renungan 29-31 oktober 2014

Ef. 6:1-9                                                                                                                                          Rabu, 29 Oktober 2014

Lukas 13:22-30                                                                                                                                                                     Mikael Rua, Gaetano Errico

---------------------------

Kemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata: Tuan, bukakanlah kami pintu! dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang. Maka kamu akan berkata: kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi, apabila kamu akan melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Dan sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir.

 

Renungan

“Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak dapat.” Pintu merupakan sarana penghubung untuk masuk ke sebuah tempat atau ruangan. Setiap orang yang ingin masuk ke sebuah ruangan membutuhkan pintu. Pada pintu yang sempit, orang yang ingin masuk melalui pintu harus berjuang dengan sekuat tenaga. Dalam ayat tadi, yang dimaksud pintu adalah Yesus sendiri. Dialah penghubung kita dengan Allah Bapa.

Kita semua telah diangkat menjadi anak-anak Allah lewat pembaptisan. Walaupun begitu untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga itu tidak mudah. Godaan gemerlapnya dunia sekarang ini sungguh tidak mudah kita kalahkan. Niat baik kita seringkali dibelokkan.  Di dunia ini iman kita diuji. Kita dihadapkan pada tawaran-tawaran dunia yang menarik dan mampu menjauhkan kita dari pintu utama menuju Bapa, yaitu Yesus Kristus sendiri. Bila kita ingin masuk ke dalam kerajaan surga, kita harus berani untuk melawan tawaran-tawaran duniawi tersebut.

Di sisi lain saat ini pun membutuhkan keberanian tersendiri untuk menunjukkan identitas kekatolikan kita. Sering kali kita merasa malu atau minder untuk menunjukkan identitas kita di depan umum. Misalnya saat makan di sebuah restoran. Kita sering kali malu atau takut untuk berdoa atau bahkan sekedar membuat tanda salib sekalipun.  Maka pertanyaannya adalah,  Beranikah kita menolak tawaran-tawaran duniawai yang disodorkan kepada kita? Sudahkah kita selalu mengenakan Kristus di mana pun kita berada?

Marilah berdoa: Allah Bapa yang Maha kasih, syukur kami panjatkan kepada-Mu. Engkau telah mengutus Putera-Mu Yang Tunggal Yesus Kristus sebagai pintu utama menuju kepada-Mu. Kami mohon berkatMu agar kami mampu bersikap seturut teladan putera-Mu, sehingga kami dapat masuk ke dalam kerajaan abadi-Mu di surga. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Sumbangan dari SMA Marsudirini Bogor

Ef. 6: 10-20                                                                                                                                         Kamis, 30 Oktober 2014

Lukas   13:31-35                                                                    Angelus dr Acri, Dominikus  Collins

--------------------------

Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan berkata kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai. Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau kalau tidak di Yerusalem. Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau. Sesungguhnya rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kamu tidak akan melihat Aku lagi hingga pada saat kamu berkata: Diberkati Dia yang datang dalam nama Tuhan!”

 

Renungan

Masih ingatkah kita akan tragedi pembubaran ibadat rosario di rumah Julius Felicianus, di Kompleks Perumahan STIE YKPN Sleman Yogyakarta? Ibadat tersebut dibubarkan oleh sekelompok orang ta dikenal pada Kamis malam 29 Mei 2014. Umat Katolik yang sedang khusyuk berdoa diserang dan dianiaya. Sekelompok orang tak dikenal, terdiri dari sekitar delapan orang datang dan langsung melempar batu. Batu itu mengenai salah satu umat. Selanjutnya kelompok orang itu menjatuhkan sepeda motor yang diparkir di depan rumah. Mereka juga  merusak rumah Bapak Julius. Tidak berhenti sampai di situ, beberapa umat yang sedang berdoa pun tak luput dari pukulan mereka.  Sungguh tindakan yang tak dapat diterima di tengah budaya kerukunan umat beragama yang tengah dibangun bersama. tetapi begitulah nyatanya. Selalu ada penolakan sekalipun yang kita lakukan bertujuan baik. Hal ini sudah dialami Yesus lebih dari 2000 tahun yang lalu.

Dalam pelayananNya di bumi, Tuhan Yesus telah merefleksikan kasih Bapa-Nya di Sorga. Membebaskan orang-orang yang tertindas dan terbelenggu oleh kuasa-kuasa kegelapan serta menyembuhkan berbagai macam penyakit yang diderita oleh manusia. Selain itu dia juga mengajarkan dan memberitakan firman tentang Kerajaan Allah bagi siapa saja yang rindu, haus, dan lapar akan “Kebenaran”. Oleh karena itu kita sebagai umat Tuhan harus berani mengambil resiko.

Mengikuti jejak Yesus tidak mudah, dan bukanlah suatu jaminan untuk bebas dari penderitaan dan penolakan. Penderitaan merupakan batu uji kesejatian dan kesetiaan kita. Ia mendorong dan membangkitkan rasa senasib diantara kita. Bukankah untuk menempuh kemuliaan itu, Yesus mesti memanggul salibNya? Menjadi pengikut Yesus berarti menjadi orang yang siap menderita karena kita harus berperang dengan diri sendiri, karena apa yang kita wartakan dan hidupi tidak selamanya mendapatkan tanggapan positif dari sesama. Untuk itu, sebagai kekasih Allah, maka yang perlu kita ingat adalah, ada banyak jalan untuk menderita tetapi hanya ada  satu jalan menuju kemuliaan yaitu memanggul SalibNya.  Maka pertanyaannya sekarang adalah, Kuatkah kita untuk memanggul salib kita masing-masing? Siapkah kita menghadapai berbagai macam tantangan dan celaan karena iman kita pada Kristus? Percayakah kita bahwa Tuhan Yesus akan tetap menyertai kita? Marilah berdoa, Allah Bapa yang penuh kasih, berilah kami kekuatan dalam memanggul beban salib kami sehari-hari. Mampukanlah kami untuk tetap bertahan walaupun sering kali kami merasa tidak sanggup lagi seperti yang telah Tuhan Yesus teladankan kepada kami. Amin.

 

Sumbangan dari SMA Marsudirini Bogor

 

Flp. 1:1-11                                                                                                                                        Jumat, 31 Oktober 2014

Lukas 14 :1-6                                                                                                                                                                                         Alfonsus  Rodriquez

-----------------------------

Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan seksama. Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: “Diperbolehkan menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” Mereka itu diam semuanya. Lalu Ia memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. Kemudian Ia berkata kepada mereka: “Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?” Mereka tidak sanggup membantah-Nya. 

 

Renungan

“Mereka itu diam semuanya. Lalu Yesus memegang tangan orang sakit itu dan menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi.” Dari ayat 4 ini, kita belajar bahwa melayani dapat dilakukan kepada semua orang tanpa memandang tingkat pendidikan, kekayaan, atau pun jabatan. Melayani pertama-tama dimaksudkan untuk menolong, bukan untuk mendapatkan penghormatan atau imbalan. Maka melayani yang benar sudah semestinya didasari dengan ksih dan ketulusan.  Melayani tidak seharusnya menjadi beban tetapi merupakan kehormatan.

Seperti yang dilakukan Alfonsus Rodriquez misalnya. Beliau adalah orang yang sederhana. Beliau bertugas membukakan pintu bagi tamu di ordo Jesuit. Walaupun pekerjaan itu dipandang rendah atau hanya pekerjaan kecil bagi orang, tetapi beliau melakukannya dengan sepenuh hati. Ia membukakan pintu dan menrima setiap tamu dengan penuh penghormatan dan ketulusan. Itulah sebabnya belia sangat dihormati karena beliau mau melayani dengan rendah hati dan dengan motivasi yang benar. Bagaimanakah dengan diri kita saat ini? Apakah kita sanggup melayani kebutuhan orang lain disekitar kita? Apakah kita sudah melayani dengan sikap hati yang benar? Ataukah kita melayani hanya untuk mendapatkan pujian dari orang lain?

Marilah berdoa: Tuhan Yesus yang lembut hati, kami mohon sertailah kami dalam mengikuti jejak-Mu yang dengan setia dan penuh cinta, melayani umat-Mu. Buatlah kami mampu melayani sesama kami, terlebih orang yang sangat membutuhkan pertolongan dengan penuh kesabaran dan cinta kasih tanpa mengharapkan imbalan.  Sebab Engkau sendiri telah melayani kami dengan penuh kasih. Amin.

 

Sumbangan dari SMA Marsudirini Bogor

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar