renungan 1-10 desember 2014

Senin, 1 Desember 2014

Yes. 4:4-16

Matius 8:5-11

------------------------------

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepadaNya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi! maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang! maka ia datang, ataupun kepada hambaku: “Kerjakanlah ini! maka ia mengerjakannya.” Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel!” Aku berkata kepadamu: “Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga.”

Renungan:

Suatu ketika seorang ibu datang ke gereja membawa sebotol air dan mohon berkat kepada Romo. Sebenarnya Romo ingin menolak permintaan ibu itu karena Romo tahu ia bukan orang katolik. Tapi sebelum Romo berkata-kata, ibu itu sudah lebih dulu mengatakan, “Saya bukan seorang katolik, tapi saya percaya berkat Tuhan akan turun kepada siapa pun yang memohonnya. Kalau Romo tidak keberatan bagikan berkat Tuhan itu kepada saya dan keluarga saya.” Mendengar itu, Romo pun langsung memberkati ibu itu dan dengan gembira memberikan berkat khusus pada sebotol air yang dibawanya.

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, Injil hari ini menceritakan iman seorang yang dianggap kafir karena ia bukan orang Yahudi. Dia dianggap tidak punya pemahaman tentang keselamatan yang dibawa Yesus. Namun, ternyata diam-diam dia mengimani Yesus, terutama karena perbuatan-perbuatan besar yang dikerjakan Yesus dalam rupa tanda dan mujizat. Yesus pun sadar bahwa Perwira ini membutuhkan lebih dari sekedar penyembuhan  hambanya. Karena itu, Yesus mengajaknya untuk pergi ke rumahnya. “Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja, maka hambamu akan sembuh.”

Yesus dibuat takjub dengan pernyataannya ini. Doa perwira ini kemudian menjadi doa yang selalu kita daraskan sebelum menerima Sakramen Ekaristi Kudus. Inilah ungkapan kerendahan hati yang mendatangkan berkat. Perwira ini percaya, pertemuan dengan Yesus saja sudah cukup memberikan berkat dan penyembuhan. Percayakah kita akan kekuatan Ekaristi kudus dalam hidup kita? Yakinkah kita bahwa Tuhan selalu hadir dan menurunkan berkatNya lewat doa serta ekaristi dan perjuangan hidup yang tak kenal lelah?

Dari dua cerita di atas kiranya kita bisa mengerti, berkat tidak terjun bebas dari langit. Berkat seperti kesembuhan misalnya perlu diusahakan. Santo Fransiskus dari Assisi adalah contoh pelayan Tuhan, yang menyatakan ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan dan menjadi abdi yang setia. Beliau mewariskan kata-kata bijak ini. “Jika Tuhan bisa menjadikanku saluran berkatNya, Tuhan pasti juga akan menjadikan sesamaku saluran berkatNya.” Di masa adven ini marilah kita dengan penuh iman merasakan kehadiran Tuhan dalam Ekaristi dan dalam keseharian hidup kita dengan berdoa: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.” Amin.

Sumbangan dari SMP Maria Mediatrix Semarang

 

Yes. 11:1-10                                                                                                                                          Selasa, 2 Desember 2014

Lukas 1-:21-24

-------------------------------

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."

Renungan:

Sering kali kita memandang rendah pada orang sekitar kita karena tampilan fisiknya. Orang banyak meragukan Presiden kita, Bapak Jokowi, karena tampangnya yang “ndeso”. Namun seperti nasehat bijak yang mengatakan bahwa  kita tidak bisa menilai sebuah buku itu baik atau tidak dari tampilan sampulnya. Pemahaman ini mestinya membuat kita sadar bahwa di hadapan sesama, kita tidak boleh terburu-buru menghakimi kualitas diri mereka. Kebanyakan yang lemah, tak berdaya, miskin atau yang dianggap bodoh malah memberikan kita banyak kebijaksanaan dan pengetahuan tentang kehidupan. Santo Fransiskus dari Assisi adalah contoh seorang yang hebat, kaya raya tapi memilih menjadi seorang peminta-minta, mengembangkan cara hidup miskin demi kerajaan Allah. Lebih dari itu, dia memilih menjadi miskin supaya orang-orang kecil di sekitarnya menjadi lebih bermartabat.

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, Injil hari ini berbicara tentang doa syukur Yesus. Yesus menyatakan ketaatanNya pada Allah BapaNya, bukan karena sukses besar yang dia raih, tapi karena pertemuan dan kebersamaanNya dengan mereka yang kecil dan lemah. Tuhan lebih memperhatikan kekecilan dan kesederhanaan kita daripada kemegahan yang kita tampilkan. Yesus mengalami kebesaran Allah BapaNya dalam diri orang-orang kecil dan lemah. Karya keselamatan yang Dia tawarkan diterima dengan sukacita di kalangan orang-orang kecil ini. Pengalaman ini membuat Yesus juga merasa bahwa Dia harus bersyukur pada Allah BapaNya dalam doa syukur dan pujian: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.”

Bagaimanakah sikap kita selama ini? Tidak jarang kita mengabaikan peran orang-orang kecil di sekitar kita. Mereka hadir dalam diri teman-teman satu kelas, teman satu sekolah, guru, ataupun karyawan sekolah. Bahkan sebenarnya mereka juga hadir dalam diri orang-orang yang kita jumpai baik yang kita kenal maupun tidak. Seringkali kita mengabaikan mereka karena kesombongan kita. Kita merasa diri lebih hebat dan mereka kita anggap tidak mampu. Hanya saja saudara-saudariku, bukankah kita semua memiliki kelebihan dan juga kekurangan? Bukankah kita juga membutuhkan orang lain agar kita bisa berkembang ke arah yang lebih baik? Bila Yesus mau bersyukur atas kehadiran sesama terutama mereka yang kecil dan lemah, apakah kita punya hati yang tulus bagi sesama dan mau belajar untuk rendah hati seperti Yesus?

Marilah di hari-hari penantian ini kita berdoa seperti doa St. Ignasius Loyola yang sering dinyanyikan dengan lantang pada perayaan Ekaristi Kudus: “… Ambillah ya Tuhan, kebebasanku, kehendakku, budi ingatanku…” Amin!

Sumbangan dari SMP Maria Mediatrix Semarang

1 Kor. 9:16-19;22-23                                                                                                                                 Rabu, 3 Desember 2014

Mat. 16:15-20                                                                                                                                 Pesta. St. Fransiskus Xaverius

-----------------------------

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Renungan:

Hari ini kita merayakan pesta St. Fransiskus Xaverius,  Missionaris dari Ordo Yesuit yang dikirim ke wilayah Asia. Menurut cerita, di wilayah Timur Indonesia, ada beberapa tempat persinggahan Fransiskus Xaverius yang diberi tanda salib dan bahkan ada sumur suci nan ajaib. Di Pulau kecil tempat persinggahan kapal mereka, St. Fransiskus Xaverius berdoa untuk mendapatkan air tawar bagi kepentingan mereka. Maka jadilah sumur Santo Fransiskus, yang sampai hari ini menjadi legenda Kudus di kalangan umat katolik di wilayah Timur. Menarik untuk kita renungkan mengenai kerelaannya untuk pergi jauh, meninggalkan kenyamanan dunia Eropa untuk menjadi pewarta kabar gembira bagi umat di Asia.

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, perjalanan panjang St. Fransiskus Xaverius ini kemudian mengingatkan kita akan Injil hari ini. "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Sabda ini juga berlaku bagi kita sekarang ini. Kita diminta untukmewartakan ke seluruh dunia. Padahal dunia kita sekarang ini tak ubahnya hutan belantara yang penuh dengan ancaman atas hidup kita. Namun ancaman keselamatan hidup kita tidak lagi berupa binatang buas ataupun berbisa, melainkan berupa gemerlapnya dunia. Ancaman keselamatan hidup tidak lagi tampil dalam wujud makhluk buas yang menyeramkan, melainkan dengan tampilan yang memikat penuh warna. Kenikmatan, harta kekayaan, kekuasaan, jabatan, popularitas dan sebagainya.

Dimulai dari hal yang kecil, seorang pelajar jadi melupakan tugas uatamanya yaitu belajar karena asyik nonton TV atau bermain Game.  Orang tua  melalaikan anak-anaknya hanya karena asyik dan tenggelam dalam pekerjaannya, mengejar karier dan popularitas. Seorang pegawai rela memfitnah sejawatnya agar dapat merebut posisi atau jabatannya. Seorang hakim dapat bertindak tidak adil hanya karena sudah menerima suap. Seorang pejabat dapat membunuh sesamanya hanya untuk menjaga agar aibnya tidak terbongkar ke publik dan mengancam kedudukannya. Begitu banyak ancaman  yang tampil dengan pesona dan daya tarik yang sulit ditolak. Dunia yang beginlah tempat kita arus mewartakan Kabar Gembira.

Iman kita kepada Yesus tidak cukup dinyatakan hanya dalam berdoa dan mendengarkan firmanNya. Kita mesti siap untuk pergi membantu sesama yang memerlukan kita. Santo Fransiskus Xaverius adalah tanda nyata kehadiran Tuhan bagi kita. Dia menjadi Rasul Yesus yang menggandakan berkat Tuhan bagi sesama terutama di Asia. Di masa-masa penantian ini, marilah kita menjadi seorang pengikut Kristus yang setia lewat keberanian kita untuk memberi diri dan apa yang kita punyai demi kebahagiaan orang lain. “Tuhan Yesus, Engkau mengajarkan para murid-Mu untuk selalu rela memberikan diri mereka bagi sesama. Bantulah aku agar selalu setia dan bersedia menjadi saluran berkatMu bagi sesamaku.” Amin.

Sumbangan dari SMP Maria Mediatrix Semarang

Yes. 26:1-6                                                                                                                                             Kamis, 4 Desember 2014

Matius 7:21, 24-27

-------------------------------

Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga. Setiap orang yang yang mendengar perkataanKu dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir, kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Renungan:

Seorang ayah nampak asyik bermain mobil-mobilan dengan kedua putranya. Kadang yang paling kecil seenaknya mendamprat ayahnya karena salah memainkan remoute mobil-mobilannya. Tapi, ayahnya dengan penuh sabar dan gembira menemani kedua putranya bermain. Ketika si Kakak berlaku kasar terhadap adiknya, sang ayah menjadi wasit yang bijaksana. Ia akan melerai dan memberikan teladan cinta kepada kedua putra kesayangannya itu. Pengalaman ini ternyata membekas dalam diri kedua putranya. Suatu kesempatan kedua putranya yang sudah bertumbuh dewasa itu membagikan pengalaman indah bersama ayahnya. Mereka tidak pernah melupakan apa yang ayahnya perbuat bagi mereka. Bahasa kasih sayang dan perhatian membekas dalam diri kedua putranya. Ini menjadi dasar yang kokoh bagi perkembangan kepribadian dan iman putra-putranya. Benar ungkapan ini, “Orang akan mudah lupa perkataan kita, tapi orang akan mengingat apa yang kita perbuat bagi mereka”.

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,  dalam injil hari ini Yesus menegaskan bahwa tidak semua orang yang berseru kepadaNya, Tuhan, Tuhan, akan masuk kerajaan Sorga, tapi hanyalah mereka yang melakukan kehendak BapaKu di Sorga. Ungkapan ini tidak bermaksud mengabaikan segala usaha kita untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Ini lebih menyangkut kesesuaian antara kata-kata dan tindakan. Kita mesti ingat, doa selalu memiliki buah. Bunda Theresa dari Calcuta pernah berkata: “Buah dari keheningan adalah doa, buah dari doa adalah iman dan buah dari iman adalah cinta. Buah dari cinta adalah pelayanan dan buah dari pelayanan adalah kedamaian.”  

Bayangkan kembali apa yang diperbuat sang ayah dalam cerita di atas. Dia tentu sadar, kata-kata nasihatnya mungkin akan hilang dan tidak membekas dalam benak kedua putranya. Tapi kata-kata yang terpancar lewat tindakan kasihnya bagi kedua putranya telah berbuah manis bagi kehidupan dan iman putra-putranya. Inilah yang menurut Yesus mendirikan rumah di atas dasar batu. Dasar rumah iman menjadi kuat dan kokoh kalau dibangun di atas dasar doa dan tindakan kasih bagi sesama. Doa tanpa tindakan kasih, sama dengan iman tanpa perbuatan. Dan iman tanpa perbuatan itu mati, kata St. Yakobus. Masa adventus selalu menantang kita untuk berdoa dan beramal. Ada banyak orang yang menantikan doa kita, tapi apakah kita bersedia mengulurkan tangan kasih kita bagi mereka yang lemah, kecil,miskin  dan berkekurangan?

Santo Fransiskus Assisi berdoa agar “Tidak berusaha untuk dicintai, tapi lebih mencintai.” Kita menjadi besar, bukan karena kita bisa melakukan hal-hal yang luar biasa, tapi lebih karena melakukan hal-hal kecil dan sederhana dengan cinta yang besar. “Tuhan, semoga imanku bertumbuh dan menjadi teladan bagi sesama sesama. Bukan Cuma dalam bentuk kata-kata kosong, tapi lebih kepada kesesuaian antara kata-kata dan tindakan kasihku bagi-Mu dan sesamaku. Tuhan, bantulah aku untuk bisa membangun rumah imanku yang kokoh di atas pijakan batu syukur, doa dan kasih bagiMu dan sesamaku. Amin...”

Sumbangan dari SMP Maria Mediatrix Semarang

Yes. 29:17-24                                                                                                                                         Jumat, 5 Desember 2014

Matius 9:27-31

-------------------------------

Ketika Yesus meneruskan perjalananNya dari sana, dua orang buta mengikutiNya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepadaNya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: ‘Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, katanya: “Jagalah supaya jangan seorangpun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyurkan Dia ke seluruh daerah itu.

 

Renungan:

Pada saat lomba stand up comedy di kompas TV beberapa waktu lalu, ada seorang peserta yang kaya inspirasi. Ia menceritakan pengalamannya mengajar di salah satu wilayah pedalaman. Dia menemukan bahwa ketika anak-anak diberi pertanyaan, mau jadi apa nanti ketika bertumbuh menjadi dewasa, hampir semuanya bercita-cita ingin menjadi seorang petani sukses. Mengapa semua mau jadi petani sukses? Jawabannya sederhana, karena ayah ibu kami cuman hidup sebagai petani kecil, lahan pun tandus dan susah mendapat bantuan pupuk. Ternyata keadaan dan corak hidup orang tua turut membentuk cita-cita mereka. Sedihnya, mereka tidak dilahirkan untuk bisa bermimpi besar karena kondisi orang tua mereka juga sangat terbatas

Dalam injil dikisahkan dua orang buta mendengar banyak tentang Yesus. Kondisi  tunanetra membuat mereka tidak mampu melihat apa yang terjadi di sekitar mereka. Namun, mata hati mereka tidak buta. Mata hati mereka jelas memandang apa yang dibuat Yesus. Bahkan mereka mengenal Yesus lebih dalam dari apa yang dibayangkan banyak orang. “Kasihanilah kami, Anak Daud!” Ungkapan ini menunjukkan bahwa mereka sudah mengenal siapa Yesus yang sebenarnya. Mimpi mereka untuk bisa melihat,dilimpahkan sepenuh hati kepada Yesus. Mimpi ini mungkin tidak akan pernah terwujud dalam pandangan manusiawi. Namun Iman akan Yesus  menjadi dasar yang paling dalam dan kuat bagi kedua orang buta ini untuk bermimpi bahwa mereka akan sembuh.  Akhirnya Yesus bersabda, “Jadilah padamu menurut imanmu.”  Iman bisa memungkinkan kita untuk disembuhkan, untuk sukses dan untuk bermimpi besar.

Mungkin dalam banyak hal, kita mengalami kekurangan. Mungkin secara fisik, kita tidak sanggup menyelesaikan persoalan hidup kita. Mungkin juga secara manusiawi kita merasa lemah dan tak berdaya. Tapi percayalah, bersama Yesus dan mengimani Dia, kita pasti memiliki harapan. Mata fisik kedua orang itu memang buta, tapi mata hati mereka tidak buta untuk tetap beriman dan berharap. Penyembuhan bisa terjadi karena kita memiliki iman dan mau disembuhkan. Kalau kedua orang buta yang sering disingkirkan oleh masyarakat saja bisa memiliki iman yang kokoh, bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah kita berani dan mau bermimpi untuk sesuatu yang lebih baik?

St. Fransiskus Assisi pernah mengatakan: “Dimana ada kasih dan kebijaksanaan, di sana pasti tidak ada rasa takut dan bimbang” Kedua orang buta berani memanggil Yesus, “Anak Daud”. Mereka memiliki keyakinan bahwa di hadapan Yesus ada kasih dan kedamaian serta kebijaksanaan. Dengan keyakinan itu  tidak takut atau pun bimbang untuk mewujudkan mimpi mereka lewat Yesus. “Kami bisa melihat!” Bersama Yesus, kita bisa mewujudkan mimpi dan cita-cita kita. “Ya Tuhan, semoga masa adven ini menjadi saat berahmat bagi kami untuk mengimani Dikau dengan tulus dan penuh keyakinan. Ampunilah kami bila kami tidak sungguh-sungguh mengimani Dikau. Kuatkan iman kami, agar yakin bahwa segalanya menjadi mungkin di hadapanMu, sebagaimana diimani kedua orang buta dalam injil. Amin...”

Sumbangan dari SMP Maria Mediatrix Semarang

Yes. 30:19-21;23-26                                                                                                                                                          Sabtu, 6 Desember 2014

Matius 9: 35- 10: 1, 6-8                                                                     

-------------------------------

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kataNya kepada murid-muridNya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Yesus memanggil kedua belas muridNya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan. Melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah : Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Renungan :

Hari ini Tuhan memanggil kedua belas murid-Nya dan diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyelamatkan segala penyakit dan segala kelemahan. Kita tahu bahwa para murid adalah orang-orang sederhana. Diantaranya adalah para penjala ikan yang notabene bukan orang cerdik pandai, terpelajar atau orang-orang dari golongan berpunya. Pada dasarnya hanya ada dua syarat utama yang diperlukan untuk dipilih menjadi murid-murid-Nya, yaitu sikap keterbukaan menanggapi panggilan dan kesediaan untuk menerima tugas perutusan. Sekarang ini kita masing-masing dengan cara yang khas dan dengan cara yang berbeda-beda dipilih menjadi murid-murid-Nya. Setelah menjadi murid-Nya kita mau apa? Sebagaimana dahulu para rasul diutus, sekarangpun Tuhan Yesus memberi tugas kepada kita, ”Pergilah kepada domba-domba yang hilang dan beritakanlah Kerajaan sorga sudah dekat.”

Yesus mengundang kita untuk ambil bagian dalam karya keselamatanNya, melalui tugas dan karya kita sehari-hari. Bukan masalah tinggi rendah atau besar kecilnya peran kita, namun yang lebih penting adalah etos kerja, dalam arti penghargaan terhadap apa yang kita kerjakan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, sejauh itu merupakan ungkapan syukur dan kasih kita kepada Tuhan, maka itu akan memberikan arti besar. Kita telah menerima kasihNya dengan cuma-cuma, saatnya kitapun memberikan secara cuma-cuma kepada Tuhan dan sesama.

Ibu Magdalena Daemen dengan tegas memberi nasihat untuk mengupayakan dan membangun sikap rendah hati. “Para Suster yang terjasih, jauhilah segala kesombongan, cinta diri, hasrat untuk mengambil hati dan takut dicela orang yang sayang sekali kerap kali menggeser ujud murni kita. Tetapi kita selalu mengikuti kata-kata para Rasul : Entah kamu makan atau minum, bangun atau tidur, kerja atau istirahat, lakukanlah semuanya demi cinta kepadaNya yang menguatkan kita.”

Nasihat Ibu Magdalena Daemen ini kiranya tidak hanya untuk para Suster saja, tetapi sangat baik juga untuk kita terapkan dalam hidup kita. Beliau menekankan arti pentingnya untuk selalu memperbaharui sikap hati. Kerendahan hati harus terus selalu diupayakan dan dijaga dalam setiap tugas dan karya yang kita lakukan. Ini menjadi pentying agar apa yang kita lakukan sungguh berkenan di hati Tuhan sendiri. Dengan tegas beliau mengatakan bahwa sikap sombong, angkuh, cinta diri, egois dan hanya mementingkan diri sendiri tidak akan pernah layak di hadapan Tuhan dan tidak akan pernah dapat menjadi berkat bagi sesama di sekitar kita. Maka marilah kita terus menerus mengupayakan sikap rendah hati dan tulus untuk berbagi berkat dengan cuma-cuma. Tuhan memberkati.

Sumbangan dari SMK St. Fransiskus Assisi Semarang

Yes. 40:1-5;9-11                                                                                                                                   Minggu, 7 Desember 2014

Markus 1 : 1-8

----------------------                                                                     

Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah. Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: “Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun : Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.” Demikianlah Yohanes Pembabtis tampil di padang gurun dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.” Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibabtis di sungai Yordan. Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan. Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membabtis kamu dengan Roh Kudus.”

Renungan:

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, hari ini kita memasuki minggu adven yang ke 2. Masa Adven menjadi masa penantian kita bagi  kedatangan Tuhan. Bukan penantian yang pasif, melainkan masa penantian yang bernuansa pengharapan dan pertobatan. Adven menjadi saat istimewa bagi kita untuk merenungkan kembali karya keselamatan Allah yang tampak dalam diri Yesus Kristus. Melalui kehaddiaran Yesus di tengah umat manusia, Allah berkehendak untuk memperbaharui manusia yang jatuh kedalam dosa, kembali menjadi ciptaan yang sungguh amat baik.

Maka baiklah kalau pada masa adven ini kita mencoba mengenal lebih dekat sosok Yohanes Pembabtis. Dialah yang telah dipilih oleh Tuhan untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan. Dialah suara-suara di padang gurun yang tiada lelah dan pantang menyerah selalu menyerukan pertobatan karena kedatangan Allah sudah dekat. Yohanes Pembabtis telah setia menjalankan panggilan yang diberikan Tuhan secara istimewa kepadanya. Ia setia menyuarakan kebenaran sampai menemui kematian yang amat tragis. Dipenggal kepalanya oleh Herodes.

Ibu Magdalena Daemen telah memberikan teladan bagi kita akan kerendahan hati yang tulus. Beliau menerima pergeseran kepemimpinan dengan baik dan tenang. Beliau tidak menggunakan kekuasaannya sebagai pendiri. Ia rela melepaskan pekerjaan yang menjiwai seluruh hidupnya selama ini. Ini hanya dapat terjadi karena beliau tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Semua yang beliau lakukan demi kemuliaan Allah Bapa di Sorga yang begitu dicintainya.

Kita telah menerima pembabtisan, menerima pencurahan Roh Kudus yang meneguhkan. Semoga hari ini menjadi penyadaran kembali akan tugas perutusan yang kita emban, melalui tugas-tugas yang menjadi tanggungjawab kita sehari-hari. Pada saat ini ada banyak tawaran yang menggiurkan, yang bias mengaburkan mata iman kita. Yang akan menggoncangkan kesetiaan kita. Tawaran terhadap materi, harta kekayaan, jabatan dan kekuasaan, popularitas, prestise dan yang lainnya. Tawaran terhadap kenikmatan yang serba instan. Dalam situasi seperti ini, kiranya tidak berlebihan kalau kita memohon: Tuhan bantulah supaya aku tetap dapat melihat Engkau dengan mata imanku, agar aku tidak mudah goncang oleh tawaran-tawaran yang menggiurkan. Bantulah aku untuk berani bersikap selektif, agar aku tetap setia kepada-Mu. Amin.

 

Sumbangan dari SMK St. Fransiskus Assisi Semarang

Kej. 3:9-15;20                                                                                                                                         Senin, 8 Desember 2014

Lukas 1 : 26-38

-----------------------                                                                               

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh Malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota gi Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika Malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Maha tinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada Malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab Malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu Malaikat itu meninggalkan dia.

Renungan

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita, bagaiman iman mulai bertumbuh, berkembang dan akhirnya berbuah. Proses perkembangan iman inilah yang dialami Maria. Ketika Malaikat memberikan salam, dan menyampaikan berita tentang rencana kelahiran Sang Juru Selamat melalui rahimnya, ia tidak langsung percaya. “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”  Kemudian  Malaikat itu memberikan pencerahan kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Dalam perasaan terkejut, heran bercampur rasa takut, ia mulai bertanya-tanya dalam hati hingga akhirnya berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Maria telah mengungkapkan imannya.

Untuk itu marilah kita layangkan pandangan hidup kita kepada teladan Bunda Maria. Meskipun menjadi pilihan Allah, bukan berarti hidupnya tanpa cobaan. Saat ia mengandung ia telah mengalami penderitaan. Melahirkan dikandang yang sangat sederhana. Menyertai perjalanan  Sang Putera yang ditolak dimana-mana. Bahkan pada akhirnya harus menerima jasad Sang Putera dalam pangkuannya. Kesedihan tiada tara harus ditanggungnya. Namun Bunda Maria tetap tabah dan setia.

Melalui Bunda Maria kita berdoa agar mendapatkan limpahan berkat untuk tetap setia. Dalam peziarahan hidup kita, dalam menghadapi setiap percobaan kita tetap bertekun. Dalam perjamuan Ekaristi bersama Bunda Maria hari ini Yayasan Marsudirini mohon berkat untuk kepengurusan periode 2014-2018. Semoga Tuhan memberkati segala rencana dan harapan yang kita impikan bersama.

Sumbangan dari SMK St. Fransiskus Assisi Semarang

Yes. 40:1-11                                                                                                                                         Selasa, 9 Desember 2014

Matius 18 : 12-14

-------------------------------                                                                                  

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor diantaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.”

Renungan

Melalui perumpamaan domba yang hilang ini kita diajak untuk semakin menyadari Allah sungguh mencintai kita. Allah tidak pernah menghendaki seorangpun dari kita hilang atau binasa. Hati-Nya selalu gelisah manakala mendapati salah satu dari kita memisahkan diri dan meninggalkan-Nya. Sesungguhnya tak jarang kita mencari jalan sendiri dan keluar mencari jalan yang tak dikehendaki-Nya. Kitapun jatuh kedalam dosa. Namun kita sungguh berharga dimata Allah. Ia akanselalu berusaha mencari dan menemukan kita untuk kembali kejalan-Nya. Begitu besar kasih Allah hingga rela mengorbankan diri untuk menebus dosa-dosa kita. Karena kasih-Nya Ia rela mengorbankan diri sampai wafat dikayu salib layaknya penjahat besar yang ditakuti dan dibenci masyarakatnya.

Untuk itu dimasa adven ini, marilah kita bersama-sama saling mendukung hingga dapat semakin mawas diri, menata hidup kita kembali. Sebagaimana Yesus tak ingin kehilangan kita, maka kitapun perlu berupaya untuk tidak jatuh kedalam pencobaan dan memisahkan diri dari rengkuhan kasih-Nya. Janganlah kita tergoda memilih jalan sendiri dan hilang dari pandangan-Nya.

Bapa Fransiskus Assisi telah memberikan teladan hidup bagi kita. Dalam sepanjang sejarah hidup pertobatannya, ia telah menjadi Yesus yang tersalib sebagai focus seluruh hidupnya. Tidak ada yang lebih penting dari itu. Sabagaimana Yesus yang berupaya membebaskan manusia dari penderitaan akibat dosa, bapa Fransiskus juga selalu mengupayakan pertobatan bagi setiap orang yang dijumpainya. Dengan kelembutan dan penuh kasih, beliau memberikan teladan lewat hidupnya sendiri. Berkat teladannya inilah banyak orang yang terselamatkan hidupnya.

Marilah kita selalu mengupayakan diri untuk menghadirkan kasih Yesus dalam setiap kehadiran kita di tengah sesama. Bapa Fransiskus Assisi doakanlah kami, supaya kami dapat menikmati janji Kristus.

 

Sumbangan dari SMK St. Fransiskus Assisi Semarang

 

Yes. 40:25-31                                                                                                                                   Rabu, 10 Desember 2014

Matius 11 : 28-30

-------------------------------                                                                                  

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-ku pun ringan.”

Renungan

Kuk adalah kayu yang dipasang pada leher dua sapi jantan untuk membajak sawah ataupun membawa beban. Kuk inilah yang akan bersentuhan dengan kulit si sapi. Kita dapat membayangkan andaikata kayu itu tidak halus pastilah akan menyakiti leher si sapi. Kalau kuk atau kayu itu tidak pas terpasang dengan enak, pastilah beban yang ditanggung akan terasa semakin berat. Si sapi harus menanggung bukan saja beratnya beban tetapi juga sakitnya kuk yang terpasang dengan tidak tepat. Namun sebaliknya kuk yang terpasang dengan nyaman, maka beban yang harus ditanggung tidak akan terlalu menyiksa. Maka menarik untuk mencermati sabda Yesus hari ini “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Yesus mengundang kita semua untuk mau datang kepada-Nya dengan membawa segala beban hidup yang kita miliki. Dalam kehidupan yang semakin komplek seperti sekarang ini, tak jarang beban persoalan yang harus kita tanggungkan terasa berat dan menyesakkan. Yesus pun berjanji akan menolong kita. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat ,Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Yesus berjanji mau menolong kita, kalau kita mau datang kepada-Nya. Yesus berjanji mau membantu memasangkan kuk beban persoalan hidup kita agar pas dan enak membawanya. Dua kata penting yang ditekankan adalah lemah lembut dan rendah hati. Hanya dengan dua semangat itu maka kita akan dimampukan menanggung beban persoalan kita sehari-hari. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Bapa Fransiskus Assisi telah mewariskan kepada kita semangat kerendahan hati dan kelemah lembutan. Pada saat menemukan kelemahan saudaranya, beliau tidak langsung menegurnya di depan umum. Tidak juga menjadikannya bahan olok-olok. Dengan lembut ia ajak para saudaranya untuk dapat mengukur kekuatan masing-masing. Juga dalam hal berpuasa dan mati raga. Dengan demikian apa yang dilakukan tidak akan membahayakan diri sendiri dan kepentingan kita kepada sesama.

Bagaimanakah dengan diri kita saat ini? Beranikah kita dengan rendah hati membawa segala beban persoalan yang kita punya ke hadapan Tuhan sendiri? Beranikah kita dengan sikap rendah hati mempersilahkan Tuhan berkarya melalui hidup kita? Inilah yang perlu terus menerus kita upayakan.

 

Sumbangan dari SMK St. Fransiskus Assisi Semarang

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar