renungan 10-12 November 2014

Senin 10 November 2014

Tit. 1:1-9

Lukas 17:1-6

(Pw. St. Leo Agung ( Paus Pujangga Gereja)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Tercabutlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

Renungan       

Menegur seseorang yang berbuat salah memang tidak mudah. Selalu ada perasaan ragu, tidak nyaman atau bahkan takut orang yang kita tegur tidak terima. Tentu saja ini bukan tanpa alasan.  Pengalaman kita menunjukkan ternyata tidak mudah menegur seseorang dan dapat diterima dengan baik. Tidak jarang kita justru dimusuhi, dikatakan sok suci atau sok turut campur urusan orang. Meski tidak mudah, namun hari ini Yesus meminta para Rasul untuk mau mengur orang yang bersalah. Sebab dengan menegur, berarti kita membantu dia untuk dapat mengenali kesalahannya. Dengan teguran kita menyadarkan dia dari kesalahan dan membantu dia keluar dari kenikmatan dosa. Dengan demikian tujuan  kita menegur adalah untuk  menyelamatkan hidupnya. Inilah yang mesti menjadi pegangan kita jika kita mau menegur seseorang. Maka dalam menegur tidak boleh kasar dan harus disertai dan dilandasi dengan kasih.  Dalam injil hari ini disebutkan dua hal yang tidak terpisah, menegur dan mengampuni.  

Namun untuk mengampuni pun bukan perkara yang gampang. Mengampuni merupakan kata yang mudah untuk diucapkan tetapi terasa berat untuk dilakukan. Tak jarang kita mengatakan sudah memaafkan namun sebenarnya hati kecil kita belum bisa menerima. Ada orang yang mengatakan seberat-beratnya orang minta maaf maaf masih lebih berat memaafkan. Itu ada benarnya. Sebab orang hanya bisa memaafkan kalau dia sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Sering kita merasa paling benar dan mengganggap diri tidak layakk menerima perlakuan buruk dari orang lain. Atau setiap masalah kita besar-besarkan sehingga kita enggan untuk mengampuni atau memaafkan. Sesungguhnya mengampuni dan menegur yang berbuat salah  adalah hal yang istimewa dalam hidup bersama.

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, tentu kita sering mendoakan doa Bapa Kami. Namun sadarkah kita ketika mengungkapkan kalimat, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami? Setalah berdoa, maukah kita menegur teman dari kesalahannya? Apakah kita sudah berdamai dan mau mengampuni?

Dengan mengampuni kita pun turut mengambil bagian sebagai penyalur rahmat Allah yang Maha Rahim. Disaat mengampuni dengan murah hati kita akan mengalami kelegaan, kedamaian hati sehingga menjadi lepas bebas. Yesus mengajak kita untuk menjadi anak yang baik dengan cara saling mengampuni dan  rela memaafkan orang lain dengan tulus hati.  “Ya Tuhan, bukalah mata hati kami agar kami mampu menjalankan doa yang Engkau ajarkan kepada kami, bukan hanya dengan kata-kata tetapi juga dengan tindakan kami. Amin”

Sumbangan dari TK Fatima Gedangan

Tit. 2:1-8;11-14                                                                                                                            Selasa 11 November 2014

Lukas 17:7-10                                                                                                                               Pw. St. Martinus dari Tours

--------------------

"Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Renungan

Di tengah budaya konsumerisme sekarang ini, kita dibiasakan untuk tidak sekedar memenuhi kebutuhan tetapi mengejar keinginan. Celakanya keinginan itu tidak pernah terpuaskan. Satu keinginan tercapai muncul dua tiga keinginan yang lain. Bahkan satu keinginan belum tercapai sudah muncul lima enam keinginan yang lain. Semangat selalu kurang dan tidak pernah terpuaskan tumbuh subur dalam diri kita. Akibatnya jelas, kegelisahan akan selalu mewarnai setiap tarikan nafas hidup kita.

Merenungkan bacaan hari ini tentang hubungan tuan dan hamba, mengajak kita untuk bersyukur. Berhadapan dengan Allah kita bukanlah hamba dan tuan. Kita tela diangkat menjadi anak-anak-Nya. Bukankah kita telah diciptakan secitra dengan-Nya? Dengan segala anugerah yang melimpah, banyak potensi dan bakat yang kita miliki, anugerah kehidupan dan kesehatan yang boleh kita nikmati; tidakkah ini pantas untuk kita syukuri? Namun kita sendiri sering lupa atau bahkan dengan sengaja melupakannya. Kita hanya menuntut dan menuntut agar Tuhan memenuhi segala keinginan kita. Sudah layak dan sepantasnya kita mohon rahmat agar dimampukan untuk dapat bersyukur  dan bertobat. Hanya dengan bersyukur kita akan dapat menikmati setiap anugerah Allah yang terus mengalir dalam hidup kita.

Dengan anugerah yang telah kita terima ini, Allah menghendaki agar kita mengembangkannya dalam pelayanan kepada sesama. Kita berani mengambil peran dalam kehidupan bersama tanpa menuntut pujian atau ucapan terima kasih. Tidak seharusnya kita mengharapkan pujian dalam melakukan sesuatu. Juga ketika melakukan kebaikan. Seringkali kita sudah berdoa “Tuhan aku bersyukur sudah berbuat baik kepada temanku” padahal  yang kita lakukan hanyalah jasa yang tidak berarti untuk banyak orang. Kita menganggap diri sebagai orang yang paling berjasa dan disisi lain menyepelekan orang lain. Maka dengan gampang kita menyuruh teman agar mau menuruti perintah kita.  Bahkan jika perlu dengan menjebak dan memperalat dia. Dengan begitu kita menjadikan diri kita sebagai tuan dan menghambakan orang lain.  Sebagai anak Tuhan kita diajak untuk berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap tugas kita. Dalam melaksanakan pun  dengan tulus. baiklah kita belajar dari sikap hamba terhadap tuannya itu dengan berkata, ‘kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.’ Pertanyaannya sekarang ini adalah, apakah aku sudah menjalankan tugasku dengan baik? Apakah saya berterima kasih kepada orang yang sudah menolong saya dengan tulus?

Baik kita ingat pelajaran rohani Ibu Magdalena Daemen: Oleh karena ketaatan merupakan jalan yang paling aman untuk mendapatkan segala kebaikan, segala rahmat dan akhirnya segala kebahagiaan abadi, maka marilah kita dengan gembira menundukkan kepala di bawah beban Tuhan yang manis itu. Marilah kita dengan seksama menunaikan semua kewajiban yang dipercayakan kepada  kita sebagaimana mestinya orang Kristen.        

Sumbangan dari TK  Fatima Gedangan

 

Rabu 12 November 2014

Lukas 17:11-19

--------------------------           

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

Renungan

Salah satu dari 7 akar dosa yang bersemayam dalam setiap orang adalah dosa kesombongan. Karena kesombangan orang menjadi tidak mampu melihat peran orang lain dalam hidupnya. Bahkan lebih parah lagi ia tidak dapat dengan meudah melihat peran Allah dalam hidupnya. Akibatnya dia sulit berterima kasih dan bersyukur. Berbeda dengan orang yang rendah hati. Ia bisa menggantungkan hidupnya kepada pihak lain. Maka ia dengan mudah berterima kasih dan mensyukuri atas setiap pertolongan yang dia terima. Kiranya inilah pelajaran yang bisa kita petik dari bacaan injil hari ini.  

Dikisahkan Yesus menyembuhkan 10 orang kusta. Dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus, ternyata hanya satu orang yang kembali kepada Yesus untuk mengucapkan terima kasih kepada-Nya. Orang ini adalah orang Samaria yang dianggap kafir oleh orang Yahudi.  Karena sikapnya ini Yesus menganugerahkan keselamatan kepadanya. "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

Dibalik kisah tersebut Yesus ingin mengingatkan kita supaya tahu berterima kasih atas kebaikan Tuhan. Allah selalu mencurahkan rahmat-Nya bagi kita, namun adakah hati kita selalu terbuka untuk menerima dan menanggapi kasih-Nya? Sebab dengan membuka diri untuk menerimadan menanggapi kasih-Nya akan memampukan kita menyadari anugerah Allah dalam hidup kita. Ada banyak kebaikan Allah yang sudah dan terus akan kita terima. Kebaikan itu juga kita alami melalui sesama kita seperti orang tua, guru dan teman-teman kita. Bahkan tidak jarang kasih Allah kita terima melalui orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Dengan menyadarinya, kita juga diajak untuk bersyukur kepada Tuhan, melalui ungkapan doa-doa kita. Sudahkah kita bersyukur disetiap doa-doa kita kepada Tuhan dan juga dalam tingkah laku hidup kita? Apakah kita sudah berterima kasih kepada orang tua, guru dan teman-teman atas dukungan mereka? Bersyukur berarti menikmati kebaikan yang ada dalam hidup kita.

“Ya Yesus, kami bersyukur dan berterima kasih karena Engkau telah menyadarkan kami atas setiap kebaikanMu. Ajarlah kami untuk selalu bersyukur atas setiap rahmat yang Engkau berikan kepada kami.  Amin”

Sumbangan dari TK  Fatima Gedangan

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar