renungan 22-26 Desember 2014

Senin  22, Desember 2014

Lukas 1:46-56

--------------------------------

46Maria memuliakan Allah dan berkata, “Jiwaku memuliakan Tuhan, 47dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 48sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 49karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku, dan nama-Nya adalah kudus. 50Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 51Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya, dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 52Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya, dan meninggikan orang-orang yang rendah; 53Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 54Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 55seperti yang dijanjikan-Nya kepada Nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.” 56Kira-kira tiga bulan lamanya Maria tinggal bersama Elisabhet, lalu pulang ke rumahnya.

 

Renungan

Hari ini Bunda Maria menyampaikan kidung pujian kepada Tuhan. Ia mengajar kita bagaimana memuji Tuhan atas setiap karya Tuhan dalam hidup kita. Hanya pribadi yang mengalami perbuatan-perbuatan besar Tuhan yang dapat mengagungkan dan memuji kebesaran Tuhan. Bagaimanakah dengan diri kita? Apakah kita juga mengalami karya Tuhan dalam hidup kita? Sesungguhnya dalam hidup yang kita alami Tuhan selalu berkarya. Peristiwa kelahiran seorang anak  adalah “Perbuatan-perbuatan besar Tuhan” maka kita perlu menghormati hidup kita sendiri dan hidup orang lain. Dan tidak hanya berhenti pada peristiwa kelahiran, ketika tidur kita bisa bangun lagi dan mengalami hari yang baru, hangatnya mentari pagi, nafas yang terus kita hirup, kasih sayang orang tua yang terus menerus kita dapatkan, teman yang baik, suster, bapak,ibu guru yang setia dan sabar membimbing kita dan tentu saja masih banyak lagi yang menunjukkan karya Tuhan dalam hidup kita.  Bila kita sadar akan hal-hal baik yang setiap hari kita alami maka akan kita akan berkembang menjadi pribadi yang tahu bersyukur dan berterima kasih. dari sana kita akan selalu punya kerinduan untuk memuliakan Tuhan. Pada akhirnya kita juga akan  selalu berusaha berbuat baik dalam hidup kita.   

“Mulai sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia.” Bunda Maria telah diangkat menjadi bunda gereja, bunda kita semua. Hari ini pun seluruh bangsa Indonesia mengangkat hari ini sebagai hari ibu. Dengan merayakan hari ibu kita diajak untuk secara khusus melihat dan merasakan kembali kasih ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan kita. Dalam peristiwa mengandung jelas sarat dengan pengorbanan. Sembilan bulan sepuluh hari ibu harus membawa diri kita di dalam kandungannya. Perut yang membesar, jelas bukan kondisi yang  nyaman. Ibu tidak lagi segesit manakala kandungannya kosong. Tidur pun tidak bebas lagi. Saat melahirkan tiba. Ibu harus berjuang, mempertaruhkan nyawa. Penderitaan yang luar biasa harus ditanggungkannya.

Tugasnya belum selesai. Bayi mungil ini masih tergantung kepadanya. Paling tidak satu setengah tahun ibu harus merelakan ASI untuk si jabang bayi. Malam hari ia harus bangun manakala si bayi menangis karena lapar. Belum lagi kalau si anak sakit. Beliau akan rela begadang semalaman tanpa sekejap pun melepaskan pandangannya dari si buah hati.  Dengan kasih, ibu selalu menjaga dan merawat si anak hingga bertumbuh dan berkembang dengan sehat. Ketika si anak beranjak besar pun ibu selalu menolong menyertai perjuangan si anak. Kasih ibu sepanjang masa. Kasih ibu tiada batas. Kasih ibu tak menuntut balas.

 

Bagaimanakah sikap kita kepada ibu kita selama ini? Sudahkah aku membalas kasih Ibu yang telah kita terima selama ini? Masih ada waktu, kalau Anda mau.

 

 Sumbangan TK Martinus dan SD Antonius 1 Semarang

Selasa,  23 Desember 2014

Lukas 1:57-66

---------------------------------

57Genaplah bulannya bagi Elisabeth untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki. 58Ketika para tetangga serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepada Elisabet, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. 59Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu, dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya. 60Tetapi Elisabet, ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes!” 61Kata mereka kepadanya, “Tidak ada diantara sanak saudaramu yang bernama demikian.” 62Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anak itu. 63Zakharia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: Namanya adalah Yohanes. Dan mereka pun heran semuanya. 64Seketika itu juga terbukalah mulut Zakharia, dan terlepaslah ikatan lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. 65Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal disekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. 66Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata. “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. 

 

RENUNGAN

Kelahiran  seorang anak adalah anugerah Tuhan yang sangat dinanti-nantikan oleh pasangan suami istri. Kehadiran seorang anak juga akan melengkapi predikat pasangan suami istri  sebagai ayah dan ibu. Semakin lama penantian kehadiran seorang anak maka semakin besar kurnia yang dirasakan. Saat berita kehamilan mulai dipastikan, maka si ibu sudah mulai berhati-hati dengan tubuhnya sendiri. Ada yang harus dilindungi yang berada dalam tubuhnya. Si suami berubah menjadi cerewet mengingatkan si istri untuk lebih berhati-hati dan terutama lebih memperhatikan makanan yng dikonsumsi istrinya. Semakin bertambah usia kehamilan maka semakin banyak yang dipersiapkan. Dari nama yang akan diberikan, kamar bayi, kereta bayi dan segala asesorinya.

 Saat persalinan tiba adalah saat yang membahagiakan sekaligus menggelisahkan. Sang ibu harus berjuang mempertaruhkan  nyawanya sendiri untuk kelahiran yang buah hati. Kesakitan yang luar biasa masih ditambah dengan kegelisahan bagaimanakah kondisi anak yang akan dilahirkannya. Ketika sang Bayi lahir sehat, hadir sebagai buah kasih dari suami dan istri, saat itulah segala kegelisahan lenyap hanya tinggal kebahagiaan. Orang tua juga akan segera memilih sebuah nama dari nama-nama yang pernah dipersiapkan. Nama yang dipilih pun dipikirkan dengan sangat teliti dan hati-hati, baik arti maupun pengaruh nama tersebut dengan masa depan si anak kelak. Sebab sebagaimana dalam bacaan yang kita dengar bersama, nama Yohanes dipilih sebagai doa dan harapan kedua orang tuanya.

Setelah nama dipilih, orang tua katholik masih diharuskan untuk memilihkan nama permandian bagi anaknya. Nama orang-orang kudus dipilih sebagai nama babtis tentu saja dengan harapan si anak akan meneladan hidup orang yang namanya dipilih. Pemilihan nama baptis disamping sebagai identitas diri juga berarti pujian bagi kemahakuasaan Tuhan. Seperti Zakharia dan Elisabeth yang juga memberi nama pada bayi mereka tidak berdasarkan pilihan sendiri tapi atas petunjuk Tuhan lewat pewartaan Malaikat. Nama Yohanes menjadi petunjuk atau jalan untuk menunjukkan Tuhan Yesus pada umat manusia. Bersyukurlah dan berterima kasih pada orang tua yang telah memberi kita nama yang begitu indah dan bermakna bagi perjalanan hidup kita. Marilah kita terus mengembangkan diri untuk bisa sehebat nama yang diberikan orang tua kepada kita.

 

 

Sumbangan TK Martinus dan SD Antonius 1 Semarang

 

 

Rabu,  24 Desember 2014

Lukas 1:67-79

--------------------------------

67Zakharia, ayah Yohanes, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat katanya, 68”Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia telah mengunjungi umat-Nya dan membawa kelepasan baginya; 69Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya, 70seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala lewat mulut nabi-nabi-Nya yang kudus, 71untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita; 72untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita, dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, 73yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahawa Ia mengaruniai kita, 74supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, 75dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. 76Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, 77untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, 78oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan mengunjungi kita; Surya pagi dari tempat yang tinggi, 79untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan naungan maut, untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.

.

Renungan

Suster, ibu, bapak dan sudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, apa yang kita pelajari dari bacaan hari ini? Hari ini kita diperkenalkan pada seorang tokoh besar yang bernama Zakharia. Berkat ketekunan doanya, Tuhan mengabulkan permohonannya. Istrinya mengandung di usia tua. Kelahiran sang putra pun ditandai dengan peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Zakharia bersyukur dan mempersembahkan sang putra bagi Allah. Hari ini kita mendengar` nubuatnya yang dipenuhi dengan Roh Kudus,,”…. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."

Yohanes dipilih oleh Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan Yesus. Karena teladan hidup kedua orang tuanya yang saleh, penuh iman akan kebaikan Tuhan serta ketaatan pada kehendak-kehendak dan rajin beribadah kepada Tuhan. Yohanes hadir sebagai pribadi yang penuh dengan Roh Kudus. Tuhan melepaskan umat manusia yang percaya pada-Nya dari segala hal-hal yang sesat, kejahatan dan ketidakbahagiaan. Warisan yang diberikan oleh Zakharia kepada sang putra tidaklah sia-sia. Yohanes setia melaksanakan tugas perutusan yang diterimanya. Imannya yang teguh akan karya penyelamatan Allah telah menghantarkannya menjadi sosok yang berhasil dalam melaksanakan tugas perutusannya.

Maka setiap orang tua hendaknya menjadi sosok atau pribadi yang penuh Roh Kudus, bagi putra/i-nya seperti Zakharia dan Elisabeth. Menyerahkan seluruh hidup pada Tuhan  adalah kuncinya. Mengakui kuasa Tuhan dalam hidup kita adalah jalan atau cara yang baik untuk beribadah kepada Tuhan “dalam kekudusan dan kebenaran. Tanpa bimbingan Roh Kudus,  kita akan jatuh dalam “kegelapan dan naungan maut”.  Kita dengan bimbingan Roh Kudus, hendaklah menjadi pribadi atau anak yang dapat menunjukan jalan kepada Tuhan Yesus bagi orang-orang yang ada disekitar kita, yang kita jumpai setiap hari.  Sebagaimana Yohanes telah setia dengan panggilan hidupnya, marilah kita pun tetap berjuang dengan kreatif untuk tetap setia menjadi anak-anak-Nya.

 

 

Sumbangan TK Martinus dan SD Antonius 1 Semarang

Kamis, 25 Desember 2014

Lukas 2:15-20

--------------------------------

Setelah mendengar berita kelahiran penyelamat dunia, 15para gembala berkata seorang kepada yang lain,”Marilah kita pergi ke Bethelhem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” 16Lalu mereka cepat-cepat berangkat ke Bethelhem, dan mendapati Maria danYusuf serta Bayi yang terbaring di dalam palungan. 17Ketika melihat Bayi itu, para gembala memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang apa yang dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 18Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu. 19Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hati dan merenungkannya. 20Maka, kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat; semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

 

RENUNGAN

Hari ini umat kristiani di seluruh dunia merayakan pesta Natal. Pesta kelahiran Sang Juru Selamat di tengah-tengah umat manusia. Gereja yang biasanya tidak penuh, pada pesta natal ini dewan paroki harus menyediakan tenda-tenda sampai di lapangan parkir. Jumlah umat mendadak menjadi banyak. Tentu saja ini berarti banyak persoalan. Harus menyediakan tenda, kursi tambahan, pengeras suara, petugas tatip dan sebagainya. Tetapi baiklah kita lihat dari satu sudut baiknya saja. Banyak umat yang menyambut dan mensyukuri kelahiran Sang Putra di dunia. Kelahiran-Nya telah mengngatkan kembali umat yang sudah lama tidak ke gereja untuk kembali ke dalam persekutuan umat Allah. Inilah keselamatan itu.

Maka apa makna pesta kelahiran kanak-kanak Yesus bagi kita yang sudah rajin ke gereja di setiap hari minggu dan hari-hari besar lainnya? Kemeriahan suasana pesta semoga tidak mengaburkan rahmat Natal sendiri. Natal bukan hanya sekedar mengenangkan peristiwa bersejarah yang terjadi lebih dari 2000 tahun yang lalu di suatu kota kecil di Yudea, melainkan haruslah kita pahami bahwa seluruh hidup kita hendaknya menjadi suatu “Adven atau pertobatan” dalam pengharapan yang siaga akan kedatangan Kristus yang terakhir. Untuk mempersiapkan hati kita menyambut Tuhan yang akan datang suatu hari kelak untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati; kita wajib belajar mengenali kehadiran Tuhan dalam peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari.

Para gembala sontak berseru, "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Begitu mendengar kabar`gembira yang dibawa para malaikat, mereka langsung menjawab undangan Tuhan. Mereka tidak merisaukan penampilan dan ”tetek bengek” yang kadang justru merepotkan. Sikap hati yang terbuka untuk menjawab undangan Tuhan, lebih mendorong dan menggerakkan  mereka untuk bersegera. Inilah makna Natal. Bagi kita, semoga dalam bentuk yang paling sederhana, kemeriahan pesta ini mampu menghantarkan kita untuk mendengar` dan menjawab undangan Tuhan.

Seperti para Gembala sederhana yang mampu membaca tanda bintang yang menunjukkan tempat lahirnya Tuhan Yesus, maka kita pun perlu belajar memaknai semua peristiwa sehari-hari yang terjadi dalam hidup kita. Berjuang memenangkan kebaikan-kebaikan dalam hidup kita, menjadi bintang yang mampu membawa banyak orang kepada Tuhan Yesus. Jadi, Natal tidak hanya dirayakan hari ini, tetapi setiap hari bahkan setiap saat lewat perbuatan-perbuatan baik dan sederhana yang semakin mengarahkan kita secara pasti kepada Tuhan Yesus yang telah datang, yang akan datang dan yang senantiasa datang.

Selamat datang Yesus. Damai... damailah senantiasa. Hatiku pun bersorak gembira. Tuhan bersemayam dalam hatiku. Biarlah bibirku selalu menyerukan kegembiraan dari-Mu.

 

S   E   L   A   M   A   T     N   A   T   A   L

 

Sumbangan TK Martinus dan SD Antonius 1 Semarang

Kis 6:8-10;7:54-59                                                                              Jumat, 26 Desember 2014

Mat 10:17-22

---------------------------

"Waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat"

Renungan

Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu, Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, pada hari pertama setelah pesta Natal ini, kita mengenang  pesta Santo Stefanus, seorang martir   yang begitu menyatu dengan Sang Penyelamat Dunia. Ia rela mengorbankan diri demi keselamatan jiwanya sendiri maupun jiwa sesama manusia.

"Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." (Kis 7:59), demikian doa Stefanus menjelang kematiannya ketika dilempari batu serta dicemooh oleh musuh-musuhnya. St. Stefanus tidak mengeluh kesakitan, apalagi marah kepada mereka yang membencinya, melainkan mempersembahkan diri kepada Yesus, sahabatnya. Doa Stefanus ini kiranya  mengingatkan kita semua akan pentingnya pembinaan iman bagi setiap orang. Jika kita memiliki bekal atau kekuatan iman atau spiritual yang kuat, tangguh dan handal, maka kita tak akan mudah jatuh ke dalam dosa atau tindakan-tindakan amoral.

Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk menghayati jiwa kemartiran dalam hidup kita masing-masing. Salah satu bentuk penghayatan kemartiran masa kini yang cukup mendesak misalnya  adalah 'hidup dan bertindak jujur' dimanapun dan kapanpun. Hal ini mengingat dan memperhatikan aneka kebohongan dan manipulasi maupun  'sandiwara kehidupan' yang masih marak di sana-sini. Beranikah kita untukberkata “tidak” untuk setiap ajakan berbuat tidak adil dan tidak jujur?

"Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat", demikian sabda Yesus.  Bertahan dalam iman dan kejujuran, itulah panggilan dan tugas pengutusan umat beriman, maka dengan ini marilah kita  berjuang demi kebenaran, keadilan dan kejujuran  . Ingat bahwa hidup jujur mungkin untuk sementara akan hancur, tetapi seterusnya atau selamanya akan mujur.  Pesta Santo Stefanus mengingatkan kita, bahwa kegembiraan umat Kristiani  haruslah selalu dikaitkan dengan penghayatan spiritualitas salib dan pelayanan kepada sesama manusia, karena kegembiraan kita adalah kegembiraan umat manusia yang memperoleh karunia penebusan. Oleh salib dan kebangkitan Kristus kita diselamatkan, maka kita pun wajib mewartakan keutamaan salib dan kebangkitan. Kita belajar sabar menerima salib dan penderitaan, kita belajar mensyukuri karunia kegembiraan kebangkitan Tuhan. Amin.

 

 

Sumbangan dari Sd Antonius 2 Banyumanik semarang

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar