renungan 1-11 Januari 2015

Kamis, 1 Januari 2015

Bil, 6:22-27                                                                                                                 Pekan Epifani

Luk. 2:16-21                                                              Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah

-----------------------------------------------------

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang  telah dikatakan kepada mereka. Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

 

Renungan

Selamat tahun baru. Segala sesuatu yang  baru biasanya menimbulkan kegembiraan, harapan, semangat, dan gairah hidup yang menyala-nyala. Kita baru saja merayakan kelahiran Sang Juru Selamat. Gema natal mestinya masih terus berdentang dan didentangkan dalam hati kita. Sebagaimana para gembala yang bersuka cita sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang  telah dikatakan kepada mereka, kitapun sekarang ini layak bergembira dan memuji Allah. Allah Sang Maha Raja telah berkenan hadir dalam wujud manusia sederhana untuk membebaskan kita dari belenggu dosa. Menjadi tugas kita untuk menjaga dan mengarahkan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Tradisi natal dengan goa dan keluarga Kudus di  palungan pada mulanya dimulai oleh Bapa Fransiskus Assisi. Karena cinta dan rasa hormatnya ia membuat goa natal sederhana. Dengan sepenuh hati ia ingin menghidupi kesederhanaan hadirnya Sang Juru Selamat di tengah umat manusia. Dengan goa natal sederhana yang dibuatnya, bapa Fransiskus Assisi terbantu untuk menghayati dan meresapi kesederhanaan dan kemiskinan yang dipilih Sang Juru Selamat untuk hadir di tengah umat manusia.

Hari ini kita merayakan perayaan Santa Perawan Maria Bunda Allah. Perayaan ini mau mengajak kita untuk belajar bagaimana sikap bunda Maria dalam menanggapi kehadiran sang juru Selamat melalui dirinya. Dalam keheranan dan kebingungannya, Maria menyimpan semua perkara dalam hatinya dan merenungkannya. Dalam beriman dua hal ini menjadi penting. Tidak semua hal dapat kita mengerti dan pahami. Banyak hal hanya bisa dimengerti hanya dengan percaya. Maka kesederhanaan dan kebujaksanaan untuk menyimpan setiap perkara dalam hati dan merenungkannya menjadi sangat penting.

Sekarang, disaat harapan tahun baru yang sedang membuncah dalam hidup kita, disaat rencana-rencana indah kita susun dengan penuh harapan, kiranya berkat natal yang sudah kita terima menjadi dasarnya. Biarlah harapan dan rencana indah yang ingin kita capai di tahun 2015 ini selaras dengan maksud kehadiran Sang Juru Selamat di dunia kita ini. Untuk itu marilah kita tetap mohon dalam perlindungan dan bimbingan Roh Kudus, sehingga disepanjang tahun 2015 ini kita boleh menjalaninya dengan kegembiraan. Hanya dengan demikian hidup kita akan lebih bermakna dan  semakin bermutu. Amin.

 

Tim kerja

1 Yoh. 2:20-28                                                                                                Jumat, 2 Januari 2015

Yoh. 1:19-28                                            Pw. Santo Basilius Agung dan Santo Gregorius Naziane

--------------------------------

Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: "Siapakah engkau?" Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: "Aku bukan Mesias." Lalu mereka bertanya kepadanya: "Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?" Dan ia menjawab: "Bukan!" "Engkaukah nabi yang akan datang?" Dan ia menjawab: "Bukan!" Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi. Mereka bertanya kepadanya, katanya: "Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?" Yohanes menjawab mereka, katanya: "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak." Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

 

Renungan

Suster, Ibu, Bapak dan saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, apa yang bisa kita petik dari bacaan hari ini? Yang menarik untuk kita renungkan adalah sosok pribadi Yohanes Pembabtis. Ia telah memberikan teladan kepada kita untuk tetap setia terhadap tugas dan kewajiban kita. Dengan tekun dan pantang menyerah ia tetap berseru-seru luruskanlah jalan bagi Tuhan.  Ia bekerja tidak untuk mencari popularitas diri. Ia tetap setia dengan tugas perutusannya, menyiapkan jalan bagi Tuhan. Ia sadar dan berani mengakui secara jujur perannya sebagai seorang utusan, "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak."

Belajar dari St. Yohanes Pembabtis kita ditantang untuk rendah hati dan setia dalam melaksanakan tugas perutusan masing-masing. Hanya dengan kerndahan hati dan kesetiaan dalam melaksanakan tugas kita akan dimampukan  bekerja dengan  baik. Sekarang ini, Yesus tidak lagi hadir di tengah-tengah kita dalam wujud manusia. Yesus membutuhkan kita untuk melanjutkan karya keselamatan-Nya. Kita adalah tubuh Kristus yang diutus untuk melanjutkan hidup dan karya Kristus. Kalau dunia saat ini ingin mengetahui bagaimana Yesus mengasihi bangsa Yahudi hal itu harus terlihat dalam contoh hidup yang kita lakukan. Melalui perbuatan yang kita lakukan, akan mengahantarkan orang lain mampu merasakan kembali kasih Allah.

Saat ini kita dipanggil untuk mau menyapa setiap orang, sehingga mereka boleh merasakan kasih, keramahan, kesabaran dan damai. Hanya dengan demikian mereka akan terdorong dan berani membagikan kasih satu kepada yang lain. Kita dipanggil untuk mau membuka diri terhadap kebutuhan orang lain. Kerelaan untuk menolong mereka yang menanggung beban akan  memberi keyakinan bahwa Allah sungguh mengasihi mereka. Inilah yang diminta. Yesus memanggil kita. Yesus sungguh membutuhkan kita. Semoga oleh doa restu Santo Basilius Agung dan Santo Gregorius Naziane yang kita rayakan hari ini, Tuhan berkenan memberkati dan menunjukkan jalan kepada kita agar kit tetap setia dan teguh dengan tugas perutusan kita.

 

Tim Kerja

1 Yoh. 2:29- 3:6                                                                                              Sabtu, 3 Januari 2015

Yoh. 1:29-34

----------------------------

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel." Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

 

Renungan

Tak jarang hati kita bergetar saat mendengar kesaksian dari orang lain yang mengalami kasih Tuhan. Entah itu berupa  kasih kesembuhan dari sakit, kasih pembebasan dari belenggu narkoba, kasih pertobatan dari kesesatan ataupun kasih pembebasan dari penderitaan yang menghimpit. Hati kita tergetar melihat keberanian mereka mengungkapkan sejarah hidup mereka sendiri yang buram. Hati kita tergetar oleh keyakinan bahwa mereka boleh mengalami kasih Allah melalui peristiwa itu.

Hari ini kita pun boleh mendengarkan kesaksian Yohanes Pembabtis. "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

Kita pun diundang untuk memberikan kesaksian akan Allah yang mengasihi kita. Menjadi tugas kita untuk menghadirkan kasih Allah dalam hidup sesama di sekitar kita. Ini penting mengingat Allah tidak lagi hadir dalam wujud manusia sebagaimana Yesus hadir di tengah-tengah masyarakat Yahudi 2000 th yang lalu. Kitalah yang mesti menjadi tangan-tangan kasih-Nya. Tidak mudah memang.

Bapa Fransiskus Assisi dan Ibu Magdalena Daemen telah mewariskan teladan hidup bagi kita. Kata kuncinya adalah,  kesediaan membuka diri bagi Allah untuk berkarya melalui hidup kita. Deus Providebit, Tuhan yang menyelenggarakan, bagi ibu Magdalena Daemen bukan hanya menjadi semboyan hidup, tetapi sungguh menjadi keyakinan. Dengan demikian mereka selalu mengarahkan hidup mereka untuk menemukan kehendak Allah atas hidup mereka. Dengan membuka hati bagi kebutuhan orang lain di sekitar mereka telah menghantarkan hidup mereka untuk semakin menemukan kehendak Allah sendiri. Inilah yang perlu kita wujudkan dalam hidup kita sekarang ini. Semakin terbuka untuk orang lain di sekitar kita.

Yesus datang sebagai Anak Domba Allah yang dikurbankan untuk penghapusan dosa. Ia memasukan kita dalam kekudusan-Nya melalui pembabtisan dengan air dan Roh Kudus, bahkan dengan darah-Nya sendiri dalam kurban Anak Domba di kayu salib. Demikian setiap murid-Nya dilahirkan dalam kebenaran dan kesucian sebagai anak-anak Allah yang harus dijaga dalam sluruh hidupnya. Tuhan berkati dan mampukan kami dalam kebenaran dan kesucian anak-anak-Mu. 

 

Tim Kerja

 

Yes. 60:1-4                            Minggu, 4 januari 2015                                                                                                                

Mat. 2: 1-12                                                                                        hari raya Penampakan Tuhan

----------------------

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel." Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia." Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.  

 

Renungan

Suster,Ibu, Bapak dan saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, hari ini kita merayakan hari penampakan Tuhan. Bacaan yang kita dengarkan  adalah munculnya bintang yang membantu perjalanan tiga raja dari Majus untuk sampai ke goa tempat kelahiran Yesus. Pertanyaan yang layak kita renungkan adalah mengapa justru tiga raja dari majus yang mengetahui kelahiran Sang juru selamat? Mengapa justru bukan orang Yahudi? "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."

Ada dua hal yang bisa kita petik sebagai nilai kehidupan bagi kita saat ini. Yang pertama adalah bahwa seringkali kehadiran Tuhan  bukan dengan cara dan tanda-tanda yang jelas. Seperti yang dialami tiga raja dari Majus. Mereka melihat kehadiran Tuhan melalui bintang. Tentu saja ini dibutuhkan kepekaan untuk menangkap makna hadirnya si bintang. Kepekaan hanya dapat terasah manakala kita berada dalam keheningan. Baik kiranya kita meluangkan waktu untuk keheningan. Dalam keheningan kemungkinan kita menangkap jejak kehadiran Tuhan dalam hidup kita akan lebih terasa.

Yang kedua kita melihat kehdiran bintang bukan saja menjadi tanda kehadiran Tuhan. Kehadiran bintang juga menjadi penunjuk jalan menuju kepada Tuhan yang hadir di tengah-tengah kita. Bintang penunjuk arah menuju kepada Yesus itu telah membawa kegembiraan. Saat ini kita pun diminta untuk menjadi bintang-bintang penunjuk arah menuju Yesus bagi banyak orang yang sesat di sekitar kita.  Maukah aku menjadi bintang bagi orang-orang di sekitarku?    

Tim Kerja

1 Yoh. 3:22 – 4:6                                                                                            Senin, 5 Januari 2015

Mat,  4 : 12-17, 23-25

-----------------------------

Waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap,menyingkirlah Ia ke Galilea.Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:  "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain,  bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang. Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga   sudah dekat!" Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea;   Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat   dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit   dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria   dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan,yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

 

Renungan:

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, pada umumnya orang cenderung berbuat baik kepada sesamanya  ketika hidupnya dalam keadaan aman, rejeki lancar, sehat, dsb. Sebaliknya dalam keadaan kurang beruntung  orang sulit berbuat kasih kepada sesamanya. “Saya sendiri susah bagaimana saya bisa membantu? Sayalah yang harusnya  dibantu.” Demikian alasan yang dikemukakan  orang untuk membenarkan diri ketika menolak untuk memberikan bantuan pada orang yang membutuhkan. Bahkan dalam keadaan sulit orang cenderung menuntut  pihak lain untuk menolongnya.

Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang sedang mengalami saat yang sulit. Ia harus menyingkir setelah mendengar bahwa Yohanes pembabtis telah  dipenggal oleh Herodes. Yesus  sedang terancam. Ia menyingkir ke Galilea. Saat penyingkiran itu ternyata bukan halangan bagi Yesus untuk berbuat baik.  Banyak orang berbondong-bondong untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Orang-orang sakit juga datang kepada-Nya untuk disembuhkan.  Dalam keadaan yang kurang beruntung itu Yesus melayani setiap orang yang datang kepada-Nya. Ia mewartakan kabar baik kepada orang banyak. Ia menyembuhkan orang-orang yang sakit.  Akibatnya kabar tentang Ia tersebar luas. Sebagai orang yang berada dalam penyingkiran  tersebar kabar tentang Dia  tentu membahayakan diri-Nya.  Namun Yesus masih tetap melakukan kebaikan bagi orang-orang yang membutuhkan Dia. Keadaan kurang beruntung tidak menjadi alasan bagi Yesus untuk berdiam diri ketika orang lain membutuhkan bantuan-Nya.

Saudaraku terkasih, sebagai orang Kristiani, kita diutus untuk selalu berbuat baik kepada orang yang membutuhkan Kita. Semampu yang dapat kita dilakukan, kapan, dimana dan dalam keadaan apa pun. Selagi kita masih mampu berbuat sesuatu untuk kebaikan orang lain hendaknya kita mau melakukannya. Tuhan senantiasa memperhitungkan setiap kebaikan yang kita berikan kepada sesama. Tuhan memiliki cara sendiri untuk membalas  setiap kebaikan yang kita berikan kepada orang-orang lain.

 

 

Sumbangan dari TK Marsudirini Muntilan

1 Yoh, 4:7-10                                                                                                Selasa , 6 Januari 2015

Mark. 6: 34-44                                                             Gaspar, Melkior dan Balthasar ( tiga raja)

----------------------

Ketika Yesus mendarat Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka bergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-muridnya kepadaNya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam,suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampong-kampung di sekitar ini.”  Tetapi jawabNya: “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami memberi roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? coba periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu supaya duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus ada yang lima puluh orang. Dan setelah Ia mengambil  lima roti dan dua ikan itu. Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-muridNya supaya di bagi-bagikan kepada orang-orang itu begitu juga kedua ikan itu di bagikan-bagikan Nya kepada semua orang. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

 

Renungan:

Suster, ibu bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, Injil hari ini melukiskan situasi sulit yang sedang dialami Yesus dan para murid-Nya.  Pada mulanya sejumlah besar orang yang menderita kelaparan jasmani dan rohani berbondong-bondong mengikuti Yesus. Sabda Yesus telah memuaskan dahaga jiwa mereka, tetapi bagaimana mengatasi kelaparan jasmani? Paling gampang dan aman adalah membubarkan mereka dan menyuruh meraka untuk pulang. Tetapi Yesus tidaklah demikian. Ia mempunyai hati yang berbelas kasih. Bagi Yesus dasar pelayanan adalah bergerak hati dan berbelas kasih. ”Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan...”  Yesus adalah pemimpin yang bertanggungjawab, peka dan peduli terhadap kesulitan umat-Nya.

Bagaimana Yesus memberi makan lima ribu orang itu? Yesus menerima 5 roti dan 2 ikan dari salah satu murid-Nya lalu bersatu dengan Bapa-Nya, mengucap syukur, memberkati roti dan ikan tadi, kemudian terjadilah mukjijat roti dan ikan yang melimpah dan mengenyangkan 5000 orang. Kiranya pesannya jelas. Tuhan berkenan menggunakan milik kita dalam karya pelayanan-Nya. Meskipun sedikit, hanya lima roti dan dua ikan Tuhan berkenan menggunakannya; dan buahnya banyak. Itu artinya Yesus menyapa kita semua untuk selalu peduli dan mau berbagi dengan sesama yang membutuhkan.

Ibu Magdalena Daemen juga pribadi  yang peka dan mau peduli terhadap kebutuhan teman-temannya.  Ia mau tahu dan mau mendengarkan kesulitan yang dihadapi teman-temannya. Sebagai pemimpin ia tidak sebatas mencukupi kebutuhan sehari-hari, tetapi yang jauh lebih berarti adalah kerelaannya untuk mau hadir, baik secara phisik terlebih dengan ketulusan hati untuk mau mendengar dan memperhatikan teman-temannya. Hari ini Yesus mengundang kita semua untuk terlibat dalam karya pelayanan terhadap sesama di sekitar kita. Punyakah kita sedikit hati untuk berbagi, untuk mendengarkan dan memperhatikan orang lain disekitar kita ?

Sumbangan dari TK Marsudirini Muntilan

1 Yoh. 4:11-16                                                                                                   Rabu 7 januari 2014

Mark. 6: 45-52

-----------------------------

Sesudah itu yesus segera memerintahkan murid-muridnya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu keseberang ke Bethesda senetara itu ia menyurug orang banyak pulang. Setelah ia berpisah dengan mereka ia pergi ke hulu untuk berdoa. Ketika hari sudag malam perahu itu pergi ke tengah danau. Sedang yesus tinggal sendirian didarat ketika ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakat maka kira-kira jam tiga malam ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan ia hendak melewati mreka . ketika mereka melihat dia berjalan dia berjalan diatas air mereka mengira bahwa ia adalah hantu lalu mereka berteriak-teriak sebab mereka semua melihat dia dan mereka pun sangat terkejut.tetapui segera ia berkata kepada mereka : “ tenenglah . aku ini, jangan takut !” lalu ia naik ke perahu mendapatkan mereka dan anginpun redalah.maka sdangat terkejut dan bingung sesab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti dan hati mereka tetap dengkil

 

Renungan :

Suster, ibu, bapak, dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, melalui bacaan yang kita dengar bersama hari ini, kembali Tuhan menyapa kita betapa bebal dan degilnya hati kita sebagaimana telah ditunjukkan oleh para murid. Meskipun telah mengalami mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan, mereka tetap juga belum teguh dalam iman. Dalam injil hari ini para murid mengalami ketakutan, cemas karena badai dasyat telah membuat air danau yang tadinya tenng menjadi begitu kejam dan kasar. Ketika Yesus melihat mereka kepayahan dalam melawan angin sakal yang kencang, Ia berkenan menghampiri para murid dengan berjalan di atas air. Para murid yang melihat itu semua menjadi terkejut dan ketakutan. Mereka bertambah takut karena menyangka melihat hantu. Kemudian Yesus berkata, “Tenanglah aku ini. Jangan takut.”  Yesus naik ke perahu mereka dan angin pun reda sehingga hati mereka menjadi tenang.

Hidup kita di dunia ini pun bagaikan samodra. Kadang tenang, damai, namun dilain kesempatan ganas mengancam bahkan disertai badai yang akan menenggelamkan biduk perahu kita. Gelombang yang menerpa  adalah persoalan atau kesulitan yang kita alami. Ada persoalan yang mudah kita selesaikan, namun tak jarang kita menghadapi persoalan yang tidak mudah kita selesaikan,  kita menghadapi jalan buntu dan sepertinya tidak ada jalan keluar.bahkan salib kehidupan yang dapat dengan mudah kita atasi namun ada pula yang sulit kita hadapi. Gelombang dan badai menerjang manakala satu persoalan belum selesai sudah muncul persoalan lain yang tidak kalan berat. Dalam situasi seperti ini dunia kita terasa gelap.

Kita berteriak-teriak  minta tolong. Tidak jarang kita lupa kepada Tuhan. Bahkan ketika Tuhan datang pun kita tidak mengenaliNya. Padahal Tuhan pasti datang menolong kita. Sering kali kita mengabaikan uluran kasih Tuhan. Sebagai murid Yesus mari kita belajar percaya bahwa Tuhan Yesus tak akan pernah membiarkan kita sendirian dalam menghadapi persoalan atau kesulitan hidup kita ini. Hanya Yesuslah yang mampu menenangkan gelombang badai hidup kita. Semoga kebebalan hati kita berkurang dengan sapaan Tuhan hari ini. Begitu banyak kebaikan Tuhan yang sudah kita terima. Semoga kita juga dimampukan untuk melihat dan meyakini bahwa Tuhan juga berkenan menghampiri dalam setiap persoalan hidup kita.

 

Sumbangan dari TK Marsudirini Muntilan

 

 

1 Yoh. 4:11-16                                                                                               Kamis, 8 Januari 2015 

Luk. 14:14-22

---------------------- 

Sesudah dicobai Iblis di padang gurun, dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Selama disitu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat disitu, dan semua orang memuji Dia. Lalu Ia datang ke Nazaret, tempat Ia dibesarkan. Dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya, dan setelah membukanya, Ia menemukan nas di mana tertuis: Roh Tuhan ada pada-Ku oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan pengelihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Kemudian Yesus menutup alkitab itu, mengembalikannya kepada pejabat, lalu Ia duduk dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Yesus mulai mengajar kepada mereka, kata-Nya, “Pada hari ini genaplah nas tadi sewaktu kamu mendengarnya!” Semua orang itu membenarkan Dia, dan mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya.

 

Renungan

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa terlepas dari orang lain. Sengaja atau tidak, dalam pergaulan kita ada banyak orang yang kita jumpai.   Diantara mereka yang kita jumpai, ada yang membawa kebahagiaan, ada yang membawa harapan, tetapi ada juga yang membawa kegelisahan, ada yang membawa persoalan dan bahkan ada juga yang membawa penderitaan. Begitulah kehidupan sehari-hari kita. Suka tidak suka, mau tidak mau kita akan bersinggungan dengan banyak orang. Namun demikian, ketika orang ditanya apakah pernah berjumpa dengan Allah, banyak yang dengan spontan menggelengkan kepala dan dengan yakin mengatakan, belum pernah. Pertanyaannya, benarkah Allah itu sulit dijumpai?

Sebenarnya Allah yang kita anggap sulit dijumpai itu telah bersama kita. Karena kasih-Nya yang begitu besar Ia berkenan dilahirkan sebagai Penebus dunia. Ia datang untuk menyampaikan khabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang buta dan membebaskan orang tertindas dan memberitakan tahun Rahmat Tuhan sudah datang.  Persoalannya adalah bagaimana kita bisa menyadari kehadiran Tuhan?  

Sesungguhnya kita semua diharapkan mampu menemukan kehadiran Allah dalam diri setiap orang  yang kita jumpai. Kalau kita memohon berkat dari Allah, temukan berkat Allah itu dalam relasi dan perjumpaan kita dengan sesama. Allah sendiri karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita telah mengutus Putra-Nya menjadi manusia, menjadi sesama bagi kita agar kasih-Nya makin nyata. Maukah kita mengalami perjumpaan dan relasi dengan sesama sebagai perjumpaan dan relasi dengan Allah sendiri?

       Bapa Fransiskus dan Ibu Magdalena Daemen telah memberi teladan bagi kita. Dalam  seluruh hidupnya dipersembahkan kepada Tuhan dengan melayani sesama secara  total  terutama bagi  yang lemah, miskin dan tersingkir. Kehadiran mereka selalu diharapkan dan dinanti-nantikan oleh orang-orang di sekelilingnya. Ini bukti bahwa relasi mereka dengan sesamanya sungguh sangat baik. Dan tentunya tidak diragukan lagi bahwa relasi mereka dengan Tuhan pasti baik sekali. Bersediakah kita berelasi dengan Tuhan dan sesama dengan baik?

Sumbangan dari TK Marsudirini Muntilan

1 Yoh, 5:5-13                                                                                                Jumat, 9  Januari  2015

Luk. 5:12-16

---------------------------

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.

 

Renungan

Semakin dilarang semakin penasaran orang untuk melihatnya. Itulah yang sering terjadi. Ketika sebuah film ditarik dari peredaran karena suatu alasan, maka film itu semakin banyak dicari orang. Dengan sembunyi-sembunyi orang akan berusaha untuk melihatnya. Dalam kehidupan kita sehari-hari hal ini banyak terjadi. Semakin dilarang maka akan semakin dilanggar, begitulah hukumnya.

”Eh tak kasih tahu ya tapi jangan bilang-bilang yang lain, ini rahasia.” Begitulah biasanya kalau orang mau membicarakan rahasia orang lain. Tapi benarkah orang itu tidak akan bercerita kepada orang lain? Ternyata tidak. Ia pun akan bercerita kepada orang lain lagi. Tentu saja  dengan diawali kalimat begini, ”Sebenarnya aku tidak boleh bilang-bilang, jadi aku hanya akan cerita sama kamu, tapi kamu jangan cerita kepada yang lain lho....” Demikianlah seterusnya. Cerita yang katanya ”rahasia” itu berantai dari satu orang ke orang yang lain.

Kiranya itulah yang terjadi dalam bacaan di atas. Orang kusta yang disembuhkan itu tidak mampu menahan diri untuk tidak bercerita meski sudah dilarang. Namun ini lebih dikarenakan kegembiraan hatinya yang tak terkira. Kesembuhan dari penyakit kusta merupakan berkah yang luar biasa pada jaman itu.  Bukan hanya terbebas dari penyakit fisik, tetapi juga terbebas dari penderitaan psikis karena sanksi sosial. Penderita kusta dianggap sebagai orang berdosa berat dan harus disingkirkan dan dihindari. Maka para penderita kusta harus menempati pemukiman tersendiri diluar kota. Mereka tidak boleh berhubungan dengan masyarakat umum. Jika mereka akan keluar pemukiman untuk meminta-minta mereka diwajibkan membawa bel atau klintingan dan terus dibunyikan. Dengan demikian sebelum berpapasan dengan penderita kusta orang sudah mendengar suara bel dan dapat menghindarinya. Demikianlah penderitaan psikis yang dialami penderita kusta. Maka pentahiran penyakit kusta menjadi berkah yang luar biasa bagi penderitanya.

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, penderita kusta terbebas dari penyakitnya karena mau datang kepada Yesus dan percaya akan kuasa-Nya. Sesungguhnya sangat mungkin kita pun sekaranng ini sedang menderita sakit. Entah sakit fisik, sakit hati, atau pun sakit pikiran. Kalau kita masih memiliki dendam, iri hati, curiga, mau menang sendiri, mengejar kesenangan, mudah menghakimi, memgumbar amarah dsb, sesungguhnya kita sedang sakit. Maka marilah dengan rendah hati bersujud di hadapan-Nya, membuka hati, jiwa, dan pikiran kita agar disentuh dan disembuhkan. Sebab  saat itulah Tuhan akan bersabda kepada kita, ”Aku mau engkau sembuh”

Tim Kerja

1 Yoh. 5:14-21                                                                                             Sabtu, 10 Januari 2015

Yoh. 3:22-30

-----------------------------------

Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya." Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Renungan

Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, sesungguhnya kehidupan hanya mungkin ada kalau ada kasih yang tulus. Tanpa kasih yang tulus maka sesungguhnya tidak akan ada kehidupan. Janin bayi tidak akan dapat melangsungkan hidupnya bila tidak ada kasih seorang ibu yang rela melindungi si janin  dalam rahimnya selam 9 bulan 10 hari. Bayi tidak akan dapat melangsungkan hidupnya manakala si ibu tidak merelakan asinya dan merawat dan menjaga si basyi. Demikian seterusnya sampai masa kanak-kanak dan remaja. Bahkan ketka kita sudah tua pun kita masih membutuhkan kasih seorang ibu. Ketulusan dan kerelaan seorang ibu untuk berkorban dan melayani menjadi faktor utama keberlangsungan hidup seorang anak.

Dari bacaan injil hari ini Santo Yohanes Pembabtis juga telah menunjukkan semangat kerendahan hati. Ketulusan dan semangat pelayanan Santo Yohanes Pembabtis begitu nampak jelas dalam bacaan kita hari ini. Ia tidak memegahkan diri dan tidak menganggap diri penting, karena ada orang yang jauh lebih penting, yaitu Dia yang telah mengutusnya. Yohanes dilahirkan dan diutus untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Sebagai utusan tentu saja ia lebih kecil dari yang mengutus. Ia menyadari betul akan hal itu. Maka ketika murid-murid-Nya mempertentangkan dengan pembabtisan yang Yesus lakukan, Yohanes menjelaskan dengan sangat terbuka.  Dengan rendah hati Yohanes mau mengakui tugas perutusan yang diembannya. Ia bertugas mempersiapkan jalan bagi Tuhan, maka manakala Tuhan telah hadir dengan sendirinya tugasnya telah selesai. Yohanes memberikan teladan kepada kita akan ketekunan, kesetiaan dan kerendahan hati dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Dalam pelajaran rohaninya ibu Magdalena Daemen menyebutkan Damai dengan Tuhan, damai dengan diri sendiri dan damai dengan sesama hanya dapat dinikmati oleh orang yang dengan tekun menunaikan setiap kewajiban yang dipercayakan kepadanya oleh ketaatan. Artinya kedamaian dan kebahagian hanya dapat terwujud kalau kita sadar diri dan sadar akan tugas kewajiban kita masing-masing.

Tim Kerja

Yes. 56: 1-11                                                                                              Minggu 11 Januari 2015

Mrk. 1:7-11                                                                                               Pesta Pembabtisan Tuhan

-------------------------------------

Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus." Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."

Renungan

”Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mu-lah Aku berkenan.”  Tentu saja Yesus tahu persis bahwa Ia adalah Anak Allah yang dikasihi. Maka, bagi Yesus bukan suatu keharusan untuk menerima pembabtisan dari Yohanes. Namun justru di sinilah makna kerendahan hati yang ditunjukkan Yesus. Ia tidak menggunakan kekuasaan-Nya. Yesus tidak mengambil sikap ”sok kuasa” atau pun mentang-mentang kuasa. Sekali pun sebagai Anak Allah Ia tidak berdosa, Ia tetap berkenan untuk dibabtis Yohanes. Sama seperti masyarakat Yahudi yang menerima pencurahan Roh Kudus melalui Yohanes, Yesus pun ingin sama dengan mereka. Yesus telah menunjukan solidaritasnya dengan kita manusia yang berdosa. Yesus tidak ingin merusak tatanan masyarakat yang sudah ada.

Demikian juga kisah Ibu Maria Magdalena Daemen. Seluruh perjalanan hidupnya, seluruh kerendahan hatinya, seluruh kesetiaannya, seluruh ketegarannya, seluruh penghargaannya pada sesama, seluruh ketulusannya, seluruh sifat keibuannya, seluruh kejujurannya, seluruh kelepas bebasannya akan hal–hal duniawi, seluruh kesederhanaannya, seluruh cintanya pada kongregasinya, seluruh keyakinan dan imannya beliau teguhkan dengan kebesaran hatinya menerima pergantian kepemimpinan.

Ibu Magdalena Daemen memberikan teladan bagi kita akan kerendahan hati yang tulus. Beliau menerima pergeseran kepemimpinan dengan baik dan tenang. Beliau tidak menggunakan kekuasaannya sebagai pendiri. Ia rela melepaskan pekerjaan yang menjiwai seluruh hidupnya selama ini. Ini hanya dapat terjadi karena beliau tidak pernah mementingkan dirinya sendiri. Semua yang beliau lakukan demi kemuliaan Allah Bapa di Sorga yang begitu dicintainya.

Bagaimanakah dengan diri kita saat ini? Masihkah aku terbelenggu dengan cinta diri dan kesombongan? Adakah aku cepat marah dan mudah tersinggung hanya karena persoalan kecil saja?

Inilah saatnya kita mencecap kerendahan hati Yesus yang telah solider dengan kita manusia berdosa.  Kita yang telah menerima pembabtisan, berarti telah menerima identitas baru yaitu menjadi anak-anak Allah, yang dipersatukan  dalam Kristus dan diutus dalam Roh Kudus. Melalui peristiwa babtis kita menerima pencurahan Roh Kudus yang meneguhkan. Semoga hari ini menjadi penyadaran kembali akan tugas perutusan yang kita emban. Melalui tugas-tugas yang menjadi tanggungjawab kita sehari-hari kita akan memberikan kesaksian akan Allah yang mengasihi kita. Ini tidaklah mudah. Dibutuhkan kerendahan hati dan juga keterbukaan hati untuk mau melaksanakan tugas perutusan yang sudah kita terima itu. Maka marilah kita selalu mohon pendampingan Roh Kudus dalam setiap upaya kita.

Tim Kerja

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar