renungan 16-18 desember 2014

Selasa, 16 Desember 2014

Zef. 3 : 1 – 2 , 9 – 13

Mat. 21 : 28 -32

--------------------------

"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."

Renungan

 

 “Kok bisa ibu begitu percaya dengan orang yang baru ibu kenal?” tanyaku tak habis mengerti. Ibu memang sudah seorang diri di rumah. Hari itu beliau menerima tamu sepasang suami istri yang masih muda. Awalnya bertanya apakah ada kamar yang dikontrakkan. Karena terkesan dengan kesopanan, kelemahlembutan dan halus tutur katanya, ibu mempersilahkan mereka memakai kamar depan. Namun ketika bangun tidur siang ibu sudah tidak mendapatkan kedua orang tamunya itu. Bersama dengan kepergian mereka ternyata tas dan dompet ibu ikut raib.

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, bacaan injil hari ini mengisahkan perumpamaan dua orang anak yang disuruh bapaknya. Mungkin kita terkesan dengan jawaban anak pertama, “Baik, Bapa.“ Namun ternyata dia tidak berangkat dan melaksanakan apa yang diminta bapanya. Sebaliknya, anak yang kedua dengan tegas menolak, ”Aku tidak mau” katanya tanpa memberikan penjelasan.Tetapi nampaknya dia menyesal atas sikapnya itu, maka ia segera pergi mengerjakan perintah Bapanya. Dari kedua peristiwa di atas nampak bahwa kata-kata belum bisa menjadi tolok ukur kualitas seseorang. Kualitas seseorang bisa dilihat dari keseluruhan sikap, tutur kata dan tindakannya. Untuk membangun jati diri yang berkualitas, kita membutuhkan waktu yang sangat lama. Berbagai proses perlu kita lakukan untuk pembentukan karakter. Salah satunya adalah dengan pendidikan di sekolah. Tetapi itu bukan satu-satunya, kita juga dapat belajar  dari teladan dan contoh nyata yang ada di sekitar kita.

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, kedatangan Kristus merupakan kabar gembira bagi seluruh umat yang percaya akan karya penyelamatan Tuhan. Karena kasih-Nya yang begitu besar, Allah Bapa telah berkenan mengutus Putera Tunggal-Nya untuk turun ke dunia menebus dosa-dosa kita. Pada masa Adven ini kita di bantu gereja untuk mempersiapkan perayaan kedatangan Tuhan di tengah umat manusia. Masa penantian bukanlah penantian yang menjemukan tetapi sebaliknya merupakan masa yang penuh dengan kegembiraan dan pengharapan karena yang kita tunggu adalah kabar gembira dari Tuhan sendiri. Maka marilah kita gunakan masa penantian ini untuk membangun pertobatan untuk memperbaiki kualitas hidup kita. Dengan demikian kita akan semakin layak menyambut kehdiran-Nya. Tuhan memberkati.

 

Disusun oleh : Agustina Ika Hadi SR dari  SD Marsudirini Cor Jesu

Kej. 49:2,8-10                                                                                                 Rabu, 17 Desember 2014

Mat. 1:1-17

----------------------

Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria, Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa, Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia, Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia, Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor, Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus

 

Untuk direnungkan

          Seorang guru yang bijak meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantong plastik bening ke sekolah. Lalu Ia meminta setiap anak memasukkan seekor udang untuk setiap orang yang tidak mau mereka maafkan. Mereka juga diminta untuk menuliskan nama orang itu serta mencantumkan tanggal di dalamnya. Ada beberapa anak yang memiliki kantong yang ringan, namun banyak juga anak yang memiliki kelebihan beban karena terlalu banyak udang  di dalamnya.

        Mereka diminta membawa kantong bening itu siang dan malam. Kemana saja harus mereka bawa. Kantung itu harus ada di sisi mereka kala tidur. Di letakkan di meja saat belajar, dan ditenteng saat berjalan. Tugas ini berlangsung selama satu minggu penuh. Lama kelamaan kondisi udang itu semakin busuk dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini, hingga akhirnya waktu satu minggu itu pun selesai. Ternyata banyak yang memilih untuk membuang daripada menyimpannya terus menerus.

Keesokan harinya, sang guru bertanya “ayo anak-anak, bagaimana pendapat kalian, pengalaman apa yang kalian dapatkan selama satu minggu ini tentang udang itu?” Salah seorang diantara murid itupun menjawab, “Melelahkan sekali Bu, hidup kami terasa berat dan terhimpit, dan kami juga terganggu karena bau yang tidak enak.” Dan sepertinya masih banyak keluhan-keluhan lainnya. Dengan senyum yang penuh bijak guru itu berkata “Iya, itu merupakan sebuah perumpamaan yang baik tentang harga yang harus kita bayar untuk sebuah kepahitan yang kita simpan dan untuk dendam yang kita genggan terus menerus. Getir, berat, serta mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Bisa jadi itulah nilai yang akan kita dapatkan saat memendam amarah dan kebencian, apalagi dendam pada seseorang. Sering kali kita berpikir memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun ingat,  kita harus kembali belajar bahwa pemberian itu juga hadiah buat diri kita sendiri untuk sebuah kebebasan. Kebebasan dari rasa tertekan, dari rasa dendam, amarah, dan kedengkian hati.

        Suster, Ibu,Bapak dan saudara-sadariku yang terkasih dalam Kristus, bacaan Injil hari ini mengisahkan silsilah Yesus Kristus menurut  Matius. Ada kemungkinan kita tidak tertarik bahkan bosan dengan nama-nama yang tercantum dalam silsilah Tuhan Yesus itu. Bila didengarkan, nama-nama itu hanya sekedar deretan nama yang bagi kita sama saja. Namun sebenarnya dari silsilah itu mau disampaikan bahwa Yesus Kristus adalah Dia yang menggenapi dan menjadi puncak dari seluruh rangkaian sejarah umat Israel. Yesus Kristus memang ingin menggenapi sejarah hidup manusia yang tidak bersih dan banyak aib ini. Kristus datang justru sebagai Sang Penebus untuk menebus dosa manusia. Marilah kita yakini bahwa kedatangan  Tuhan Yesus juga untuk menebus sejarah hidup kita,  dosa kita. Tuhan memberkati.

 

                                                              Disusun oleh Ignatius Luwi Yanto, S.Pd  dari SD M.Cor Jesu

 

Yer. 23: 5-8                                                                                                  Kamis, 18 Desember 2014

Mat. 1: 18-24

-------------------------------------------------

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.

Renungan

Suster, ibu, Bapak dan saudara-saudariku yang terkasih, hari ini kita diajak untuk mengenal lebih dekat dengan Santo Yusuf. Apa yang akan kita katakan kalau tiba-tiba pacar atau tunangan kita hamil, sementara kita tidak berbuat apa-apa? Kemarahanlah yang akan meluap dari diri kita. Perasaan tersinggung, dikhianati akan menyertai tuduhan kepadanya bahwa ia telah berselingkuh dengan orang lain. Sangat mungkin kita akan bercerita kemana-mana akan kebobrokan tunangan kita itu sebagai ungkapan kemarahan sekaligus upaya membersihkan diri. Namun Santo Yusup tidak demikian. Karena ia seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Seandainya kita kemudian mengalami itu percayakah kita? Sangat mungkin kita masih bertanya: Benarkah ini malaikat Tuhan? Tetapi tidak demikian yang terjadi dengan Santo Yusuf. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya. Dengan setia dan penuh tanggungjawab Santo Yusuf melindungi Yesus dan Bunda Maria.

Maka marilah kita berdoa mohon kepada perlindungan Santo Yusuf untuk seluruh pekerjaan kita hari ini.

Santo Yosep, yang kekuasaannya meluas meliputi segala kesukaran dan kebutuhan kami. Engkau yang dapat memungkinkan apa saja yang sesungguhnya tidak mungkin. Layangkanlah pandanganmu yang penuh cinta kebapaan kepada segala urusan kami anak-anakmu.

Bunda kami, perawan Maria tersuci, Ratu kami demi cinta Yesus, kami mohon kepadamu, sudilah memperhatikan usaha-usaha kami dan menyelesaikannya  dengan hasil yang terbaik.

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar