Renungan 17 Mei 2016

Selasa, 17 Mei 2016

Bacaan 1         : Yak. 4: 1-10

Mazmur          : 55:7-8;9-10a;10b-11a

Bacaan Injil    : Mark. 9: 30-37

------------------------------------------

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit." Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?" Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya."  Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: "Barang siapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barang siapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku."

Renungan:

Suster, ibu, bapak dan saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus selamat pagi, berkah Dalem. Tidak mudah bagi kita untuk memberitahukan kabar buruk kepada orang lain. Apalagi kalau kabar itu menyangkut apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Pasti mereka akan menegur kita, “Jangan mendahului kehendak Tuhan. Atau dalam bahasa jawa diistilahkan ngalub.  Inilah yang dialami Yesus sebagaimana kita dengarkan dalam bacaan injil. Yesus menyampaikan  kabar buruk kepada para murid karena sudah menjadi kehendak Tuhan. Kepada para murid secara khusus Yesus memberitahukan tentang penderitaan yang harus Ia jalani. Ini adalah pemberitahuan kedua. Namun para murid tidak menanggapi kabar itu dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak mau menerimanya. Mereka sudah punya angan-angan mengenai raja besar dalam diri Yesus. Maka mereka justru memperdebatka siapa yang akan menjadi yang terbesar ketika Yesus telah menjadi maha raja.Yesus menanggapi perbicangan para murid yang ingin menjadi terbesar dengan mengambil seorang anak kecil ditengah-tengah mereka. Yesus menegaskan kalau mau menjadi terbesar, hendaklah menjadi yang terkecil. Yang mau menjadi terbesar hendaklah ia melayani bukan dilayani.

Bapa Fransiskus Assisi, telah menunjukkan  teladan yang luar biasa bagi kita dalam mencintai dan mengabdi Tuhan. Ia meninggalkan segala-galanya untuk menjadi hamba Tuhan dan menjadi pelayanan-Nya. Melalui pelayanannya kepada mereka yang menderita kusta, ia hadir sebagai pelayan. Memandikan, membersihkan dan membalut luka-luka mereka dengan penuh kasih tanpa rasa jijik sedikitpun. Pelayanan  yang penuh kasih yang ia lakukan menjadikan ia sungguh dicintai dan dikasihi banyak orang sampai saat ini. kehairannya sungguh mencerminkan kehadiran yesus yang sungguh mencintai umat manusia.

Bapa Fransiskus Assisi doakanlah kami, agar kami dapat mengikuti teladanmu dengan melayani sesama kami dengan penuh kasih. Amin.

Renungan dari SMP Maria Immacullata Jogyakarta

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar