renungan 12-17 Januari 2015

Senin 12, Januari 2015

Ibr. 1:1-6

Mrk. 1:14-20

-------------------------------------

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

 

Untuk direnungkan

“Menjadi penjala manusia” sebuah ungkapan yang tidak lazim. Pastilah merupakan ungkapan yang sangat menarik, apalagi kalau diartikan secara harafiah. Yang umum itu ya menjala ikan. Pekerjaan nelayan adalah menjala ikan. Bahkan bisa dikatakan seluruh kehidupannya ditumpukan pada pendapatan dari menjala ikan entah di laut, di danau, atau di sungai.

Dalam bacaan hari ini, Yesus berhadapan dengan para nelayan. Dengan cerdik Yesus nemakai ungkapan yang akan sangat mudah mereka tangkap. Padda mulanya, Yesus menyampaikan pewartaan-Nya: ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” kemudian Yesus berkata kepada para nelayan itu: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Mereka bersedia mengikuti Yesus yang baru dikenalnya itu. Mereka belum tau akan apa yang selanjutnya harus dikerjakan kalau menyerahkan hidup mereka untuk mengikuti Yesus itu. Tiba-tiba mereka mendengar ungkapan yang sangat mudah dimengerti, yaitu soal menjala atau menangkap manusia.     

Apa yang baru kita dengar melalui bacaan ini dapat menjadi bahan permenungan kita semua. Apa maksud menjadi penjala manusia? Jika dikaitkan dengan Kerajaan Allah yang sudah dekat, Yesus kiranya memanggil para murid-Nya untuk ikut ambil bagian dalam mewartakan pertobatan demi keselamatan umat manusia.  Panggilan untuk ikut serta dalam pewartaan Yesus, tidak hanya berlaku bagi para nelayan, tetapi juga kita semua saat ini. Juga anak-anak. Yesus mengajak anak-anak untuk  mengikuti Yesus. Anak-anak mengikuti Yesus berarti melakukan kehendak Yesus. Saat anak-anak melakukan kehendak Yesus berarti ikut ambil bagian dalam pewartaan. Hal-hal yang dikehendaki Yesus pada anak-anak misalnya rajin belajar, patuh pada orang tua, tidak nakal, ikut pia an sebagainya. Dengan anak-anak melakukan kehendak Yesus itu berarti anak-anak sudah melakukan pewartaan dengan memberi contoh kepada teman-teman yang lain. Para murid Yesus yang lainpun diajak ambil bagian membawa masuk mereka yang bertobat untuk percaya kepada injil agar bisa masuk ke dalam kerajaan Allah. Keikutsertaan para murid Yesus untuk mewartakan pertobatan dan percaya kepada injil itu merupakan penggilan khusus yang diterima para murid demi Kerajaan Surga

Kata Kunci      : Ambil bagian dalam mewartakan pertobatan demi keselamatan umat manusia

Sumbangan dari SD Marsudirini Muntilan.

Ibr. 2:5-12                                                                                                    Selasa, 13 Januari 2015

Mrk. 1:21b-28

---------------------------------------

Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai  tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.

 

UNTUK DIRENUNGKAN

Kuasa Allah tidak hanya datang pada waktu Yesus hadir di tengah-tengah masyarakat Yahudi pada jaman dulu, tetapi saat inipun kita dapat merasakan kuasa Allah yang begitu besar dalam hidup kita. Sesungguhnya Allah terus berkarya dalam hidup kita.  Banyak orang berkata apa yang diucapkan ataupun dikeluhkan seseorang merupakan ungkapan sebuah doa. Maka bagi mereka yang sering mengeluh kadang-kadang itu sungguh akan terjadi dalam hidupnya. Maka jangan mudah mengeluh. Pada saat secara fisik badan ini terasa capek, tetapi kalau tugas itu merupakan tanggung jawab kita, maka sudah selayaknya kalau tugas itu harus tetap kita kerjakan dengan sepenuh hati. Walau terasa berat jangan mengeluh, kita dapat memulainya sedikit demi sedikit.

Sebagai murid misalnya. Tangggung jawab seorang murid adalah belajar. Dengan tekun dan rajin belajar maka kita akan dapat menyelesaikan tugas-tugas dengan baik. Tetapi kalau malas belajar malah banyak mengeluh seperti wah pelajarannya sulit, aduh tugasnya banyak, aku masih banyak acara, lalu kalau banyak tugas begini, kapan mainnya? dan masih banyak keluhan yang lain. Yang dia lakukan hanya mengeluh dan mengeluh tanpa pernah menyentuh pekerjaannya itu. akibatnya jelas. Tugasnya semakin menumpuk, karena satu tugasnya belum dikerjakan sudah ada tugas lain yang menyusul. Semakin hari tugasnya semakin terasa banyak dan membebani hidupnya. Itulah akibatnya kalau waktunya hanya habis untuk mengeluh ...mengeluh … dan mengeluh sambil jalan- jalan seolah-olah tugasnya tidak akan terselesaikan. Memang bagi anak yang banyak mengeluh tugas itu tidak akan selesai karena memang tidak pernah dikerjakan. Berbeda dengan anak yang bertanggungjawab, ada tugas segera mengerjakan sehingga tidak sempat menumpuk.

Marilah kita tidak banyak mengeluh tetapi dengan penuh semangat segera mengerjakan tugas agar Tuhan punya kuasa membantu kita dengan menghardik setan yang yang melekat pada diri kita yang berupa kemalasan dan kejenuhan itu. Biasanya kita merasa berat kalau akan memulai mengerjakan tugas ( bahasa jawa aras-arasen ).  Ah nanti aja.... ah nanti aja .... semakin banyak nanti..... nanti ..... pasti pekerjaan semakin banyak tertunda ..... pekerjaan semakin menumpuk sehingga semakin terasa berat. Mari mulai saat ini, mulai sekarang ini juga kita mohon berkat dan berdoa dengan bantuan Roh Kudus sebelum mengerjakan tuga agar kita diberi semangat yang luar biasa untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kita. Dia yang telah memulai karya yang baik, Dia pulalah yang akan menyelesaikannya dengan penuh kuasa.

Sumbangan dari SD Marsudirini Muntilan

Ibr. 2:14-18                                                                                   Rabu, 14 Januari 2015

Mrk. 1: 29-39

--------------------------------------

Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

UNTUK DIRENUNGKAN

Kesehatan itu penting. Tidak akan ada yang membantah pernyataan ini. Kesehatan adalah salah satu problema yang banyak dihadapi banyak orang saat ini. Banyak orang tidak sehat alias sakit, entah sakit jasmani ataupun sakit rohani. Demi kesehatan berbagai macam cara ditempuh. Berobat ke dokter atau datang ke tabib atau dukun dilakukan oleh mereka yang sudah terlanjur jatuh sakit. Menjaga pola makan, pola hidup sehat, menjaga kebersihan, mengkonsumsi makanan sehat, serta banyak melakukan olah raga dilakukan mereka yang ingin menjaga kesehatan. Romo  Kirjito SJ, yang sekarang tinggal di wisma Sanjaya Muntilan, sekarang ini sedang meneliti dan mengembangkan air dengan PH tinggi yang masyarakat sekitar lebih mengenal dengan istilah air strom. Diyakini air ini akan dapat membantu menjaga kesehatan kita bila dikonsumsi dengan teratur. Belum cukup sampai disitu usaha yang dilakukan, Sebagai tindakan berjaga-jaga ketika sakit, orang juga ikut jaminan kesehatan seperti Asuransi atau BPJS yang sekarang baru ngetrend di kalangan masyarakat.

Suster, Ibu,Bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, bacaan injil hari ini juga mengisahkan tentang penyembuhan.  Pengalaman di sembuhkan oleh Yesus yang dialami ibu mertua Petrus sebagaimana kita dengar menginspirasi kita dua hal. Pertama kita bisa datang kepada Yesus mohon kesembuhan  pada saat jatuh sakit. Sudah semestinya kita datang kepada Yesus saat sakit, karena satu-satunya penjamin kesehatan kita adalah YESUS. Yesus berkuasa menyembuhkan sakit kita. Dan yangkedua adalah untuk tidak lupa untuk mengungkapkan syukur kita atas penyembuhan yang sudah kita alami. Caranya dapat dengan melakukan pelayanan sebagaimana yang dilakukan ibu Mertua Petrus. Pelayanan kita jaman sekarang dapat dilakukan dengan pelayanan dalam hidup menggerja ataupun pelayanan social dalam masyarakat.

Mari kita memperteguh iman kita dengan mengimani Dia dan menjadi pengikut-Nya.J

 

Sumbangan dari SD Marsudirini Muntilan

 

Ibr. 3: 7-14                                                                                    Kamis, 15 Januari 2015

Mrk. 1: 40-45

----------------------------------

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

UNTUK DIRENUNGKAN

“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya,  janganlah keraskan hatimu..”

Suster, Ibu, Bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, kapan kita mendengar suara Tuhan? Kapan Ia berbicara secara langsung kepada kita? Adakah kita menyadari, kapan Tuhan mengajak kita bicara? Adakah kita masih bisa mendengarkan suara-suara Tuhan dalam keseharian kita? jawaban pertanyaan ini penting dan menentukan nasib masa depan kita. baik kita belajar dari Bapa Fransiskus Assisi.

Kita mengenal St. Fransiskus Asisi yang mengalami pertobatan sejak Tuhan menyapanya. Lewat banyak hal Fransiskus mendapat sapaan dari Tuhan. Seorang pengemis yang berkata bahwa “Aku meminta hatimu, bukan uangmu” menggugah hati Fransiskus. Sapaan Tuhan yang didengarnya juga di Lembah Spoleto dalam perjalanannya ke Perugia, membuatnya mengurungkan niatnya berperang dan kembali ke rumah. Saat Fransiskus terbaring sakit, seekor burung kecil menyapanya dari jendela. Bahkan ketika ia berdoa di gereja San Damiano yang sudah hampir runtuh, melalui Salib, Tuhan berbicara lagi kepadanya. Sapaan Tuhan yang terus menerus telah mengubah hatinya. Fransiskus tidak lagi mengejar kemuliaan dunia, namun hatinya berbalik dan berpaut pada Puteri Kemiskinan yang begitu dicintainya.

Dengan demikian sebenarnya setiap hari Tuhan berbicara dengan kita dalam banyak cara. Yang paling nyata adalah lewat Bacaan Kitab Suci yang kita dengar setiap hari. Dalam bacaan yang kita dengarkan hari ini, Tuhan menyapa kita, mengingatkan kita agar tidak menjadi seorang yang keras hati terhadap sapaan-Nya. Kita juga diingatkan untuk selalu saling mengingatkan, agar jangan ada yang menjadi tegar hati karena tipu daya dosa. Orang yang menjadi tegar/keras hati, tidak akan mengalami keselamatan. Anak yang tidak mau mendengar nasehat orang tuanya, pasti mendapat celaka. Dalam berumah tangga, jika suami-istri tidak mau saling mendengarkan, tentu rumah tangga menjadi tidak lagi membahagiakan, semua merasa dirinya dan pendapatnya yang paling benar. Ini mengakibatkan banyaknya kasus perceraian yang terjadi. Murid yang tidak mau mendengarkan nasehat gurunya, tidak akan bisa menyelesaikan studi dengan baik. Kalaupun nilai akademisnya baik, tetapi sikap dan perilakunya kurang baik, pergaulannya buruk, maka akan menghancurkan masa depannya sendiri. Bila kita mau membuka hati, mendengar sapaan Tuhan lewat sapaan, teguran, nasehat dalam pengalaman hidup kita setiap hari, maka kita tentu akan memperoleh keselamatan. Ketika kita mendengar suara Tuhan dan berani datang kepada-Nya, mengakui kelemahan kita dan mohon kesembuhan daripada-Nya, tentu Ia tidak akan tinggal diam.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini mau mengulurkan tangan-Nya dan menyembuhkan orang yang sakit kusta. Ia tentu juga mau mengulurkan tangan-Nya untuk menyentuh dan menyembuhkan kita yang “sakit” karena dosa-dosa kita. Maukah kita membuka hati kita untuk mendengar-Nya? Datang kepada-Nya, untuk disembuhkan dan memperoleh keselamatan? Marilah kita tinggalkan kekerasan hati kita yang terbentuk oleh keinginan dan kepuasan pribadi kita sendiri, dan mulailah membiarkan suara Tuhan menuntun kita hingga sampai pada keselamatan yang telah disediakan Tuhan bagi kita dan membagikan Kabar Gembira keselamatan kepada banyak orang. Tuhan memberkati.

 

Sumbangan dari SD Marsudirini Muntilan

 

Ibr 4:1-5.11                                                                                                   Jumat 16 Januari 2015

Mrk 2;1-12

=======================

1Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. 2Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, 3ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. 4Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. 5Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" 6Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 7"Mengapa orang ini berkata begitu? 8Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"  9Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? 10Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? 11Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa"  —  berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu  — :  12Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."      

Renungan

Suster, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, bacaan hari ini mengingatkan saya kepada tetangga saya yang kena stroke. Sudah hampir 12 tahun ia tidak dapat berjalan dengan normal. Jarak yang hanya 300 meter, dengan amat tertatih-tatih ditempuhnya selama 30 menit, sekitar setengah jam-an. Kondisi fisik seperti ini membuatnya uring-uringan. Frustasi, kecewa, galau, dan keputusasaan selalu menyelimuti hidup hariannya. Hampir setiap hari ia memprotes, mengumpat Tuhan sehubungan dengan keadaan badannya. Kerap ia sampai memaki Tuhan dengan kata “tupaian” (dalam bahasa Jawa, kasar maknanlah ya). Stroke tmenjadikan ia semakin jauh dari kebaikan, kebenaran dan sukacita. Ia semakin jauh dari Tuhan.

Bacaan injil hari ini mengisahkan bagaimana perjuangan si lumpuh dan 4 orang yang membawanya untuk mendapatkan penyembuhan dari Yesus. Kita dapat membayangkan kesulitan yang harus mereka alami. Mengangkat tilam atu tempat tidur dengan sisakit yang terbaring ke atas atap untuk kemudian diturunkan lagi kedalam rumah. Hanya orang yang sungguh percaya yang mau melakukan ini semua. Buahnya sungguh indah. “dosamu diampuni, bedirilah, angkatlah tilammu, berjalanlah, sembuhlah.”

Injil hari ini menunjukkan orang yang jauh dari Tuhan perlu dibantu untuk dapat mendekat kepada Tuhan. Dengan kekuatan sendiri, orang yang lumpuh, orang yang jauh dari Tuhan,  tak mampulah ia mendekat pada Yesus. Ia perlu dibantu. Orang lumpuh itu digotong untuk dapat mendekat pada Yesus Tuhan. Dan Yesus menyambutnya.”Dosamu diampuni!”, kata Yesus kepada si lumpuh. Itulah solusi sejati. Sangat mungkin ada banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan dorongan atau gotongan tangan kitauntuk bertemu dengan Tuhan. Maukah kita mambantu mereka bertemu dengan Tuhan?

Tuhan aku kerap juga jauh dariMu. Akupun kerap berada di posisi si lumpuh itu. Sabda pengampuanMu biarlah mendorongku semakin dekat dan kembali kepadaMu

             Sumbangan dari SMP Marganingsih Muntilan

Ibr 4:12-16                                                                                                    Sabtu, 17 Januari 2015

Mrk 2:13-17

------------------------------------------

13 Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka.14  Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia. 15  Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. 16  Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 17  Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Renungan

Suster, Bapak, Ibu dan Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, apa yang akan terjadi ketika tepat di tengah keramaian pasar tradisional “Kliwonan” misalnya, ada teriakan:”Copetttt! Copettt!” Hampir dapat dipastikan, spontan orang akan bergabung mengejar si pencopet. Jika tertangkap apa yang akan terjadi? Bisa dipastikan si pencopet itu akan menjadi bulan-bulanan, ditendang, di pukul dan dihajar banyak orang. Bukan hanya babak belur bahkan sangat mungkin sang copet akan mampus meregang nyawa. Itulah yang sering kita lihat, kita dengar, atau pun kita baca. Ya terhadap mereka yang jahat, atau diduga jahat, orang enggan bergaul dengannya dan memberi ampun.  Kebanyakan orang jahat cenderung disingkirkan dan dilenyapkan. Tak ada hati, tak ada pengampunan, tak ada belas kasih terhadap mereka yang jahat. Tembak di tempat, dikeroyok, dicincang, dianiaya secara ramai-ramai itulah hukum yang berlaku. Padahal tindakan seperti ini tidak pernah menyelesaikan masalah. Kejahatan akan melahirkan kejahatan berikutnya.

Namun rupanya Yesus bersikap lain.  Bacaan hari ini menunjukkan sikap Yesus yang murah hati, berbelas kasih. Terhadap orang yang dianggap jahat sekalipun. Sikap Yesus adalah sikap yang masih punya hati terhadap Lewi, si pemungut cukai yang dipandang jahat oleh orang-orang sezamannya. Pemungut cukai adalah musuh masyarakat. Mereka adalah penghianat karena bekerja memungut pajak untuk kaum pejajah. Tidak hanya itu saja. Mereka juga koruptor karena memungut lebih dari seharusnya hanya untuk memperkaya diri sendiri. Yesus mau bersahabat, berlaku sebagai saudara kepada mereka bahkan sampai mau makan dirumahnya. Itulah solusi paling tepat untuk melenyapkan penjahat dan kejahatan. “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa!” kata Yesus. Apakah aku masih punya hati terhadap teman, tetangga yang jahat? Apakah aku berani bersikap berbeda terhadap orang-orang yang masyarakat musuhi?

 

 

Sumbangan dari SMP Marganingsih Muntilan

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar