Renungan 23 Mei 2016

SENIN , 23 April 2016

Bacaan I          : 1 Petrus 1 : 3-9

Mazmur          : 111:1-2.5-6.9.10c;R.5b

Bacaan Injil    : Mrk. 10:17-27

--------------------------------------------------

Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?“ Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!“ Lalu kata orang itu kepada-Nya: “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.”Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.“ Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa,  lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin , tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi  Allah.”

Renungan

Suster, bapak ibu Guru, bapak ibu karyawan serta anak-anakku yang terkasih selamat pagi,  Berkah Dalem. Ketika membaca Injil hari ini, mungkin kita pun akan mengalami kegoncangan sebagaimana yang dialami para murid saat mendengarnya. Ketaatan terhadap perintah-perintah Tuhan ternyata tidak cukup untuk masuk kedalam kerajaan Surga. Itu sabda Yesus sendiri sebagaimana yang Yesus kepada orang kaya yang datang kepada-Nya. Ketika sudah menjalankan seluruh perintah Tuhan yang sebenarnya tidak mudah kita laksanakan itu ternyata masih ada satu kekurangan. Dia tidak bisa menjual semua harta dan memberikannya kepada orang miskin dan sesudah itu mengikuti Yesus. Kepada semua murid-Nya Yesus berkata: “Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Apakah hal itu berarti bahwa orang kaya tidak bisa masuk ke Surga?

Lubang jarum adalah metafor untuk pintu samping  di sebelah pintu utama masuk kota. Jika manusia melewati pintu utama yang besar, maka onta yang menjadi alat pengangkut harus melewati pintu samping. Pintu ini sempit maka sering disebut lobang jarum. Onta hanya dapat melewati pintu ini jika seluruh beban yang dibawanya diturunkan. Maka sabda hari ini mau mengajrkan arti lepas bebas dari keterikatan harta benda. Bapa Fransiskus Assisi adalah salah satu orang yang mampu sabda Yesus ini. Bapa Fransiskus Assisi telah meninggalkan semua harta bendanya untuk mengikuti Yesus secara Radikal. Dia mampu meninggalkan semuanya dan hidup seturut Sabda Yesus.

Melalui bacaan hari ini kita diingatkan akan arti harta milik kita. Sebab tidak jarang harta kekayaan menjadi batu sandungan bagi kita untuk menuju keselamatan.  Karena orang kaya bisa saja salah arah dengan menggantungkan kehidupannya pada kekayaan dan bukannya kepada Tuhan sebagai penjamin kehidupan. Jadi, persoalannya bukan kaya atau tidak melainkan apakah seseorang mengandalkan hidupnya pada Tuhan atau tidak. Kita bisa saja kaya, tetapi kalau kita memperoleh dan menggunakannya dengan baik, kita tetap berhak masuk ke dalam  Kerajaan Surga. Kekayaan yang kita miliki sesungguhnya adalah bukti kemurahan Allah kepada kita. Dengan harta yang banyak itu berarti besar kasih kemurahan Allah yang kita terima dan itu menjadi sarana bagi kita untuk semakin mudah membagikan kasih kemurahan Allah kepada sesame kita. Maka jadilah orang kaya yang bisa masuk kerajaan surga dengan mulus. Roh Kudus yang akan mengajarkan kepada kita.

 Renungan dari SMA Santa Maria Jogyakarta

Berita Terkait

Belum Ada Komentar

Isi Komentar