Renungan 1-5 November 2014

Why. 7:2-4;9-14                                                                                         Sabtu, 1 November 2014

Mat. 5:1-12a

-----------------------

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

 

Renungan

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Mengapa orang miskin justru yang disebut berbahagia? Dalam bahasa kitab suci, yang dimaksud dengan orang miskin di hadapan Allah adalah mereka yang dengan tulus mau membuka diri terhadap peran serta Allah dalam hidupnya. Ia hanya bisa mengandalkan kekuatan Allah sebagai jaminan keselamatan hidupnya.  Sebagaimana bayi yang akan bangun dari tidurnya yang pulas dan menangis keras manakala ditingggal ibunya. Namun dengan cepat ia akan pulas kembali manakala berada dalam gendongan ataupun pelukan orang tuanya. Bayi akan merasa aman saat merasakan kehadiran dan kasih sayang orang tuanya. Bayi bisa merasa bahagia karena kemampuannya memasrahkan diri kepada orangtuanya.

Miskin di hadapan Allah berarti dengan tulus dan rendah hati menyerahkan hidupnya kedalam penyelenggaraan Allah. Ia hanya mengandalkan Allah sebagai satu-satunya jaminan atas keselamatan hidup. Orang yang tulus hati  membuka diri di hadapan Allah berarti orang yang lepas bebas. Ia hidup sebagai orang merdeka. Tidak ada hal atau barang yang membelenggunya. Ia tidak terikat dengan barang miliknya. Ia tidak pernah merisaukan apa yang dimiliki ataupun apa yang tidak dimilikinya.

Hari ini kita merayakan hari semua Orang Kudus. Kita dapat belajar dari hidup dan kesaksian mereka yang dalam masa hidupnya juga mengalami pergulatan, jatuh ke dalam dosa tetapi akhirnya mereka kembali ke jalan Allah. Kita dapat belajar dari Bapa Fransiskus Assisi. Setelah mengalami sapaan Allah, ia berani meningalkan hidupnya yang lama dan menjadikan Yesus yang tersalib sebagai fokus seluruh hidupnya. Ibu Magdalena Daemen mengatakan, “Marilah kita sambut dengan kasih sayang semua kekurangan, matiraga dan pengorbanan. Janganlah kita bersikap seperti orang kaya di dunia yang menganggap kemiskinan sebagai beban yang tidak tertanggungkan. Hendaklah jangan segan-segan kita berusaha agar menjadi orang miskin yang gembira dan yang tidak menuntut apa-apa karena kepada mereka itu menurut Injil dijanjikan Kerajaan Surga.”

Bagaimanakah dengan diriku? Beranikah aku menggunakan seluruh milikku sebagai sarana untuk kehidupan bersama? Seluruh milik kita adalah anugerah dari Allah sendiri yang dapat menjadi sarana untuk memuliakan nama-Nya. Itu berarti semakin banyak milik kita, semakin mudah bagi kita untuk berbuat kebaikan. Berkah Dalem.

 

2 Mak. 12:43-46                                                                                   Minggu, 2 November 2014

Yoh. 6:37-40                                                        Peringatan hari arwah semua orang beriman                                      

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

 

Renungan

Hari ini kita diajak gereja untuk memperingati arwah semua orang beriman. Bulan November menurut tradisi gereja telah dijadikan sebagai bulan arwah. Kesempatan istimewa bagi umat untuk mendoakan arwah-arwah yang masih ada di api penyucian. Bagi mereka yang sudah meninggal, sudah tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat. Karena masih adanya dosa-dosa, mereka belum bisa menikmati kebahagian abadi di Surga. Mereka hanya bisa mengandalkan bantuan doa-doa kita yang masih hidup di dunia. Melalui doa-doa, kita mohonkan kepada Allah yang Maha Rahim supaya berkenan melimpahkan karunia kasih-Nya, melimpahkan pengampunan, dan memperkenankan mereka untuk memasuki Kerajaan Sorga.

Di samping itu, bulan arwah juga menjadi kesempatan indah bagi umat yang masih di dunia untuk mau merenungkan kembali mengenai tujuan hidupnya. Injil hari ini mewartakan kepada kita semua bahwa ada kebangkitan dan kehidupan abadi selepas hidup kita di dunia. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan justru awal kehidupan abadi. Kehidupan didunia hanyalah sementara. Ada kehidupan yang jauh lebih lama. Bahagia abadi di Surga atau menderita selmanya dalam api neraka.

Sesungguhnya berkat sakramen babtis yang kita terima, kita mendapatkan hak waris untuk bangkit bersama Kristus yang sudah mengalahkan maut. Persoalannya sekarang adalah, maukah kita menjaga hak waris atas kebahagiaan hidup abadi bersama Para Kudus tetap menjadi milik kita? Konsekuensinya kalau kita mengikuti Kristus berarti harus menyesuaikan hidup kita sesuai dengan kehendak Kristus. Bagaimana kita bisa tahu kehendak Kristus atas hidup kita?

Bapa Fransiskus selalu berusaha menyelaraskan hidupnya dengan kehendak Tuhan. Maka dengan tekun ia terus berupaya menemukan kehendak Tuhan atas hidupnya. Ia jadikan Kitab Suci sebagai tata tertib hidupnya. Dijalaninya dengan sepenuh hati dan segenap jiwamya. Ia selalu menjaga kehidupan doa untuk terus menjalin relasi harmonis dengan Tuhan. Puasa dan mati raga menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri dengan-Nya.

Bagaimanakah dengan kita? Adakah kita sudah berusaha mengarahkan hidup kita untuk kehidupan abadi di Surga? Sudahkah kita mencoba untuk menyelaraskan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya? Sudah kah kita menjaga kehidupan doa kita? Masihkah kita setia dengan doa-doa harian? Jika tidak, sekaranglah saatnya untuk memperbaiki diri. Tidak mudah memang. Marilah kita terus berjuang bersama, saling mendukung, saling mendoakan.

 

 

Flp. 2:1-4                                                                                                    Senin, 3 November 2014

Luk. 14:12-14

-------------------

Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia, ”Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

Renungan

Kita mengenal hukum ”tabur tuai” siapa yang menabur dia yang akan menuai. Kalau kita menaburkan kebaikan maka kebaikan pula yang akan kita dapat. Sebaliknya manakala kita banyak menaburkan kejahatan maka kejahatan pula yang akan kita dapatkan. Pemahaman itulah yang banyak dipegang oleh kebanyakan orang saat ini. Maka seringkali orang terjebak pada pemahaman melakukan kebaikan supaya mendapatkan imbalan kebaikan pula. Inilah kebaikan yang mengenal pamrih. Perbuatan dilakukan karena mengharapkan balas jasa. Maka tidak aneh kalau kemudian ada pemahaman kita memberikan kolekte banyak supaya dosa kita diampuni. Kita berbuat kebaikan kepada sesama agar kesalahan kita dimaafkan.

Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, kita dapat menemukan banyak contoh pemberian yang mengharapkan pamrih. Pada saat masa pemilu, kita mendengar ada banyak orang yang memberikan atau membagikan amplop berisi uang. Apakah itu perbuatan belas kasih? Katanya sih itu money politic. Ketika ada korban bencana, partai polotik mengerahkan anggotanya turun ke lokasi bencana mengirim bantuan dengan mengmelalui bacaan injil hunakan seragam partai dan mengunadang wartawan untuk mempublikasikannya. Apakah ini perbuatan kasih? Katanya sih ini kampanye terselubung. Tidak usah jauh-jauh. Ketika kita menolong orang hanya supaya dipuji teman yang lain, itupun sudah pamrih. Sebab manakala kita sudah dipuji, berarti sudah selesai. Kita sudah mendaatkan keinginan kita.

Hari ini melalui bacaan injil yang kita dengarkan bersama, Yesus mengajarkan kepada kita semua untuk melakukan perbuatan baik tanpa pamrih apapun. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain tanpa mengharapkan balas jasa. Pemberian yang tulus ikhlas akan mendapatkan upah dari Allah Bapa di Surga. Allah akan memberikannya tanpa kita minta. Maka marilah kita melakukan tindakan kasih tanpa memikirkan apa yang akan kita peroleh karena Allah sudah memikirkannya untuk kita. Berkah Dalem.

 

Flp. 2:5-11                                                                                                 Selasa, 4 November 2014

Luk. 14: 15-24

---------------------------

Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku."

Renungan

Suster, Ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, pada kenyataannya Allah telah menciptakan kita dengan berbagai karunia kasih yang ada pada kita. Talenta, pekerjaan, kesempatan, serta dukungan orang-orang di sekitar kita sesungguhnya merupakan kasih dari Allah untuk kita. Di sini menjadi nyata betapa Allah mencintai kita. Tentu saja Allah menghendaki agar kita menggunakan dan mengembangkan segala kasih karunia yang Allah berikan itu, dengan tetap bertekun dalam tugas-pekerjaan kita setiap hari. Juga dalam hal berbela rasa dan keterlibatan kita di tengah-tengah masyarakat di manapun kita berada. Hanya dengan demikian kita dapat melibatkan diri dalam mewartakan kabar suka cita Kerajaan Allah yang sudah dekat bahkan sudah hadir di tengah-tengah umat manusia. Dengan kesediaan untuk melibatkan diri dalam karya penyelamatan Allah berarti kita telah menanggapi undangan Tuhan untuk masuk ke dalam pesta perjamuan-Nya.

Sekarang ini banyak godaan yang seringkali membelokkan kita dan mendorong kita untuk “meminta maaf” dan menolak undangan Tuhan. Egoisme dan kesombongan diri seringkali menjadi penyebabnya. Kita menunda atau bahkan mengabaikan undangan Tuhan karena kita lebih mementingkan kepentingan kita sendiri. Entah itu pekerjaan kita, relasi kita, penampilan kita, meraih keinginan kita atau yang lain. Pendeknya kita mengabaikan undangan Tuhan karena kita lebih disibukkan dengan urusan kita sendiri. Sesungguhnya itu berarti kita merasa mampu menyelamatkan hidup kita sendiri. Maka baik kita renungkan petuah Bapa Fransiskus Asissi yang telah diwariskan kepada kita, “Marilah saudara sekalian memandang Gembala baik, yang telah menanggung sengsara salib untuk menyelamatkan domba-domba-Nya. Domba-domba Tuhan mengikuti Dia dalam kesukaran, pengejaran dan keaiban, dalam kelaparan dan kehausan, dalam sakit dan cobaan dan lain sebagainya. Dan untuk itu adalah keaiban besar bagi kita, hamba Allah, bahwasanya para orang kudus sudah melakukan pekerjaan itu, sedangkan kita dengan menceritakan dan mewartakannya saja mau memperoleh kehormatan dan kemuliaan.

 

Flp. 2:12-18                                                                                                Rabu, 5 November 2014

Luk. 14:25-33

------------------

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Renungan

Kita pernah mendengar dan mungkin juga pernah meyakini bahwa Allah tidak akan memberikan beban persoalan melebihi kemampuan kita untuk mengatasinya. Itu berarti sebarat apapun persoalan yang kita alami, kita pasti memiliki potensi untuk dapat mengatasi atau menyelesaikannya. Namun mengapa tidak jarang kita menyerah dan merasakan betapa berat beban hidup yang harus kita sangga. Sesungguhnya ada dua hal yang menyebabkan mengapa beban persoalan hidup kita terasa semakin berat.

Pertama karena dalam menghadapi persoalan kita banyak mengeluh. Budaya konsumerisme telah mendorong kita untuk selalu mencari kenikmatan. Kita cenderung menghindari kesulitan, apapun alasannya. Kita merasa diri tidak layak untuk menghadapi persoalan yang begitu besar. Kenikmatanlah yang seharusnya kita miliki. Kita tidak melihat arti pentingnya menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Persoalan dianggap sebagai beban bukan hal biasa yang dihadapi setiap orang. Persoalan tidak dimaknai sebagai sarana untuk mengembangkan diri tetapi sesuatu yang harus dihindari. Maka ketika kita menghadapi persoalan membuat kita jadi mengeluh. Semakin kita mengeluh maka beban persoalan itu terasa semakin berat.

Kedua, karena kita membandingkan beban persoalan kita dengan persoalan orang lain. Dan celakanya pembanding yang kita pilih adalah mereka yang sedang  atau hanya mengalami beban persoalan yang kecil dibanding persoalan kita.  Mengapa kita mengeluh dengan penghasilan 2,5 juta? Ya tentu saja karena kita membandingkan dengan cara hidup orang yang berpenghasilan 20 juta. Bukan dengan mereka yang berpenghasilan 1 juta atau bahkan hanya 300 ribu tiap bulan. Ketika kita membandingkan maka kita akan terjebak untuk mengatakan Tuhan tidak adil atas diri kita karena memberi beban persoalan yang lebih berat. Semakin kita protes maka beban persoalan itu terasa semakin berat.

Yesus bersabda: “… Barang siapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu…” Jika kita merenungkan Sabda Yesus ini, kita diingatkan untuk berani menghadapi resiko dari sebuah pilihan yang sudah diambil. Kalau kita memilih mengikuti Kristus, konsekuensinya ya kita harus hidup selaras dengan cara hidup-Nya. Maka kita dapat belajar dari Ibu Magdalena Daemen tentang bagaimana harus memanggul salib. “Marilah kita meletakkan beban itu di bawah kaki salib Yesus yang Manis, maka Dia kan memberi kekuatan” Berkah Dalem.

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar