renungan 11-12 desember 2014

Kamis, 11 Desember 2014

Yes. 41: 13 – 20

Mat. 11: 11 - 15

------------------------

Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserang dan orang yang menyerangnya mencoba menguasainya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan —  jika kamu mau menerimanya  —  ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Renungan:

Suster Ibu, Bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, Injil hari ini berbicara tentang seorang tokoh besar pada jaman Yesus. Dialah suara-suara di padang gurun, yang tiada lelah dan pantang menyerah selalu menyerukan pertobatan karena kedatangan Allah sudah dekat.  Dialah yang telah dipilih Tuhan untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan. Yohanes pembabtis telah setia menjalankan panggilan yang diberikan Tuhan secara istimewa kepadanya. Ia tidak pernah memegahkan diri. “Membuka tali kasut-Nya-pun aku tidak layak.” Itulah yang dikatakannya kepada orang banyak.

Yesus datang ke sungai Yordan, memberi diri untuk dibaptis oleh Yohanes. Meski Ia adalah  Putra Allah, Yesus berkenan merendahkan diri sebagai tanda hati Yesus yang kaya dengan kerendahan hati. Sekaligus menunjukkan kepada kita agar berani untuk menghargai dan menghormati sesama. Berani bersikap rendah hati dalam membina relasi satu sama lain tanpa membeda-bedakan status, pangkat dan derajat seseorang.

Bapa Fransiskus dan ibu Magdalena Daemen pun telah memberikan teladan demikian bagi kita semua, dan justru dari semangat kerendahan hatinya itulah hingga sekarang kita merasakan hasilnya dalam pendampingan para suster-suster Fransiskanes (OSF) lewat karya pendidikannya.

Pada masa Adven ini kita sedang menantikan kedatangan Yesus. Masa adven dipahami sebagai masa penantian kedatangan Tuhan, masa adven dirayakan dengan maksud menantikan kedatangan Tuhan yang kedua pada akhir zaman dengan penuh harapan. Dengan demikian masa adven menjadi masa penantian kedatangan Tuhan, yang bernuansa pengaharan dan pertobatan. Pengharapan yang diwarnai dengan pesta kegembiraan. Adven menjadi saat istimewa bagi kita untuk merenungkan karya penyelamatan Allah, yang tampak dalam diri Yesus Kristus. Allah berkehendak untuk memperbaharui manusia  berdosa kembali menjadi ciptaan yang sungguh amat baik. Dan kita masih punya waktu untuk mempersiapkan diri. Maka alangkah bijaksananya jika kita mengawali dari diri sendiri untuk mendengarkan Allah dan membiarkan diri diselamatkan oleh-Nya. Sebagaimana Yesus sudah lebih dulu memberikan contoh dan bukti, maka pertanyaan bagi kita bersama yakni;  sanggupkah aku melakukan hal yang sama?

 

Doa;

‘Tuhan Yesus bantulah aku untuk membuka hatiku sehingga menjadi jalan masuk bagi-Mu, dan belajar untuk lebih menghargai dan menghormati sesamaku, tanpa membeda-bedakan status dan latar belakangnya’. Amin.

 

Yesaya 48:  17 – 19                                                                                                                 Jumat, 12 Desember 2014

Mat.  11:  16 – 19

-------------------------

Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya:  Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”

 

Renungan :

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih, pernahkah Anda berhadapan dengan orang yang punya kecenderungan untuk selalu menolak pendapat orang? Tidak peduli ada dasar yang dapat dipertangungjawabkan atau tidak yang penting, pokoknya harus beda. Ia menolak sekali pun tanpa alasan yang mendasar. Yang penting ia menentang. Sikap yang semacam ini sulit untuk diberi pengertian dengan cara apa pun. Dan sikap semacam inilah yang dinampakkan pada diri kaum Farisi dan ahli-ahli taurat ketika berhadapan dengan Yesus. Mereka menutup mata atas kebaikan yang Yesus berikan. Mereka lebih melihat ancaman akan pengaruh meeka di kalangan masyarakat Yahudi daripada tawaran keselamatan yang Yesus berikan.

Maka Yohanes pun tidak luput dari celaan, disaat dia tidak makan atau tidak minum, dan hidup di padang gurun mereka bilang ia kerasukan setan.  Yesus pun tidak luput dari celaan yang sama, ketika Ia makan dan minum, dan mereka berkata; Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum. Yesus dikatakan sebagai sahabat pemungut cukai dan orang berdosa hanya karena Yesus ingin memperhatikan dan mengasihi mereka.  Bagi Yesus cinta-Nya tidak hanya untuk orang baik saja. Bahkan dalam banyak peristiwa Yesus menunjukkan bahwa justru orang berdosa yang lebih membutuhkan cinta-Nya.

Bapa Fransiskus dan ibu Magdalena Daemen juga mengalami hal yang sama, bagaimana keinginan, ide, gagasannya dianggap tidak masuk akal, dicela dan diragukan. Namun karena Allah yang mendukungnya, Ibu Magdalena Daemen mampu meraih impian dan kerinduannya walau dalam penantian yang panjang. Ada baiknya kita mengingat pesan Ibu Teresa Calkuta; “teruslah berbuat baik meski kebaikan kita hari ini dilupakan orang dan terus dilupakan. Jadi mendengarkan ajaran Yesus saja tidak cukup, perlu melibatkan hati, mendengar dengan kebajikan dan tahu tujuan mulia Yesus untuk apa Ia mengajar. Sikap ini seharusnya menjadi sikap dalam mendengarkan Tuhan dan juga sesama, terutama saat kita mendampingi siswa-siswi kita dalam KBM, (mendampingi mereka semua dengan “hati”, pertanyaan bagi kita semua yakni;  “sudahkah aku menjadi pendengar yang baik bagi relasi ku dengan keluarga besar sekolahku?

Doa :

‘Yesus sumber kasih, isilah hatiku dengan cinta kasih-Mu yang melimpah sehingga tidak ada lagi relung untuk membenci apalagi menyakiti sesamaku. Kepada-Mu aku mohon dan berserah, sebab Engkaulah sumber kebaikan sejati’. Amin.

 

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar