renungan 13-15 desember 2014

Sabtu,  13   Desember   2014

Sirakh  48: 1 – 4, 9 – 11                                                  

Mat.   17:  10 – 13

----------------------------

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?"  Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu  dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka."  Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

Renungan :

Suster, Ibu, Bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, dewasa ini dunia kita banyak menawarkan kemewahan-kemewahan yang memabukkan. Dunia sekarang ini membawa kita untuk semakin mengejar kebutuhan-kebutuhan yang tidak pernah tercukupi. Mengejar keinginan-keinginan yang tidak pernah terpuaskan. Orang dibuat semakin tenggelam dalam upaya mengumpulkan harta kekeyaan, kekuasaan, atau pun popularitas. Orang dibuat semakin egois dan menutup diri terhadap kebutuhan sesama di sekitarnya. Orang dibuat semakin menutup mata atas kebenaran, keadilan, kejujuran, belas kasih yang Tuhan tawarkan. Korupsi, kolusi dan nepotisme tumbuh subur. Kejahatan disertai kekerasan dan bahkan sampai pembunuhan semakin mudah di lakukan. Ini semua berkat kacamata setan yang mampu mengubah hal yang salah menjadi benar, dan sebaliknya yang benar menjadi kelihatan salah. Setelah terbiasa, maka tanpa kacamata setan pun kita sudah menutup mata kita sendiri terhadap kebenaran itu.

Kiranya kacamata itu juga sudah dipakai sejak jaman Yesus hadir di tengah masyarakat Yahudi. Kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat telah memakainya. Akibatnya mereka tidak bisa melihat atau bahkan dengan sengaja tidak mau melihat kehadiran Yohanes Pembabtis sebagai utusan yang mempersiapkan jalan bagi kehadiran Sang Mesias yaitu Sang Juru selamat. Mereka menolak dan tidak mengakui Yohanes sebagaimana halnya mereka pun menolak dan menyangkal kehadiran Yesus sebagai Sang Juru selamat. 

Injil hari ini mengingatkan kita saat Elia datang tapi tidak dikenal, demikian pula dengan Yohanes Pembaptis. Elia mewartakan perlunya “membaharui segala sesuatu” sementara Yohanes mewartakan mendesaknya mengambil jalan lurus untuk menuju Tuhan. Kita diajak oleh Gereja untuk menghidupi masa Advent dengan hati yang penuh sukacita, yaitu menyesali dosa kita, bertobat dan merayakan rekonsiliasi lewat sakramen Tobat dan kembali dekat dengan Allah.

St. Fransiskus Asisi pun memberi teladan hidup melalui pertobatan yang total dan keras, hingga akhirnya Ia mendapatkan karunia Allah yakni stigmata luka-luka Yesus yang Kudus. Kita harus sabar dan rendah hati, serta merefleksi diri. Belajar dari tantangan dan hambatan yang ada untuk memurnikan motivasi hidup iman, harapan dan kasih kita.  Marilah  merenungkan seruan Elia dan Yohanes Pembaptis dalam hidup kita, sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan  apa yang hendak aku perbaharui dalam menyiapkan Natal?  Jalan hidupku yang mana yang hendak aku luruskan?

Doa;

Tuhan Yesus, terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan kepadaku untuk memperbaiki sikapku, dan kembali mendekat kepada-Mu. Aku mohon dampingilah aku dalam memperbaiki kebiasaan-kebiasaan burukku yang dapat menghambat pertumbuhan rohaniku. Amin.  

 

 

 

Bacaan  I         Yesaya  61: 1 – 2a, 10 – 11                                                                    Minggu, 14 Desember 2014

Bacaan :         Yohanes 1: 6 – 8, 19 – 28

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.  Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.  Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?"  Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias."  Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"  Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."  Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.  Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?"  Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,  yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."  Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

 

Renungan:

Dalam Mat 11: 11 Yesus memuji Yohanes Pembabtis dengan mengatakan, “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis. “ Namun hari ini, kitamendengar Yohanes memberi kesaksian akan Yesus dengan mengatakan, "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,  yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."  Ini merupakan kesaksian yang luarbiasa dari orang besar sekaliber Yohanes Pembaptis. Sudah semestinya kita dengan mudah menangkap pesan dibalik kesaksian itu, yaitu Yesus sungguh Maha Besar. Dengan rendah hati Yohanes Pembabtis memberikan pengakuannya. Ia bukan siapa-siapa di hadapan-Nya.

Ibu Magdalena Daemen dan Bapa Fransiskus pun mewariskan keteladanan hidup yang rendah hati, sepanjang hidupnya. Bagaimana dengan saya dan Anda?   Apakah kita masih suka memperlihatkan ‘kesombongan’ kita sebagai orang yang paling layak, di dalam Gereja, di sekolah  dan di hadapan Tuhan hanya karena status kita, kedudukan kita, dan apa yang kita miliki?  Menjelang Natal tahun ini marilah kita belajar untuk lebih rendah hati, mengakui kebesaran Tuhan di dalam hidup kita, mendahulukan Dia di atas segala sesuatunya dalam hidup kita. Marilah kita menghantar hadirnya Yesus dalam hati orang-orang disekitar kita sehingga tercipta kehidupan yang lebih adil, damai dan manusiawi.

 

Doa;

Tuhan Yesus, bila Yohanes pembatis saja menyatakan diri begitu tidak layak dihadapaan-Mu, apalagi aku Tuhan. Tetapi Engkau begitu baik dan mencintaiku. Berilah aku hati yang taat akan kehendak-Mu.  Maka dampingi dan sertailah aku untuk belajar taat dalam hal-hal kecil dan sederhana dalam hidupku sehari-hari. Amin.

 

Bil.  24;  2 – 7, 15 – 17                                                                                                                         Senin,  15  Desember  2014

Mat.   21: 23 – 27

------------------------------

Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?"  Jawab Yesus kepada mereka: "Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.  Dari manakah baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi." Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Dan Yesuspun berkata kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu."

 

Renungan :

Yesus begitu tenar, favorit, terkenal dan dikagumi oleh banyak orang. Ia semakin disukai karena mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya dan kewibawaan-Nya dalam mengajar. Yesus mengajar dengan penuh kuasa Allah. Padahal di mata tua-tua Yahudi dan kaum Farisi, Yesus tidak datang dari golongan terpelajar, para penguasa, ahli Taurat, golongan para imam, atau tua-tua Yahudi. Yesus hanyalah anak tukang kayu dari pinggiran desa Nazaret. Mereka tidak mau percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang turun ke dunia  menjadi manusia. Dengan kuasa-Nya, Yesus ingin memberdayakan orang untuk berkembang dalam iman. Inilah sebabnya mereka menjadi iri dengan ketenaran Yesus. Sekalipun dalam hati kecil mengakui kebenaran ajaran Yesus, namun kekhawatiran akan posisi mereka di  mata masyarakat  Yahudi ternyata lebih kuat menguasai dirinya. Maka mereka selalu mengikuti kemana pun Yesus mengajar. Mereka dengan seksama mendengarkan setiap perkataan yang Yesus ucapkan. Tujuannya satu. Menemukan kesalahan dari perkataan Yesus. Manakala tidak menemukan maka mereka mencoba menjebak Yesus dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menjerat Yesus. Namun usaha ini pun tidak pernah berhasil. Namun mereka tidak pernah menyerah. Rasa iri yang dibiarkan bertumbuh kembang dengan subur dalam hati mereka menyebabkan kebencian kepada Yesus semakin besar muncul dalam hati mereka.

Suster, Ibu, bapak dan saudara-sauariku yang terkasih dalam Kristus, rasa iri membuat seseorang sulit menerima keberhasilan orang lain. Orang yang diliputi iri akan selalu mencari cara untuk menjegal mereka yang telah berhasil. Namun mereka yang sungguh dekat dengan Tuhan tidak akan khawatir melihat keberhasilan orang lain, bahkan ia akan menghargai mereka yang berhasil. Sebaliknya orang yang dekat dengan Tuhan  tidak perlu khawatir dengan mereka yang diliputi iri hati karena Allah selalu menyediakan jawaban atas segala pertanyaan dan jebakan mereka. Maka sebagai pengikut Yesus baiklah kita melihat diri kita masing-masing, sejauh mana aku sudah mengakui kuasa Yesus dengan iman yang penuh?

Doa :

‘Tuhan, semoga aku tidak mudah iri dengan keberhasilan orang dan ingin merecokinya. Semoga aku lebih berani belajar dari keberhasilan mereka’. Amin.

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar