebagai seorang ibu, Bunda Maria turut merasakan setiap penderitaan yang dialami Puteranya. Bunda Maria rela menanggung penderitaan sebagai bukti kesetiaannya dalam menjalani rencana keselamatan Allah yang diterima Putera-nya.  Hal ini sebagaimana sudah dinubuatkan Simeon: “... suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri ...” (Lukas 2:35). Kedukaan Bunda Maria menjadi konsekuensi jawabannya atas rencana Allah pada dirinya: “... sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).

Dengan setia Maria mempertahankan persatuannya dengan Putera-nya hingga di salib.  Melihat Sang Putera terkasih menderita, sesungguhnya  pada saat itulah penderitaan yang dalam menyelimutinya. Setiap bilur-bilur di tubuh Sang Putera telah menggores perih hatinya. Demi  menjawab panggilan Allah untuk terlibat dalam karya keselamatan, Bunda Maria rela menanggung derita yang sangat dalam. Maria tidak pernah meninggalkan Yesus, Maria tetap setia dekat salib Yesus, bahkan saat Yesus menderita sakit yang luar biasa ketika meregang nyawa, semua dilakukan demi memenuhi kehendak Bapa-Nya. Kedukaan  mendalam ketika Putera-nya diturunkan dari salib diterimanya dengan penuh iman. Dalam terang iman bisa dipahami bahwa kedukaan itu akhirnya akan membuahkan keselamatan bagi semua orang.

Sekarang ini, Bunda Maria pun dengan setia mendapingi peziarahan hidup kita yang penuh dengan perjuangan, penuh tantangan dan rintangan yang tidak mudah. Bunda Maria setia mendampingi dalam setiap langkah kita. Meski dalam situasi yang  paling pahit sekali pun. Maka pertanyaannya adalah, Apakah kita mampu menerima kenyataan yang paling pahit dalam hidup kita tanpa mempersalahkan orang lain? Berani menerima kenyataan tanpa harus mempersalahkan Tuhan dan menganggapNya tidak adil atas hidup kita?

Bunda Maria telah merasakan segala kepahitan salib Sang Putra. Ia juga turut merasakan kepedihan, penderitaan serta kepahitan yang kita alami. Dengan demikian penderitaan kita menjadi lebih ringan, mari kita menggabungkan diri dengan doa Maria: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

DOA:  Ya Bapa, buatlah kami mampu meneladani sikap Bunda Maria, agar hanya kehendak-Mu yang terjadi di atas bumi seperti di dalam surga.

   Sumbangan dari Yuliest tyanSMP Marsudirini Bekasi

 

1 Kor. 12:12-14;27-31a                                                                                                                       Selasa, 16 September 2014

Luk. 7:11-17

----------------------------

Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Naim. Murid-murid-Nya pergi berssama-sama Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya, berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, Lalu ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghmpiri usungan itu, Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang  itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.” Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Renungan

Mengembangkan Sikap Peduli.

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kritus, Kitab Suci menceritakan banyak sekali peristiwa di mana Yesus membuat mukjizat. Salah satunya sebagaimana yang kita dengarkan hari ini. Yesus membangkitkan anak muda di Nain. Peristiwa ini ingin menunjukkan betapa  Allah berkuasa atas kehidupan dan kematian manusia. Keselamatan manusia bersumber dari Allah.  Allah telah menyatakan kemuliaan-Nya. Kematian yang menakutkan dalam hidup manusia, sekarang sudah tidak lagi. Karena Allah, melalui Putera-Nya mampu mengalahkan kematian. Lebih dari itu, Allah sungguh peduli dengan apa yang dialami umat-Nya. Allah berkenan turut campur dalam setiap peristiwa yang kita alami. Sebagaimana sudah Yesus tunjukkan kepada janda yang telah kehilangan anak tunggalnya, tentu saja itu juga akan Yesus tunjukkan kepada kita semua. Inilah kasih Yesus yang juga akan melimpah dalam hidup kita. Yesus peduli dan mau turut campur atas setiap persoalan yang kita alami. Sebagai murid-murid Yesus, maka sudah semestinya kita juga mau peduli.

Seakarang ini, hampir setiap hari kita membaca dan mendengarkan berita yang mengerikan. Misalnya berita tentang pembunuhan, bunuh diri, mutilasi, kekerasan, penemuan mayat, atau perang yang memakan banyak korban. Berita-berita itu menunjukkan betapa murah dan tidak berharganya hidup manusia. Padahal hari ini kita mendengar firman yang menunjukkan betapa Yesus sangat menghargai kehidupan dengan membangkitan pemuda di Nain. Melalui peristiwa ini Yesus  mengajak kita untuk menghargai kehidupan, mengembangkan sikap berbelas kasih, dan peduli terhadap sesama. Karena tergerak oleh belas kasih melihat ibu yang ditinggal anaknya, Yesus membangkitkan anaknya itu.

Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai wujud rasa peduli kita kepada sesama. Mendoakan teman yang sedang menderita, baik sakit atau sedang menghadapi masalah. Menempatkan sampah pada tempat yang disediakan. Membuat suasana kelas yang nyaman untuk belajar, dengan meghindari hal-hal yang mengacaukan suasana belajar. Atau dalam suatu komunitas kehadiran kita  membawa kebahagian bagi orang lain.

DOA:  Tuhan ajarilah kami untuk memiliki sikap peduli dan berbelas kasih terhadap sesama, buatlah kami mampu menghargai hidup, dengan mengembangkan sikap berbelas kasih. Amin.

Sumbangan sdr. Yuliest tyan SMP Marsudirini Bekasi

1 Kor. 12:31-13:13                                                                                                                                 Rabu, 17 September 2014

Luk. 7:31-35

--------------------------

Kata Yesus: "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."

Renungan

Yang namanya sudah benci, apapun yang kita lakukan pastilah selalu salah dimatanya. Kita tidak melakukan apa-apa pun tetap saja dicari-cari kesalahannya. Kiranya inilah yang  dialami kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka membenci setiap orang yang membawa kebenaran. Sebab orang itu akan menunjukkan kemunafikan mereka.  Mereka selalu mencari kesalahan dan ketika tidak menemukan maka mereka akan menyebarkan fitnah.

Saat Yohanes Pembabtis datang mewartakan pertobatan dan pembabtisan dengan berpuasa,  tidak makan roti dan minum anggur, hidup di padang gurun  yang sunyi, mereka megatakannya sebagai orang yang kerasukan setan. Tetapi manakala Yesus hadir di tengah umat manusia dan mengadakan jamuan makan dengan pemungut cukai dan kaum pendosa, sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan atas niat baik mereka untuk bertobat, mereka mengatakan Ia seorang pelahap dan peminum. Tidakkah ini serba salah? Yesus pun sampai kebingungan dalam menghadapi mereka. "Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?”

Bahkan tidak cukup sampai di situ. Yesus mengatakan, ”Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari,  kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis....” Tentu saja ini mau menunjukkan sikap tidak mau tahu kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka sudah masa bodo dengan pendapat orang lain. Mereka hanya mau tahu pendapat mereka sendiri. Merekalah yang paling benar. Orang lain haruslah menuruti kehendak mereka.

Dalam kehidupan kita sekarang inipun tidak mudah untuk mewartakan kebenaran. Selalu saja ada orang yang merasa terusik dengan tindakan kasih yang kita lakukan. Haruskah kita menyerah atas tentangan mereka? Haruskah kita memusuhi mereka?

Bapa Fransiskus Assisi telah meneladankan cara hidup yang luhur kepada kita. Ia tidak menuntut orang lain untuk melakukan seperti apa yang dilakukannya. Ia tetap menghormati pilihan hidup setiap orang. Maka saat berkumpul dengan orang yang sedang melakukan perjamuan, maka ia pun ikut makan secukupnya sebagai bentuk penghormatannya kepada orang yang menjamunya. Namun manakala kembali ke biara ia akan kembali melakukan puasa dengan sangat keras. Justru dengan cara ini banyak orang simpati dan mengikuti cara hidupnya. Banyak orang yang akhirnya terselamatkan hidupnya berkat keteladannya. Kesadaran bukan dilahirkan dengan pemaksaan.

Bagaimanakah dengan diri kita? Mampukah kita menerima perbedaan tanpa harus terbawa arus? Mampukah kita tetap tersenyum saat mangalami penolakan? Ataukah kita lebih senang mengembangkan sikpa permusuhan bagi mereka yang berbeda dengan keinginan kita?

1 Kor. 15:1-11                                                                                                                                      Kamis, 18 September 2014

Luk. 7:36-50

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." Lalu Yesus berkata kepadanya: "Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu." Sahut Simon: "Katakanlah, Guru." "Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?" Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."  Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni." Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: "Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?" Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"

Renungan

Imanmu telah menyelamatkanmu

Suster, Ibu, Bapak dan saudara-saudariku yang terkasih, setiap manusia di dunia pastilah berdosa. Untuk itulah Yesus datang ke dunia.  Yesus datang untuk orang yang berdosa agar bertobat.  Tetapi nampaknya Simon tidak menyadari itu.   Sebab sebenarnya Simon tidak mengerti dirinya sendiri. Ia merasa tidak berdosa sedikit pun dalam hidupnya.  Simon adalah orang Farisi dan mereka pikir mereka tidak berdosa.  Mereka merasa diri orang yang baik di dunia ini.  Mereka sudah melaksanakan aturan dan hukum yang berlaku. Mereka hafal dengan seluruh isi hukum taurat dan dengan ketat menjaganya agar dilaksanakan oleh seluruh masyarkat Yahudi. Mereka tidak membunuh, tidak mencuri, tidak minum-minum, mereka tidak merokok, mereka tidak mengutuk, dan mereka tidak berlari dari hidupnya. Pendeknya mereka merasa telah menjadi orang baik. Itulah sebabnya mereka perlu menjaga diri untuk tidak bergaul dengan orang yang berdosa.

Namun ternyata menjadi baik saja tidak cukup, Yesus pernah mengatakan, hendaklah kamu sempurna sama seperti Bapamu di sorga yang adalah sempurna. Tidak melakukan kesalahan dalam hidup itu baik, tetapi jika tidak melakukan apapun dalam hidup itu juga tidak baik. Sama seperti pohon ara yang dikutuk Yesus karena tidak menghasilkan buah. Seseorang dapat menunjukkan iman yang sejati yaitu dengan pertobatan, sebab dosalah yang   memisahkan kita dari Allah. Buah-buah pertobatan adalah iman, harapan, dan kasih.

DOA: Tuhan berilah kami iman yang hidup, yang mampu menyelamatkan  kami dan sesama yang kami cintai. Bantulah kami menjadi sempurna sama seperti Bapa yang adalah sempurna. Amin.

1 Kor. 15:12-20                                                                                                                                   Jumat, 19 September  2014

Luk. 8:1-3                                                                                                                                     Pw S. Komelius dan S. Siprianus

----------------------

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

Renungan

Sahabat sejati ialah orang yang menaruh simpati dan tidak meninggalkannya ketika sahabatnya menanggung derita. Dalam bacaan hari ini, kita mendengar bahwa para perempuan melayani Yesus setelah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit. Setelah mendapatkan limpahan kasih dari Yesus mereka membalaskan kasih itu dengan memberikan pelayanan. Merekalah yang mendukung dan memberi serta menyediakan makanan dari hari ke hari untuk semua rombongan. Para perempuan itu, Maria Magdalena, Yohana,  Suzana dan sejumlah perempuan yang lain melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

Namun ternyata tidak berhenti sampai di situ. Dari bacaan lain kita akan mendengar bahwa para perempuan inilah yang dengan setia mengikuti perjalanan salib Yesus sampai ke puncak Golgota. Mereka  turut merasakan kepedihan hati Yesus. Sementara dua belas murid Yesus tidak berani menampakkan diri saat Yesus ditangkap dan disalibkan di Golgota. Petrus dan kawan-kawannya entah ke mana. Hanya Yohanes yang masih muda itu yang berdiri di bawah salib Golgota, menyaksikan derita Yesus dan menangis melihat tangan dan kaki-Nya yang mengucurkan darah.  Para perempuan ini tidak memedulikan keselamatan diri mereka dan tidak takut ditangkap atau dituduh sebagai pengikut Yesus. Hanya satu keinginan mereka saat itu. Menemani Yesus dalam perjalanan salib ke puncak Golgota.

Benarlah, bahwa perempuan-perempuan itu tidak hanya menyediakan makanan bagi Yesus dan rombongan-Nya. Mereka dengan sepenuh hati turut merasakan derita. Derita batin Yesus menjadi derita batin mereka. Dengan setia mereka menjadi saksi kematian Yesus. Merekalah saksi hidup bahwa Yesus benar-benar mati di kayu salib. Mereka mengikuti peristiwa penyaliban itu dari kota Yerusalem, mulai dari pengadilan sampai perjalanan pilu menuju bukit Golgota di luar tembok Yerusalem. Mereka mau melayani Yesus dan berbagi perasaan dengan-Nya, menyertai Dia sampai ke bukit derita itu. Sebuah pengabdian yang tidak ada taranya. Dan pada akhirnya, para perempuan inilah yang menjadi pewarta pertama tentang peristiwa kebangkitan Yesus. Karena merekalah yang pertama kali datang ke kubur Yesus dan mendapat berita bahwa Yesus telah bangkit. Belajar dari para perempuan ini, bagi kita sekarang ini kiranya tidak cukup hanya dengan memberi kolekte atau menjadi penyandang dana bagi pelayanan gereja. Keterlibatan kita secara langsung kiranya juga sangat dibutuhkan. Beranikah kita menjadi pewarta kebenarandan keselatan yang tangguh dan setia? Maukah kita melayani dengan sungguh, tulus dan iklas, demi keselamatan umat manusia?

DOA

Tuhan, jadikanlah kami tangguh ketika mewartakan kasihmu, buatlah kami berani dalam kebenaran-Mu, tolonglah kami agar mampu melayani dengan sungguh, tulus dan iklas demi kemuliaan dan kebesaran nama-MU. Amin

Sumbangan Sdr. Yuliest tyanSMP Marsudirini Bekasi

1 Kor. 15:35-37;42-49                                                                                                                           Sabtu, 20 September 2014

Luk. 8:4-15

-------------------------

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

Renungan

Buah dalam Ketekunan

Sebuah bus yang penuh dengan muatan penumpang sedang melaju dengan cepat menelusuri jalanan yang menurun. Tiba-tiba ada seseorang yang mengejar bus ini dari belakang. Meski hampir tak terkejar, orang itu terus berlari sekuat tenaga. Seorang penumpang melihatnya, kemudian mengeluarkan kepala keluar jendala bus dan berkata, "Hai kawan sudahlah. Anda tak mungkin bisa mengejar bis ini!" Namun orang tersebut menjawab, "Saya harus mengejarnya . . ." Dengan nafas tersenggal-senggal dia berkata, "Saya adalah pengemudi dari bus ini!"

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, ilustrasi di atas menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang harus berusaha keras dan dengan sangat serius dalam melaksanakan tugasnya, sebab jika tidak demikian, maka akibatnya akan sangat tragis. Benar tidak semua hal bisa kita hadapi dengan santai. Juga dengan hidup kita. Sebab dengan sekuat tenaga, maka kemampuan yang masih terpendam dan sifat-sifat khusus yang tidak diketahui oleh orang lain selama ini akan sepenuhnya muncul keluar. Kita semua tentu berharap mampu menjadi tanah yang baik, yang ketika benih ditaburkan, mampu bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah hingga seratus kali lipat. Seratus kali lipat membawa makna lebih banyak dari yang seharusnya. Bagaimana agar kita mampu mendapatkan buah yang baik? Selain tanah kita baik, butuh ketekunan dalam merawat dan memperhatikan pertumbuhan bijinya. Ketekunan akan membuahkan hasil.

Pertanyaannya adalah maukah kita memperjuangkan kehidupan ini dengan sekuat tenaga agar tidak berakibat fatal?  Sudahkah kita bertekun dalam segala hal agar kehidupan kita mampu membuahkan buah yang berlimpah? selamat berjuang Tuhan Memberkati.

DOA: Tuhan mampukan kami berjuang menghadapi segala rintangan dalam kehidupan kami. Buatlah kami semakin memahami besarnya kasih-Mu dalam hidup kami, agar kami mampu bertekun dalam perjuangan kami, demi kebesaran nama-Mu. Amin.

Sumbangan sdr. Yuliest tyan, SMP Marsudirini Bekasi.

Yes. 55:6-9                                                                                                                                        Minggu, 21 September 2014

Mat. 20:1-16a

------------------------------

"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?  Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati.  Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Renungan

“Huh, sial, masa’ bocor lagi sih” ujar Batman gemas sambil menendang pintu mobil-nya perlahan. Meskipun kesal, ia masih cukup sadar untuk tidak melampiaskannya kepada kendaraan tercintanya, yang cicilannya belum lunas. Dengan susah payah, ia mendorong mobilnya ke pinggir, ke sebuah tambal ban yang kebetulan berada tidak jauh dari situ. “Mbah Gendeng – Nambal Ban Sejak 1911” Begitu tulisan yang tertera di atas “bengkel” kecil yang didirikan seadanya di bawah sebuah pohon beringin besar.

“Bannya bocor ya, nak?” tanya seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.

“Iya, mbah”, jawab Batman lesu, “Sudah kedua kalinya nih. Padahal baru sekitar 5 km lalu bocor dan ditambal.”

“Hmmm…” hanya itu yang keluar dari bibirnya.  Mbah Gendeng mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai mempersiapkan peralatannya. Bak air sabun untuk memeriksa bagian ban yang bocor, dongkrak, pompa angin, dan sebagainya. “Silahkan duduk dulu aja di kursi kayu itu, nak. Biar mbah kerjakan dulu bannya.” 45 menit berlalu, Batman mulai gak sabar. Maklum, ia lagi semangat-semangatnya untuk bangkit kembali dari keterpurukannya dan ingin segera sampai ke WTC untuk membuka gerai HP. Penasaran, ia mendekati Mbah Gendeng dan mengintip kerjanya.

“Pantesan aja lama!” sergah Batman kasar. “Lha wong kerjanya lambat banget gini! Apa gak bisa lebih cepet lagi, mbah?” Mbah Gendeng meletakkan ban dalam mobil yang sedang ia pegang dan menoleh ke arah Batman. Tatapannya yang tajam membuat Batman secara tidak sadar mundur selangkah ke belakang. Tanpa disangka, dengan tidak kalah kerasnya, Mbah Gendeng balik bertanya, “Memangnya kamu pikir pekerjaan ini tidak penting sehingga harus dikerjakan dengan terburu-buru?”

“Memang begitu, kan? Cuman nambal ban, apa pentingnya? “

“Iye, terus so what gitu loh, mau situ Superman kek, Batman kek, Barack Obama kek, SBY kek, tetep aja, jangan pernah ngeremehin pekerjaan saya!” Batman sudah akan membuka mulutnya lagi untuk menjawab, namun kakek tua itu tidak mau kalah cepat dan melanjutkan kata-katanya.

“Dengarkan baik-baik, anak muda. Coba pikir. Seandainya tadi kamu dalam perjalanan banmu bocor, apa bukan berarti yang saya kerjakan ini tidak sama pentingnya dengan pekerjaanmu? Dengan memperbaiki ban bocormu dengan baik dan teliti, secara tidak langsung saya sudah membantu kamu.”

“Tidak usah muluk-muluk. Setiap ban bocor yang saya perbaiki pasti berhasil membawa pengemudinya tiba dengan selamat sampai di rumah. Coba bayangkan apabila saya melakukannya dengan asal-asalan. Bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, to?”

“Lihat ban dalammu ini.” Mbah Gendeng menyodorkan dua buah ban dalam mobil yang sedang ia kerjakan. “Perhatikan ini, bekas tambalan yang dilakukan oleh penambal ban sebelumnya. Kasar dan kurang kuat rekatannya. Itu sebabnya tadi ban mobilmu bocor lagi. Masih untung tidak terjadi apa-apa. Dan ini, yang ada di kanan, adalah hasil tambalan ban yang aku lakukan. Bandingkan!”

Batman tercenung. Ia memperhatikan ban dalam pada bagian yang ditunjukkan oleh Mbah Gendeng dan ternyata memang benar, pekerjaannya kurang baik. Bahkan jauh dibandingkan hasil pekerjaan Mbah Gendeng. Padahal tadi ia cukup senang dan memberi tips lebih kepada penambal ban sebelumnya karena kerjanya hanya butuh waktu 5 menit saja. Dengan menunduk, Batman mohon maaf kepada Mbah Gendeng dan beringsut kembali ke kursi kayu untuk menunggu. Di satu sisi, ia malu terhadap apa yang telah ia lakukan, namun di sisi lain, ia gembira karena mendapat pelajaran baru tentang hidup dan juga tentang bisnis.

            Kadang kita merasa iri dengan pekerjaan orang lain, yang sebenarnya adalah semua pekerjaan penting, selama kita menekuninya, dan mengerjakannya dengan tulus iklas. Dari pada iri dengan pekerjaan orang lain lebih baik menjadikan pekerjaan kita berguna bagi banyak orang, meskipun langsung atau tidak langsung. Tuhan memberkati.

DOA: Tuhan jadikanlah kami pembawa berkat bagi banyak orang. Tuntunlah hidup kami berdasar kasih cinta-Mu. Amin

Sumbangan Sdr. Yuliest tyanSMP Marsudirini Bekasi

 

 

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar