renungan 26-28 Januari 2015

Senin, 26 Januari 2015

Ibr 9:15.24-38

Mrk 3:22-30

---------------------------

22Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." 23Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? 24Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, 25 dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. 26Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya.

27Tetapi tidak seorangpun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. 28Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. 29Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal." 30Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

Renungan

Yang namanya godaan itu pasti menarik, kalau ndak menarik  mana bisa menggoda? Begitulah kira-kira logikanya. Dan nampaknya roh jahat atau setan memiliki keahlian khusus dalam hal ini.  

Kemasan yang dipakai sungguh sangat menarik.  Sulit kok bagi kita membuat alasan untuk menolaknya. Setan memang sangat pandai memilih cara untuk menjebak kita. Daya tariknya begitu kuat karena sesuai dengan selera dan kebutuhan kita saat itu.  Seringali kita sendiri tidak sadar bahwa kita sudah tergoda, baru setelah peristiwanya berlalu kita menyadari kalau sudah jatuh kedalam jeratan setan.

Contohnya yang dialami seorang pelajar yang bernama Anton. Dia anak yang baik. Dia tidak pernah mencontek. Hari ini ulangan matematika. Beberapa soal belum bisa diselesaikannya. Saat sedang berpikir keras tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Budi yang duduk di seberang mejanya. Budi tersenyum dan Antonpun membalasnya. ”Piye bisa?” tanya Budi berbisik. ”Lumayanlah.” jawab Anton.

”Oooooo siplah. Apakah semua ada jawabannya?” kembali Budi bertanya.

 ”Sepertinya ada.” jawab Anton.

”No 5 sudah tak hitung berulang kali kok ndak ada jawabannya?” tanya Budi kembali.

”Aku ketemu.” kata Anton.

”Masak sih...emange jawbannya berapa?” kembali Budi bertanya.

”punyaku 2,75. Jawaban A.” kata Anton.

”Ooooo...OK thanks. Punyamu yang belum ketemu no berapa?”  

 ” No 4 dan 7 belum ketemu nih.” kata Anton.

”Punyaku ketemu. A dan E.” kata Budi.

”Thanks....” Jawab anton sambil menuliskan jawaban Budi pada lembar jawab miliknya.

Begitulah cara kerja setan, kadang sangat halus tapi mematikan. Kaum Farisi dan Ahli-ahli taurat juga sudah terjebak karena ketakutan akan kehilangan pengaruh. Maka kebencian tumbuh subur dalam hati mereka. Tanpa mereka sadari mereka telah jatuh ke dalam dosa yang tak terampuni karena menghojat Allah. Tuhan semoga hati kami semakin terbuka untuk kehadiran-Mu dalam hidup kami.

Tim Kerja

Ibr 10:1-10                                                                                                    Selasa, 27 Januari 2015

Mrk 3:31-35

---------------------------

31Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. 32Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: "Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau." 33 Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?" 34Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! 35Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Renungan

Ketika masih kecil dan masih tinggal bersama dengan kedua orang tua, aku akan menyebut nama-nama adik dan kakakku bila ditanya siapakah saudaraku. Memang merekalah saudara-saudariku yang sesungguhnya. Kami tinggal serumah, saling memperhatikan, saling membantu dan saling menyayangi meski tidak jarang juga saling berkelahi. Searang setelah menginjak dewasa satu demi satu kam membangun keluarga sendiri. Kami tinggal ditempat yang berjauhan. Bagiku mereka tetap saudara-saudariku. Namun bila ditanya siapakah saudara terdekatku maka aku akan menjawab tetanggaku. Aku sungguh merasakannya kalau tetanggakulah saudaraku terdekat saat ini. Merekalah yang datang pertama kali memberi pertolongan ketika aku tertimpa musibah. Ketikaq aku jatuh sakit, tetanggakulah yang membawaku ke rumah sakit dan mengurusnya. Mereka sudah seperti saudara sendiri, begitu aku sering menyebutnya saat memperkenalkan tetanggaku kepada orang lain.

Suster, ibu, Bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus, bacaan hari ini juga membahasa mengenai pengertian saudara. Yesus memberikan pemahaman yang lebih luas pengertian saudara, tidak sebatasa hanya mereka yang memiliki pertalian darah saja. “Barang siapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." Itulah pengertian saudara yang dijelaskan Yesus melalui bacaan injil hari ini.  Syarat untuk dapat menjadi saudara Yesus adalah kemauan untuk melakukan kehendak Allah. Tentu saja syarat ini terbuka dan berlaku bagi siapa saja yang mau.

Marilah kita terus berjuang untuk dapat melaksanakan kehendak Bapa agar bisa menjadi saudara Yesus. Tidak gampang memang. Dibutuhkan usaha keras dari kita dan bimbingan dari Roh Kudus untuk menuntut setiap perjalanan hidup kita.  Bekerja sama dengan yang lain, saling membantu, saling meneguhkan dan saling mengingatkan kiranya akan sangat membantu. Amin.

 

Tim Kerja

 

Ibr 10:11-18                                                                                                                                   Rabu, 28 Januari 2015

Mrk 4:1-20

--------------------------------------------

1Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. 2Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: 3"Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. 8Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat." 9Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!" 10Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. 11Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, 12supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun." 13Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? 14Penabur itu menaburkan firman. 15Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. 16Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, 17tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. 18Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, 19lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 20Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."

 

Renungan

Mendengarkan ternyata bukanlah pekerjaan yang mudah. Buktinya Kita di dalam kelas-kelas, banyak siswa yang asyik dengan dirinya sendiri atau asyik ngobrol dengan teman sebangku ketika guru sedang memberikan penjelasan. Hari ini Yesus menegur kita soal mendengar ini. Dengan perumpamaan penabur yang menaburkan benih,Yesus menjelaskan sikap hati kita saat mendengarkan sapaan dari Allah sendiri. Benih merupakan firman Allah, sedangkan tanah tempat jatuhnya benih adalah sikap hati yang mendengarkan. Benih ada yang jatuh di jalan, di tanah berbatu, di semak berduri dan di tanah yang subur. Tanah yang subur adalah sikap hati yang siap untuk mendengarkan sapaan dari Allah. Mendengar belum tentu mendengarkan. Dalam mendengarkan ada upaya aktif dari kita untuk mau mendengar dan mencerna dan mengendapkan dalam hati kita. Tentu saja ini membutuhkan kesediaan untuk membuka hati dn budi kita untuk penaburan firman.

Di tengah kesibukan aktivitas keseharian kita, maukah kita untuk meluangkan sedikit waktu tenang dalam keheningan? Menjalin relasi dengan Tuhan. Yesuspun perlu mengundurkan diri kebukit untuk berdoa di tengah-tengah kesibukan-Nya mengajar.

 

Tim Kerja

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar