renungan 18-25 Januari 2015

Minggu, 18 Januari 2015

1 Sam3:3b-10;19

Yoh. 1:35-42

--------------------              

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel." Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

 

UNTUK DIRENUNGKAN

Di atas langit ada langit begitulah ungkapan yang mau mengingatkan kita untuk tidak boleh sombong dan takabur, menganggap diri sendiri yang paling, entah itu paling kaya, paling cantik, paling pandai, paling hebat dan paling-paling yang lainnya. Pada kenyataannya selalu saja muncul tokoh-tokoh baru yang bisa mengalahkannya. Itulah yang sering terjadi. Pada dasarny orang yang paling hebat adalah orang yang tahu siapa dirinya yang sesungguhnya.

Melalui bacaan hari ini Yohanes mengajak kita untuk ”sadar diri”. Mengembangkan sikap rendah hati dan tidak ada alasan untuk bersombong-sombong ria. Yohanes menyatakan diri hanya sebagai ’utusan’ untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan. Karena memang itulah sesungguhnya tujuan ia dilahirkan ke dunia. Maka ia pun memberikan kesaksian atas kehadiran Sang Putra Allah. ”Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”

Adalah benar, Allah adalah Maha segalanya. ”Deus semper maior Est” yang artinya Allah selalu lebih besar. Yesus di sebut Anak Allah yang paling dikasihi. Namun lihatlah, meski pun sebagai putra Allah yang Maha Besar, Yesus hadir di dunia dengan segala kesederhanaan. Justru dalam kesederhanaan-Nya, Ia ditinggikan. Maka kita yang sudah dibabtis, yang berarti telah diangkat menjadi anak-anak Allah, sudah semestinya meneladan kesederhanaan-Nya dan kerendahan hati-Nya pula.

Bapa Fransiskus Assisi yang begitu mencintai Yesus pun telah memberikan teladan hidup bagi kita. Ia meninggalkan kemewahan agar dapat lebih memfokuskan seluruh hidupnya kepada Yesus yang tersalib. Ia yang tadinya mengejar kepopuleran, akhirnya memilih hidup sederhana bersama dengan orang-orang sederhana. Justru dengan itu ia menemukan ketenangan hidup. Beranikah aku meninggalkan gaya hidupku saat ini untuk dapat memberi kesaksian akan kasih Tuhan kepada setiap orang? Bukan perkara gampang memang. Maka marilah kita terus berjuang bersama. Saling mendoakan saling meneguhkan.

 

Tim kerja Yayasan

 

Ibr 5:1-10                                                                                                       Senin, 19 Januari 2015

Mrk 2:18-22

---------------------------

18Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" 19Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. 20Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. 21Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. 22Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."

 

Renungan

 

Suster, Bapak, Ibu dan Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,  pernahkah Anda melihat orang yang bersepeda motor atau bermobil, saat jalanan menurun, mesin motor atau mobil di matikan untuk menghemat bahan bakar? Sekalipun tujuannya baik itu tentu beresiko tinggi. Bukan hanya membahayakan diri sendiri tetapi juga membahayakan orang lain. Kiranya dengan mematikan mesin untuk menghemat bensin merupakan cara berpikir yang kurang bijaksana. Sebenarnya masih banyak cara berpikir salah yang terjadi di jalan raya kita. Tidak sulit bagi kita sampai saat ini untuk menemukan pengendara motor yang tidak mengenakan helm. Bahkan ada yang justru mengenakan caping atau topi. Jika orang melakukan hal itu, berarti orang itu bersepeda motor  dengan mental pengendara sepeda onthel. Orang itu tidak siap dengan mental yang semestinya dimiliki oleh para pengendara kendaraan bermotor. Pola mental pengendara sepeda onthel tak lagi cocok dengan pola mental pengendara kendaraan bermotor. Akibatnya ya runyam. Banyak nyawa melayang, padahal sebenarnya dapat dicegah jika pola pikirnya cocok.

Bacaan hari ini mengajak kita untuk memiliki pola pikir yang sesuai dengan pola pikir Yesus. Menjadi kristiani berarti memiliki pola pikir lain, pola pikir ilahi, pola pikir Yesus, pola pikir kasih, pola pikir yang lebih manusiawi. Istilah yang digunakan Yesus adalah “Anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula."

Takut terhadap thuyul, gendruwo, wewe, kuntilanak, aneka lelembut dan santhet, adalah contoh pola pikir yang tak lagi relevan bagi pengikut Yesus. Namun demikian toh masih banyak diantara kita yang tak dapat melepaskan diri dari pola pikir itu. Mengikuti Yesus berarti menjadi orang merdeka, tak lagi diperbudak dengan ketakutan terhadap peri, pocongan, babi ngesot, dkk. Mari memerdekakan diri dari semua itu, karena mereka itu takut dan tunduk kepada Yesus. Kita hanya perlu berlindung kepada Yesus. Maka marilah kita mohon perlindungan dan pendampingan dalam sepanjang perjalanan hidup kita. Amin.

 

Sumbangan dari SMP Marganingsih Muntilan.

 

 

Ibr 6:10-20                                                                                                  Selasa, 20 Januari 2015

Mrk 2:23-28

---------------------------

23  Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. 24Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" 25Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, 26bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu  —  yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam  —  dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?" 27Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, 28jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat."

 

Renungan

Suster, Bapak Ibu dan Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,  alkisah ada seorang guru rohani yang setiap kali berdoa bersama, ia selalu mengikat kucing dan meletakkan di dekat kakinya. Para murid memperhatikan hal itu. Namun tidak berani mempertanyakannya. Suatu ketika seorang murid menggantikannya dalam memimpin doa bersama. Ia pun melakukan hal yang sama dengan guru rohaninya. Ia mencari kucing dan mengikat di dekatnya. Ketika guru rohani itu sudah wafat dan digantikan, maka iapun melakukan hal yang sama. Setiap berdoa bersama selalu ada kucing yang terikat di dekat kaki pemimpin doa. Demikian tradisi yang terjadi turun temurun. Suatu ketika, penggantinya yang ke sekian ratus menetapkan jenis kucing yang harus diikat. Berapa umurnya, apa warnanya, apa jenis talinya, berapa panjangnya, bagaimana cara mengikatnya dan sebagainya.  Para murid dan guru rohani sibuk berdiskusi dan berdebat soal kucing dan  tali yang harus digunakan dalam perlengkapan doa. Ada hukum yang mengikat mereka, kalau persyaratan itu tidak terpenuhi maka doa mereka tidak sah.

            Bacaan hari ini mengajak orang untuk kembali ke roh sejati. Yang utama bagi manusia bukan aturan, tetapi kebersamaan, persaudaraan dan yang lebih utama adalah kehidupan. Seperti dalam cerita awal. Kenapa guru rohani itu mengikat kucing di dekatnya? Alasan awal sebenarnya sangat sederhana. Kucing itu peliharaan si guru sendiri. Ia selalu mengikuti kemanapun sang guru pergi. Ia selalu berada di dekat kaki sang guru. Karena sering mengganggu konsentrasi dalam berdoa, maka guru rohani pertama itu mengikat kucing di dekat kakinya saat berdoa bersama. Si kucing tetap tenang karena ada di dekat dikaki sang guru. Maka sebenarnya tak pernah terpikirkan mengenai jenis kucing, bobot kucing, umur kucing atau tali yang digunakannya. Yang utama adalah kebersamaan, persaudaraan dan kehidupan. Inilah semangat dasar sejati. Inilah roh kehidupan. Bukan aturan yang memasung, memperbudak dan mematikan kebersamaan, persaudaraan dan kehidupan.

Bagaimanakah sikap kita selama ini terhadap aturan bersama kita?

 

 

Sumbangan dari SMP Marganingsih Muntilan

Ibr 10:11-18                                                                                                   Rabu, 21 Januari 2015

Mrk 3:1-6

--------------------------------------------

1Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. 2Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. 3Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" 4Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. 5Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. 6Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

 

Renungan

Suster, Bapak Ibu dan Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,  dalam keseharian kita, manakah lebih mudah terlihat, kesalehan ritual ataukah kesalehan sosial? Manakah yang lebih cepat mendatangkan kemarahan, komuni suci diremet-remet atau pembantu rumah tangga yang diseterika dan disiram air keras? Manakah yang menyulut kerusuhan, peralatan ibadat yang tak sengaja terinjak ataukah pemalakan terhadap tenaga kerja?

Bacaan hari ini mengingatkan bahwasanya mereka yang senantiasa berada dalam tempat ibadat mestinya juga semakin menjadi suci, menjadi semakin manusiawi dan sempurna hidupnya. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Hal-hal yang berbau keagamaan sering menjadi formalitas untuk melegalkan kejahatan ataupun konflik berkepanjangan. Yesus mengembalikan semangat religiusitas umat beragama, semangat “being religious”. Menjadi religius jauh lebih mendasar dan lebih penting dari pada menjadi beragama. Mari kita semakin menjadi lebih beriman, lebih kristiani dari pada sekedar beragama katolik.

Kepada para Suster seringkali Ibu Magdalena Daemen berkata, Tuhan itu baik, sangat baik. Hal-hal yang paling kecil dan sederhana menjadi besar artinya dimata Allah. Tuhan melihat hati kita, bukan pekerjaan yang kita lakukan. Dengan penuh kasih diajaknya mereka untuk mendalami semangat Fransiskan dan tekun melaksanakannya. Pakaian dan status biarawati  bukanlah tujuan hidup mereka. Pakaian hanyalah tanda dan sarana yang dapat mengingatkan mereka akan status dan niat yang telah mereka tetapkan sendiri. Tetapi harus disadari bahwa ini hanyalah niat awal yang  tak akan berarti apa-apa bila dalam kehidupan selanjutnya tidak menampakkan tindakan nyata sebagaimana niat awalnya. Bagi Ibu Magdalena Daemen  isi jauh lebih bermakna daripada kulitnya. Dibimbingnya para Suster untuk tetap teguh dan setia dengan pilihan hidup yang sudah mereka tentukan sendiri dibawah bimbingan Roh Kudus.

Pelajaran Ibu Magdalena Daemen ini juga penting untuk kita,   bukan bentuk lahiriah yang bersifat duniawi yang menentukan kualitas hidup seseorang. Yang sungguh berarti dalam hidup kita bukanlah apa yang kita katakan, kita lakukan apalagi yang baru  kita rencanakan. Perbuatan yang baik sekalipun tidak akan bermakna apa-apa bila tidak disertai dengan niat yang tulus. Dalam beriman, bukan pengetahuan dan ketaatan mati akan hukum sebagai ukurannya. Hukum Taurat dan hukum-hukum yang lain, dibuat supaya hidup kita menjadi lebih bermutu. Juga dihadapan Tuhan. Maka dalam menjalankan ketaatan kepada hukum haruslah dilandasi kesadaran dan niat baik. Taat hukum dan aktif menggereja hanya supaya dianggap orang baik  tidak ada artinya.

Sumbangan dari SMP Marganingsih Muntilan

Ibr 7:25- 8:6                                                                                                 Kamis, 22 Januari 2015

Mrk 3:7-12

---------------------      

7Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, 8dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. 9Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. 10Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. 11Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah." 12Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia

Renungan

Yesus telah menerima tugas perutusan Allah Bapa untuk lahir ke dunia, mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah sudah dekat bahkan sudah hadir secara nyata saat ini. Kehadiran Yesus sebagai kehadiran Kerajaan Allah menyebabkan hari ini, masa kini berarti dan memperoleh urgensinya. Persoalan aktual masyarakat menjadi pusat perhatian-Nya. Kemiskinan, derita dan kemelaratan manusia yang dijumpai-Nya setiap hari ditanggapi-Nya dengan segera. Dengan demikian Yesus tidak hanya menghibur dengan janji kebahagiaan yang akan datang. Lewat perbuatan kongkret yang dapat mereka rasakan ,Yesus menunjukkan bahwa Kerajaan Allah itu bukan janji tetapi sungguh sudah dapat dialami dan  dirasakan.

Orang sakit disembuhkan, yang buta dapat melihat, yang lumpuh dapat berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang mati dibangkitkan dan orang lapar dikenyangkan, orang berdosa diampuni. Inilah beberapa mukjizat yang telah Yesus lakukan. Melalui warta dan kehadiran Yesus di tengah-tengah bangsa Yahudi dapat diketemukan penghargaan, dapat diketemukan pengampunan, dapat diketemukan kesembuhan, dapat diketemukan pembebasan, dapat ditemukan pengharapan, dapat diketemukan cinta kasih, dapat diketemukan kedamaian.  Maka dengan demikian sebenarnyalah bahwa warta dan perbuatan Yesus adalah kabar baik Kerajaan Allah bagi umat manusia. Dengan begitu Kerajaan Allah sungguh bisa hadir dan dirasakan di tengah umat manusia.

Ibu Magdalena Daemen mampu melihat kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Bukan hanya mampu melihat tetapi juga berani menjawabnya.  Melihat penderitaan masyarakat miskin di sekitarnya, Ibu Magdalena Daemen datang Beliau bekerja ditengah-tengah kaum  membantu mereka. Menjahitkan baju, merawat yang sakit dan membimbing anak-anak dengan memberi kegiatan yang bermakna dan bermanfaat bagi masa depan mereka. Kehadirannya dirasakan membantu meringankan beban mereka. Kehadirannya menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Bagaimanakah dengan diri kita saat ini? Mampukan kehadiranku membawa berkat bagi orang-orang di sekitarku?

 

 

Tim Kerja

 

Ibr 8:6-13                                                                                                      Jumat, 23 Januari 2015

Mrk 3:13-19

=======================

13 Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan merekapun datang kepada-Nya.14Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil 15dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.16Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, 17Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, 18selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, 19dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

 

Renungan

Hewan apa yang paling ramah dan rukun dengan sesamanya? Tentu saja Anda berhak memberikan jawaban sesuai pengalaman Anda sendiri. mulanya saya menganggap anjinglah binatang paling ramah dan paling ruun dengan sesamanya. Namun satu pengalaman tak sengaja mengubah jawaban saya. Suatu saat tanpa sengaja saya mengamati seekor semut yang menemukan makanan yang besar dan tidak mampu diangkatnya sendirian. Maka ia berlarian kesana kemari. Dan saat bertemu dengan semut yang lain ia akan berhenti dan sepertinya berkomunikasi. Kemudian mereka akan bersama-sama menuju ke makanan dan mencoba mengangkatnya berdua. Manakala belum kuat juga, mereka akan berlarian lagi mencari teman-teman yang lain. Ketika bertemu akan saling menyapa, dan kemudian berkumpul di sekitar makanan untuk mengangkatnya. Demikianlah, semut-semut  itu bekerja sama dengan sangat apik. Sungguh luar biasa. Beban yang jauh lebih besar dari ukuran tubuh  mereka itu sedikit demi sedikit berhasil mereka tarik menuju ke sarangnya. Kuncinya adalah kerjasama.

Suster, Ibu, Bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, bacaan hari ini mengingatkan kita akan arti pentingnya kerja sama. Yesus mengajak para murid-Nya untuk terlibat dalam karya perutusan-Nya. Yesus memanggil dan menetapkan 12 orang dari para murid untuk menjadi tim inti dalam melaksanakan tugas perutusan, mewartakan karya penyelamatan Allah. Apa yang bisa kita petik? Salah satunya adalah kesediaan untuk menerima orang lain dan kepercayaan akan kemampuan mereka untuk melaksanakan tugas. Tanpa ini tidak akan pernah terjadi kerja sama yang baik.

Sikap dasar yang dikembangkan Ibu Magdalena Daemen adalah selalu menganggap orang lain sebagai anugerah dari Allah sendiri. Mereka dikirim Tuhan untuk menjadi patner, menjadi rekan kerjanya untuk mengabdi kepada Allah sendiri. Dengan demikian setiap orang ditanggapi dengan ramah dan penuh penghargaan.  Baik kalau sekarang kita bertanya kepada diri kita sendiri, bagaimanakah sikap kita terhadap teman-teman kita selama ini? Adakah aroma persahabatan yang kita tebarkan? Ataukah justru persaingan dan permusuhan yang selalu kita gelorakan? Saatnya bagi kita untuk merenungkan bersama.

Tim Kerja

 

 

 

 

Ibr 9:2-3.11-14                                                                                            Sabtu, 24 Januari 2015

Mrk 3: 20-21

------------------------------------------

20Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. 21Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

Renungan

Suster, Ibu, Bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Krsitus, bacaan hari ini sangat pendek. Tidak banyak informasi yang kita dapat. Hanya mengkisahkan keluarga dan kaum kerabat Yesus yang datang hendak mengambil Yesus dari kerumunan banyak orang. Mengapa mereka hendak mengambil Yesus?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut baik kalau kita renungkan hubungan antar anggota dalam keluarga. Ikatan batin yang kuat antara anggota keluarga terbentuk dan dibangun dalam kehidupan bersama dari masa kecil mereka. Bermain bersama, makan makanan yang sama, tidur di tempat yang sama serta mengalami  pola asuh yang sama. Tidak berlebihan kalau dikatakan orang belajar mencintai dan merasa dicintai pertama kali dalam keluarga.  Saling memperhatikan,  saling menolong,  saling peduli tumbuh pertamakali dalam keluarga.  Inilah yang akan menghasilkan kedekatan dan iktan batin yang kuat antar anggotakeluarga.

Rasa persaudaraan, solidaritas, kebersamaan, dan senasib seperasaan dalam keluarga akan tumbuh subur manakala salah satu anggota keluarga kita mengalami musibah atau mendapatkan persoalan. Lihat saja ketika salah satu keluarga kita sakit, maka seluruh anggota keluarga akan berkumpul. Bahkan yang bertempat tinggal di lain tempat meskipun jauh akan meluangkan waktu untuk dapat berkumpul. Ini semakin terasa ketika salah satu anggota keluarga besar kita ada yang meninggal dunia. Musibah, persoalan berat, sakit atau kematian memang dapat menjadi sarana untuk berkembang suburnya rasa kebersamaan, solidaritas, persaudaraan dalam keluarga atau komunitas.

Ini juga terjadi dalam keluarga Yesus. Pada waktu Yesus mulai mengajar dan banyak melakukan mukjizat, semakin banyak orang yang mengikuti Dia. Dari sekian banyak orang yang mengikuti tidak semuanya menyukai-Nya. Ada juga sekelompok orang yang bermaksud jahat. Mereka adalah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kehadiran Yesus yang  semakin banyak menarik perhatian dianggap akan menurunkan popularitas dan pengaruh mereka dikalangan bangsa Yahudi. Maka kehadiran mereka lebih untuk mengacau atau mencari-cari kesalahan Yesus untuk menjatuhkan-Nya. Segala cara mereka tempuh untuk menjatuhkan reputasi Yesus, termasuk mengatakan-Nya kerasukan setan dan tidak waras. Mengetahui hal ini keluarga Yesus sangat khawatir. Itu sebabnya mereka berusaha untuk mengambil Yesus dari kerumunan orang. Mereka ingin menyelamatkan Yesus.

 

Tim Kerja

 

1 Kor. 7:29-31                                                                                          Minggu, 25 Januari 2015

Mrk. 1:14-20

----------------------

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.

Renungan

Suster, Ibu, Bapak dan sauadra-saudariku yang terkasih dalam kristus, bacaan hari ini mengisahkan bagaimana Yesus merekrut atau memanggil para Rasul untuk turut serta dalam melaksanakan tugas perutusan  yang diterimaNya dari Allah Bapa-Nya di Sorga. Yesus juga membutuhkan orang lain untuk bersama-sama mewartakan karya penyelamatan Allah di dunia ini. Sekarang, setelah periode para Rasul berakhir, tugas perutusan itu dilanjutkan oleh Gereja. Dengan demikian sebagai anggota gereja, kita pun menerima tugas perutusan untuk mewartakan kabar gembira, kabar keselamatan Allah. Sikap yang bagaimana yang dibutuhkan dalam menerima tugas perutusan ini?

Kiranya sikap simon Petrus dan Andreas saudaranya, Yohanes dan Yakobus saudaranya, sebagaimana kisah yang kita dengar dalam bacaan hari ini dapat menjadi inspirasi sekaligus teladan bagi kita semua. Mereka segera meninggalkan jalanya, meninggalkan ayahnya, meninggalkan perahu dan orang-orang upahannya untuk mengikuti Yesus. Mengikuti dan menyertai Yesus berarti bertindak dan bersikap seperti Yesus. Mengikuti dan menyertai Yesus berarti juga turut ambil bagian dalam karya dan tugas Yesus.

Penting untuk digaris bawahi adalah kata segera. Kenapa kita seringkali sulit untuk memulai hal baru? Salah satu sebabnya adalah kita terlalu banyak pertimbangan yang tidk perlu. Sering kali kita terjebak mempertimbangkan kesulitan-kesulitan yang akan kita hadapi. Kita terjebak mempertimbangkan kerugian yang akan kita derita. Kita mempertimbangkan kehilangan yang harus kita alami. Tak jarang pertimbangan-pertimbangan ini bukan hanya menunda sikap kita, lebih tragis lagi, kita membatalkan niat baik kita.

Bapa Fransiskus Assisi dan Ibu Magdalena Daemen pun berani membebaskan diri dari keterikatan harta dan pekerjaan untuk dapat mengikuti Yesus. Ibu Magdalena Daemen berani meninggalkan segala kenyamanan yang sudah dimilikinya di kota Maeseyck untuk menuju ke Heythusen. Sekalipun ketidakpastian masih menghantui, namun beliau tegas berprinsip, Tuhan sendiri yang menghendakinya untuk berkarya di Heythusen. Maka pergilah beliau dengan mantap. Demikian juga dengan Bapa Fransiskus Assisi, beliau berani melepaskan segala kemewahan dalam keluarganya, bahkan sampai berani melepaskan hak waris atas kekayaan orang tuanya yang berlimpah karena hendak memulai hidup dalam pertobatan. Mereka telah memberikan teladan keberanian untuk meninggalkan cara hidup yang lama untuk memulai cara hidup yang baru. Bagaimana dengan diri kita masing-masing?

 

                                                                                                                                                                               Tim Kerja

 

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar