renungan 6-9 November 2014

Kamis, 6 November 2014

Flp. 3:3-8a

Luk. 15:1-10

Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."

 

Renungan

Mengapa kita lebih mudah melihat kelemahan orang lain dari pada kebaikannya? Sangat mungkin karena cara pandang yang positif sudah kita habiskan untuk menilai diri kita sendiri. Merasa diri paling benar, paling baik, paling OK kiranya menjadi akar kesombongan yang tumbuh subur dalam diri kita. Karena sudah OK kita merasa tidak ada yang perlu diperbaiki. Akibatnya kita sulit untuk bertobat, karena menyesalpun tidak pernah. Kita lebih senang tenggelam atau bahkan dengan sadar menenggelamkan diri dalam nafsu cinta diri.

Namun syukurlah, Allah mencintai kita dengan kasih-Nya yang sempurna. Dia selalu menunggu kita untuk keluar dari belenggu mementingkan diri sendiri. Allah menunggu kita kembali kepada-Nya. Allah sungguh akan bergembira menyambut kedatangan kita. Tidak peduli seberapa besar kesalahan yang sudah kita buat. Yang dibutuhkan adalah kerendahan hati dan keberanian kita untuk mengakui dan menyesali kesalahan kita. Sebab sesungguhnya penyesalan menjadi pitu gerbang bagi pertobatan, menjadi pintu gerbang menuju kebenaran dan keselamatan.

Bapa Fransiskus Assisi telah mewariskan semangat pertobatan kepada kita. Dalam pertobatannya, ia menjadikan Yesus yang tersalib sebagai fokus seluruh hidupnya. Tidak ada yang lain. Olah tapa dan mati raga ia jalani dengan keras. Ia  sebut tubuhnya, dirinya sendiri dengan sebutan saudara keledai. Binatang yang paling bodoh dari segala binatang. Ini semua dilakukannya supaya ia dimampukan untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya penyelenggara atas hidupnya. Kesombongan dan cinta diri ia coba tepiskan jauh-jauh dari hidupnya. Ia tidak lagi direpotkan dengan segala penampilan ataupun cara membawa diri yang lebih untuk menjaga gengsi. Ia tidak lagi memanjakan diri dengan segala kemewahan yang harus diupayakannya. Dengan demikian hanya Tuhan yang menjadi seluruh perhatiannya. Manakala ia bekerja, manakala ia berdoa, manakala ia istirahat hanya Tuhanlah yang ada dihati dan pikirannya. Kiranya inilah yang membawanya untuk semakin serupa dengan Allah sendiri. Sebab ia selalu berusaha untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Bagaimanakah dengan kita saat ini? Tentu saja masih perlu berjuang denga keras. Dengan saling mendukung satu dengan yang lain, marilah kita berjuang bersama.

 

Flp. 3:17-4:1                                                                                              Jumat, 7 November 2014

Luk. 16:1-8

-----------------

Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua, dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu, seratus pikul gandum. Kata-Nya kepada orang itu, inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendhara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.”

 

Renungan

Bacaan hari ini nampak terasa aneh. Mengapa tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur? Bendahara yang tidak jujur itu dipuji bukan karena ketidakjujurannya tetapi karena telah bertindak cerdik. Dapat dikatakan ia telah menggunakan “jurus akal bulus”. Mengetahui akan dipecat maka ia mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupnya nanti. Maka ia menanam budi kepada beberapa orang. Harapannya ia akan mendapat balasan atas budi yang sudah diberikannya. Kepada merekalah ia dapat menggantungkan hidupnya.

Perumpamaan ini tentu saja  tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk berbuat curang demi keuntungan diri sendiri. Pesan dibalik perumpamaan itu adalah sebagai peringatan bahwa kita seringkali memakai alasan-alasan yang masuk akal sebagai pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan.  Sebab anak-anak dunia lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. Tidak apa-apa nyontek toh itu untuk membantu orang tua. Tidak apa-apa korupsi toh itu untuk kesejahteraan keluarga. Tidak apa-apa curang toh itu sudah biasa. Tidak apa-apa malas toh yang lain juga begitu. Dan masih banyak contoh yang lain.

Disisi lain perumpamaan itu juga mengajar kita untuk cerdik dalam menentukan sikap. Kehidupan seperti apa yang kita inginkan? Bukan hanya selama kita hidup di dunia, terlebih kehidupan abadi kita kelak. Apakah kita menginginkan kebahagiaan abadi di surga ataukah panasnya api neraka?  Penting untuk menemukan gantungan hidup sesuai dengan pilihan kita. Siapakah yang akan kita pilih untuk menjadi gantungan hidup abadi kita? Di sinilah kecerdikan diperlukan. Sebab pengaruh dunia sungguh sangat menggoda kita untuk semakin jauh dari kehendak Tuhan. Sebab anak-anak dunia lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang. Inilah yang mesti kita sadari dan waspadai. Kita dapat meneladan sikap hidup Bapa fransiskus Assisi. Beliau berani meninggalkan kehidupan yang penuh pesta pora untuk mendapatkan kebahagaian sejati. Resikonya ia harus berani melawan rintangan dan tentangan orang-orang di sekitarnya. Sanggupkah aku tegar memperjuangkan sikap hidupku? Beranikah aku mengatakan tidak untuk segala godaan yang akan menyelewengkan jalanku? Berkah Dalem.

Flp. 4:10-19                                                                                                                                         Sabtu, 8 November 2014

Luk. 16:9-15

-------------------

Dan Aku berkata kepadamu: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.

 

Renungan

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, kepada orang-orang Farisi, yang dikatakan sebagai hamba-hamba uang, Yesus berkata: “Kamu membenarkan diri dihadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatim. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” Yesus berkata demikian, karena kepalsuan yang didapati-Nya dalam diri orang-orang Farisi. Mereka mengajarkan belas kasih, tetapi mereka sendiri menelan harta janda-janda miskin. Mereka berdoa dengan suara nyaring hanya supaya dipuji dan dianggap sebagai orang saleh. Mereka menggunakan jubah ungu dan jumbai-jumbai yang panjang untuk menunjukkan jabatan mereka sebagai tokoh agama yahudi. Mereka hafal hukum taurat dan mengajarkan kepada orang banyak tetapi mereka sendiri tidak melaksanakannya. Kemunafikan inilah yang di kritikYesus.

Mereka ‘taat mati’ kepada hukum taurat sampai seolah-olah tidak membutuhkan rahmat Allah. Pengetahuan keagamaan yang mereka miliki membuat mereka menjadi sombong. Dengan demikian dalam pengajaran mereka yang diwartakan adalah dirinya sendiri, bukan kasih Allah. Mereka tidak menyadari bahwa cara berpikir demikian telah menghambat rahmat Allah datang hidup mereka. Kalau toh rahmat keselamatan itu datang menghampiri, sangat mungkin tidak mereka sadari. Bagaimanakah dengan diri kita saat ini? Adakah dengan tulus hati kita membuka diri bagi keterlibatan Allah dalam hidup kita? Adakah kita memiliki keyakinan bahwa Allah telah memiliki rencana ynag indah dalam hidup kita? Masihkah kita ingat untuk berdoa sebelum melakukan sesuatu?

Bapa Fransiskus dan teman-temannya selalu menyebut dirinya “Saudara dina”. Semangat kedinaan, semangat kerendahan hati ini menjadi teladan bagi kita untuk menjauhkan diri dari kesombongan diri. Dengan kerendahan hati yang tumbuh subur dalam diri kita, maka kita akan dimampukan untuk bernyanyi, Tangan Tuhan sedang merenda, Suatu karya yang agung mulia, saatnya khan tiba nanti, kau lihat pelangi kasihnya. Berkah Dalem.

 

Yoh. 47:1-2;8-9; 12                                                                                                                        Minggu,9 November 2014

Yoh. 2:13-22                                                                                                            Pesta pemberkatan Gereja Basilik Lateran

-----------------

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali. Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari? Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus

 

Renungan           

Suster, ibu, bapak, dan saudara-sadariku yang terkasih dalam Kristus, bacaan hari ini mengisahkan kemarahan Yesus saat menemukan Bait Allah telah disalahgunakan. Karena cinta dan hormat-Nya kepada Bapa-Nya, Yesus pun mengusir orang-orang  yang telah berdagang di rumah Bapa-Nya. Tentu saja bukan hanya persoalan mengotori bangunan, lebih dari itu,  hal ini menunjukkan bahwa kedatangan mereka ke Bait Allah bukan untuk berdoa melainkan untuk kepentingan duniawi, untuk kesenangan diri sendiri. Ini menunjukkan mereka telah mengabaikan bahkan menolak relasi harmonis dengan Allah sendiri.

Melalui bacaan ini kita diajak untuk merenungkan kembali sikap kita dalam hidup menggereja. Ada dua hal yang layak kita renungkan. Yang pertama adalah sikap kita terhadap gereja. Kita diajak untuk melihat gereja bukan sekedar bangunan, tetapi tubuh Yesus yang tinggal didalamnya. Di dalam tabernakel Allah bertahta. Layak kita renungkan sejenak sikap kita selama ini ketika didalam gereja. Sudahkah kita bersikap sepantasnya berada di rumah Tuhan? Ataukah kita masih mementingkan relasi kita dengan sesama, bermain dengan HP, ber-sms ria, ber-face book ria,ber- twitter ria, bbm-an, what saap atau pun asyik bermain game dari pada berdoa?

Yang kedua adalah sikap kita terhadap tubuh kita. “Tidak tahukah kamu, bahwa Roh Allah tinggal dalam hatimu, sebab geraja itu kudus dan gereja itu adalah kamu?” Tubuh kita memang adalah gereja tempat Roh Allah tinggal. Dengan menyambut Tubuh dan Darah-Nya dalam perayaan Ekaristi, Allah telah berkenan menyatukan diri dan tinggal dalam hati kita. Sudah semestinya kita menjaga kesuciaan tubuh kita. Jika Allah telah menciptakan tubuh kita dengan sempurna, indah, rumit dan unik, tidakkah kewajiban kita untuk merawat tubuh dengan sebaik-baiknya?

Marilah berdoa, “Ya Tuhan Allahku, mampukan kami untuk selalu menjaga dan merawat serta menghargai tubuh kami bahwa semuanya adalah anugerah dariMu. Amin”

Sumbangan dari TK  Fatima  Gedangan

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar